Nuwo Sesat, Rumah Tradisional Tempat Diselenggarakannya Berbagai Kegiatan Adat Lampung

Nuwo Sesat, Rumah Tradisional Tempat Diselenggarakannya Berbagai Kegiatan Adat Lampung
info gambar utama

Tanggal 18 Maret adalah hari jadi Lampung, menginjak usia ke-58 semenjak pertama kali diresmikan sebagai Provinsi pada tahun 1964. Meski terbilang masih jauh matang dibanding provinsi atau bahkan kota-kota besar di Indonesia yang sudah berusia hingga ratusan tahun, namun Lampung sudah berhasil memiliki sejumlah pencapaian besar yang membuat wilayah ini cukup dikenal hingga mancanegara.

Beberapa hal yang membuat Lampung banyak disorot di antaranya adalah status sebagai lokasi penghasil biji kopi terbaik, yakni robusta, terutama di sejumlah wilayah khusus seperti Liwa, Lampung Barat, Pesawaran, dan Tanggamus. Bahkan, kualitas kopi Lampung juga sudah diakui dunia.

Selain itu, Taman Nasional yang berada di Lampung yakni Taman Nasional Way Kambas (TNWK) juga berhasil menjadi lokasi dari sekolah gajah pertama di Indonesia sejak tahun 1985, dan ditetapkan sebagai kawasan Taman Warisan ASEAN (ASEAN Heritage Park).

Terlepas dari kondisi tersebut, Lampung tetap menjadi salah satu provinsi kebanggaan Indonesia dengan kekayaan budaya yang beragam, mulai dari kain tradisional, upacara adat, hingga rumah adat.

Bicara soal rumah adat, tak kalah dengan provinsi lainnya Lampung juga memiliki rumah tradisional yang tak kalah indah dan masih dicintai oleh masyarakat Lampung sendiri hingga saat ini, yakni rumah Nuwo Sesat.

Rumoh Aceh, Arsitektur Rumah Adat Tahan Gempa yang Awet 200 Tahun

Tempat musyarawah bagi penyeimbang adat

Resmi ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2015, rumah adat Lampung ini juga memiliki berbagai keunikan dari segi arsitektur dan fungsi yang patut dilestarikan.

Dulunya, nuwo sesat memiliki fungsi sebagai tempat pertemuan bagi para penyeimbang adat untuk musyawarah. Di rumah-rumah inilah, para pemangku adat dan mereka yang terlibat bersama-sama menyelesaikan masalah serta mencari jalan keluar terbaik dengan prinsip kekeluargaan.

Selain untuk musyawarah, sebenarnya nuwo sesat juga biasa digunakan untuk menggelar berbagai kegiatan adat seperti menyelenggarakan pernikahan, kegiatan seni, dan sederet upacara adat lainnya.

Sementara itu jika bicara mengenai wujudnya, nuwo sesat memang memiliki tampilan berupa rumah panggung seperti halnya beberapa rumah adat dari sejumlah daerah lain.

Namun bukan tanpa alasan, kebiasaan tersebut dilakukan karena dulunya nuwo sesat biasa dibangun pada lahan yang berada di kawasan sekitar pinggiran sungai. Sehingga wujud rumah panggung memiliki tujuan untuk melindungi penghuni dan bagian dalamnya apabila air sungai meluap.

Selain itu, karena dulunya Sumatra khususnya wilayah Lampung adalah daratan yg ditumbuhi rimbunan hutan dengan berbagai jenis satwa, rancangan tersebut juga bertujuan untuk menghindari binatang buas.

Awalnya sebagian besar dari rumah adat ini dibuat dengan menggunakan material papan kayu, mempunyai pondasi berupa batu, dan menggunakan bahan dasar anyaman ilalang untuk bagian atapnya. Namun, saat ini sebagian besar atapnya sudah digantikan dengan bentuk genting dan beberapa komponen juga diganti dengan bahan yang lebih modern, untuk menyesuaikan dengan perubahan zaman.

Melestarikan Tradisi dan Kebudayaan Sunda di Rumah Adat Cikondang

Terdiri dari tiga jenis bangunan

Meski lebih diperuntukkan sebagai balai pertemuan, sebenarnya sama seperti rumah pada umumnya nuwo sesat juga digunakan sebagai tempat tinggal. Umumnya, orang yang menghuni nuwo sesat adalah sosok kerabat tetua yang mewarisi kekuasaan untuk memimpin keluarga atau masyarakat.

Karena itu pula, sebenarnya bagian dari rumah nuwo sesat sendiri dibagi ke dalam tiga jenis, di mana ada bangunan yang memang diperuntukkan guna menggelar berbagai kegiatan adat, dan bagian lainnya berfungsi sebagai rumah tinggal itu sendiri.

Adapun tiga bagian rumah yang membentuk nuwo sesat terdiri dari:

Sesat Balai Agung

Bagian ini bisa dibilang merupakan bagian utama yang paling disorot, karena memang menjadi lokasi utama dari berbagai kegiatan adat yang sebelumnya disebutkan berlangsung.

Untuk dapat masuk ke area ini biasanya harus terlebih dahulu melewati jambat agung atau tangga, yang di sepanjang jalannya terdapat payung berwarna putih, kuning, dan merah sebagai lambang kesatuan masyarakat di Lampung.

Sesat Balai Agung juga memiliki lambang burung garuda yang dipercaya sebagai kendaraan Dewa Wisnu pada zaman dahulu. Di era saat ini, titik lambang tersebut digunakan sebagai tempat duduk pengantin saat dilangsungkannya acara pernikahan adat suku Lampung.

Nuwo Balak

Rumah yang memiliki luas sekitar 30x15 meter ini memiliki fungsi sebagai tempat tinggal bagi kepala suku atau purwatin (pemangku adat). Di bagian depan atau teras biasanya terdapat balkon yang digunakan sebagai tempat untuk menghibur para tamu dan juga tempat untuk bersantai.

Di bagian depannya terdapat tangga untuk memudahkan naik dan turun dari rumah, sementara di bagian bawah tangga dilengkapi dengan tempat bernama garang hadap yang digunakan untuk mencuci kaki agar tidak menjadi kotor saat memasuki rumah.

Bagian Nuwo Balak memiliki beberapa ruang yang terdiri dari dua buah ruang pertemuan, satu ruang keluarga, dan delapan kamar tidur. Di antara delapan kamar tersebut ada ruang untuk digunakan oleh kepala adat beserta istrinya.

Sementara, bagian belakang rumah digunakan untuk dapur yang terpisah dari bagian utama rumah, namun tetap diberi penghubung seperti jembatan.

Nuwo Lunik

Rumah ini juga pada dasarnya adalah tempat tinggal namun memiliki ukuran lebih kecil dibanding dua jenis rumah di atas, yang biasanya dihuni oleh orang dari kalangan masyarakat biasa. Perbedaannya juga terlihat dari tidak adanya beranda rumah, dan hanya memiliki satu tangga untuk pintu masuk.

Jika dibandingkan dengan nuwo balak, bentuk dan pembagian ruangannya juga lebih sederhana, yaitu hanya berupa beberapa kamar tidur serta bangunan utama yang menyatu dengan bagian dapur.

Rumah Adat Reje Baluntara, Cagar Budaya Tersembunyi di Aceh Tengah

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini