Serba-Serbi Pawang Hujan, Kisah 'Orang Sakti' yang Bermain dengan Alam

Serba-Serbi Pawang Hujan, Kisah 'Orang Sakti' yang Bermain dengan Alam
info gambar utama

Rara Istiati Wulandari, seorang pawang hujan perempuan mendapat sorotan publik ketika ajang balap MotoGP di Sirkuit Mandalika di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 20 Maret 2022.

Sosoknya muncul di paddock untuk menunjukkan kemampuannya. Sebelumnya ajang balapan bergengsi ini ditunda karena hujan deras. Setelah mengeluarkan berbagai ritual, hujan kemudian reda, balapan lantas bisa di mulai.

Sosok Rara ini ternyata diketahui juga pernah menjadi pawang hujan untuk acara Asian Games 2018 di Indonesia. Karena keberhasilan ini, Rara kembali dipercaya untuk mencegah hujan pada perhelatan MotoGP Mandalika.

Setelah balapan selesai, kehadiran pawang hujan tetap menjadi sorotan warganet. Ada yang menganggap pawang hujan sebagai syirik dan memalukan, sedangkan yang membela menyebut hal ini merupakan bagian dari tradisi dan kearifan lokal.

Ajang MotoGP Resmi Berakhir, Bagaimana Pengelolaan Sampah di Sirkuit Mandalika?

Pawang hujan memang menjadi keahlian lama yang bertahan hingga sekarang. Pasalnya banyak yang “diam-diam” membutuhkan bantuannya untuk menyukseskan berbagai acara, mulai dari acara hajatan hingga ajang berskala internasional.

Hal yang menarik adalah tradisi panggil dan tolak hujan ini ternyata tidak hanya dikenal di masyarakat Indonesia, tetapi di mancanegara. Media mencatat ritual tolak hujan terjadi pada pembukaan olimpiade 2008.

Di Indonesia, peran pawang hujan juga pernah terjadi ketika pertarungan petinju Muhammad Ali melawan Rudi Lubbers, juara tinju kelas berat asal Belanda di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 23 Oktober 1973.

Panitia tentunya berharap acara terselenggara dengan lancar. Salah satunya yang diantisipasi adalah hujan. Solusinya tentu pawang hujan. Sudah menjadi tradisi di Indonesia, ketika ada acara baik besar atau kecil, para ‘pengendali air’ ini diminta untuk menunjukan kemampuannya.

“Penyelenggara sempat mengundang pawang hujan dari Aceh, Banten, Jawa Tengah, dan Maluku,” tulis Julius Pour dalam Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno yang dimuat Historia.

Kisah orang-orang sakti

Kisah para pawang hujan di Indonesia atau Nusantara ternyata telah berlangsung cukup lama, sejak zaman sebelum Majapahit. Pada masa itu ada seorang pawang hujan yang cukup terkenal bernama Ki Bogang.

Ditulis oleh Anton DH Nugrahanto dalam artikel berjudul Mantra Pawang Hujan menyebut dengan ilmunya yang tinggi, dirinya berhasil mendatangkan hujan saat penyerbuan Raden Wijaya ke kemah pasukan Mongol-Tartar dan menghabisi panglimanya.

“Pada musim kemarau jarang turun hujan maka Ki Bogang diperintahkan Raden Widjaja mendatangkan hujan dan terjadilah pembantaian pasukan Mongol di tengah hujan lebat pada tengah malam sampai menjelang pagi,” tulisnya.

Kelak Ki Bogang diserahkan tugas pengamatan cuaca di Kerajaan Majapahit. Ilmunya ini kemudian diturunkan kepada cucunya Ki Bango Samparan, Pada penyerangan ke Bali, Ki Bango Samparan mendatangkan hujan lebat ketika pendaratan pasukan Majapahit di Pantai Kuta.

Hasil Balap dan Ragam Cerita Besar di Balik MotoGP Mandalika

Pada masa Mataram, peran pawang hujan masih cukup penting sebagai taktik dalam berperang. Beberapa nama menjadi sosok tercatat sebagai pawang terkenal pada masa itu, seperti Ki Bagas Dipotomo dan Danurwarsito.

Sosok Danurwarsito ini masih hidup pada era Sultan Agung Hanyokrokusumo yang berperan dalam membantu penyerangan Mataram ke Surabaya. Dirinya mendatangkan hujan besar sebelum pasukan Mataram masuk ke wilayah Keraton Surabaya.

Setelah itu, kesaktian dari pawang hujan Mataram diwariskan di berbagai wilayah, salah satunya di Banten. Bahkan sampai sekarang di Pandeglang ada tradisi bernama Nyarang Hujan yaitu ilmu mengatur cuaca.

Sebagai ilmu yang diwariskan, para pawang hujan dari Pandeglang ini perlu mendatangi makam leluhur (ziarah) sebelum melakukan ritual. Haji Udi Rasyidi misalnya selalu mendatangi Kyai Buyut Jerambah.

“Makam ini terletak di dalam masjid dan dianggap memiliki karomah. Dirinya mengaku sebagai keturunan dari Kyai Buyut yang bernama asli KH Muhammad Umar dan menyatakan mendapatkan teureuh atau trah untuk mengembangkan ilmu pawang hujan dari Kyai Buyut,” tulis Eneng Purwanti dalam Tradisi Nyarang Hujan Masyarakat Muslim Banten.

Pawang hujan yang dihormati

Dalam tradisi Hindu, menolak hujan sering menggunakan figur Batara Yama, dewa penguasa surga yang mengadili roh setelah melewati batas akhir hidup. Christiaan Hooykaas dalam buku Drawings of Balinese Sorcery menyatakan bahwa praktik tolak hujan dapat digunakan sebagai proteksi pertunjukan wayang.

Kesaktian dalang wayang kulit memang telah dikenal luas oleh masyarakat sejak dahulu kala. Khalayak umum pun kerap memanfaatkan jasanya saat ada keluarga yang mengadakan hajatan berupa kelahiran, pernikahan, khitanan, hingga kematian.

“Dalang pun memainkan perannya sebagai pawang hujan dengan baik. Hajatan yang mendatangkan dalang sebagai pawang hujan nyatanya mampu menahan atau memindahkan hujan. Keberhasilan itu membuat profesi dalang memiliki nilai yang lebih besar dibanding buruh,” tulis Asri Sundari dalam buku Sastra Rempah yang dimuat dari VOI.

Masyarakat Jawa merupakan tempat yang masih menjadi tradisi dan adat yang diwarisi secara turun-temurun. Kepercayaan terhadap roh-roh halus dan dunia spiritual tidak bisa dihilangkan dari pemikiran masyarakat Jawa.

Karena itulah sosok yang dianggap bisa berhubungan dengan alam menjadi orang yang sangat dihormati ketika masyarakat membutuhkan bantuan. Begitu juga ketika orang akan mengadakan acara dan mengharapkan cuaca cerah mereka akan mendatangi para sepuh yang dikenal pawang hujan.

Sekitar tahun 1926, di Desa Manggis, Tulis, Jawa Tengah (Jateng) ada sosok bernama Soeroto bin Cermo. Dirinya bukan seorang kiai atau ustaz yang mahir berbahasa Arab. Soeroto hanyalah seorang petani penggarap biasa.

Tetapi dengan ilmunya yang terbatas, mbah Soeroto tetap mengamalkan ajaran Islam, salat, puasa Senin-Kamis. Ramadan, Suro, zakat fitrah, dan ajaran-ajaran Islam lainnya. Dirinya juga mengamalkan nilai-nilai falsafah dan tradisi kejawen.

MotoGP dalam Balutan Kehadiran Putri Mandalika yang Tak Pernah Ingkar Janji

Karena dituakan oleh warga kampung, Mbah Soeroto sering diminta tolong warga, seperti mendoakan orang sakti, memberi nama bayi, bahkan menjadi pawang hujan saat kampung mengadakan hajatan.

“Tujuannya agar tidak turun hujan. Kalau cuaca terang banyak tamu yang datang berarti semakin banyak rezeki karena mereka pasti akan menyumbang” jelas Hendri F Isnaeni dalam artikel berjudul Cerita Lama Pawang Hujan.

Sementara itu di NTB juga ada sosok pawang hujan terkenal bernama Lalu Katar. Sosoknya pernah berperan ketika menghentikan hujan pada gelaran wayang Sasak tahun 1976. Padahal banyak pawang hujan yang dikerahkan tidak berhasil.

Dirinya ketika itu menghadap ke awan sambil mengisap rokok dan mengucapkan doa-doa yang diambil dari ayat-ayat suci Alquran, berhasillah dia menghentikan hujan. Lalu Katar pun menjadi pawang hujan terkenal.

“Kalau ada acara-acara penting di NTB yang dihadiri Bapak Presiden (Soeharto), dia selalu dipanggil,” tulis Kanti W Walujo dalam Dunia Wayang: Nilai Estetis, Sakralitas, dan Ajaran Hidup.

Lalu Katar ketika mengendalikan hujan selalu memanjatkan doa-doa yang diambil dari ayat-ayat suci Alquran. Doa yang dibaca ada yang berbahasa Jawa, Kawi, dan Arab. Ini seperti menunjukan bahwa pawang hujan menerapkan sinkretisme.

Jika Lalu dan Mbah Soeroto ditolak karena dianggap mengandung unsur sinkretisme. Masalah pawang hujan ini bisa diserahkan kepada kiai. Para kiai pun dianggap memiliki karomah untuk “mengendalikan cuaca”.

Misalnya ada kisah Kiai Mahrus Ali Lirboyo salah seorang tokoh ulama kharismatik Indonesia. Pengasuh pondok pesantren Lirboyo ini dikenal memiliki ilmu karomah tinggi, salah satunya adalah menghentikan hujan.

Kisah yang paling melegenda adalah saat peresmian gedung baru Universitas Islam Tribakti Kediri. Tamu yang datang tidak hanya para santri, tetapi para pejabat dari Kediri, bahkan Menteri Agama RI H Alamsyah Ratu Perwira Negara.

Tiba-tiba ditengah persiapan menyambut para tamu, mendung tebal memenuhi langit Kediri. Dalam waktu singkat hujan besar lalu mengguyur. Para santri, panitia, dan tamu undangan langsung panik.

Tetapi dengan tenang, KH Mahrus Ali segera naik ke podium. Para santri dan tamu undangan segera fokus kepada sosok ulama kharismatik ini. Dirinya kemudian mengangkat tangan, kemudian mengajak para undangan berdoa, belum ada dua menit, hujan tiba-tiba berhenti.

Hal sebaliknya dimiliki oleh Kiai As'ad, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Asembagus Situbondo. Ulama kharismatik ini bisa mendatangkan hujan. Kejadiannya terjadi ketika Presiden Soeharto ingin datang ke Muktamar Nahdlatul Ulama ke 27 di Situbondo 1984.

Padahal saat itu cuaca sangat terik, sehingga lapangan yang menjadi tempat mendapat helikopter Presiden Soeharto perlu disiram air agar tidak banyak debu. Namun, tiba-tiba Kiai As’sad muncul dan menyebut sebentar lagi akan turun hujan.

“Benar saja, sesaat setelah Kiai As'ad meninggalkan lapangan, tiba-tiba rintik-rintik hujan turun dan kemudian hujan pun semakin lebat. Kini, lapangan Sodung pun basah dengan air hujan,” tulis Samsul Munir dalam Karomah Para Kiai.

“Tentu saja keadaan ganjil tersebut bukan semata-mata dilakukan oleh yang bersangkutan, akan tetapi atas kehendak dan izin Allah, karena doa kiai yang maqbul,” pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini