MotoGP dalam Balutan Kehadiran Putri Mandalika yang Tak Pernah Ingkar Janji

MotoGP dalam Balutan Kehadiran Putri Mandalika yang Tak Pernah Ingkar Janji
info gambar utama

Penyelenggaran ajang MotoGP di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) diwarnai dengan berbagai sambutan yang menarik dari masyarakat Indonesia. Penyambutan ini beragam rupa, mulai dari tradisi setempat yang unik hingga berbau mistis.

Misalnya saja sekelompok masyarakat dari Dusun Ebunut, Desa Kuta, Lombok Tengah NTB yang menggelar ritual doa. Mereka memohon keselamatan bagi para pembalap MotoGP yang akan berlaga di Sirkuit Mandalika.

Ritual doa ini dinamakan Bejambek dan beberapa masyarakat juga membawa sajian makanan atau dulang beronjok, seperti rengginang dan makanan tradisional lainnya. Mereka berharap dengan ritual doa ini penyelenggaraan acara akan berjalan lancar.

Agar penyelenggaraan lancar, panitia acara bahkan menggunakan jasa pawang hujan untuk mengusir cuaca buruk di sekitar Sirkuit Mandalika. Pawang hujan ini bernama Rara Isti Wulandari.

Dirinya melakukan ritual tradisional saat sesi latihan MotoGP, di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, Jumat (18/3). Saat melakukan ritual, terdapat sesajen di sekitar Rara. Sesajen itu berupa kembang.

Masyarakat Indonesia memang tidak bisa lepas dari tradisinya yang bahkan bisa bersinggungan dengan mistik. Namun hal ini menjadi sebuah kekayaan bangsa dan bahkan bisa menjadi potensi daya tarik wisatawan.

Euforia MotoGP Mandalika, Keramaian Parade Seremonial dan Berkah Bagi Masyarakat Lokal

Legenda Putri Mandalika

Kemeriahan Penonton di Sirkuit Mandalika/Dok GNFI
info gambar

Perhelatan MotoGP di Pertamina Mandalika International Street Circuit ini juga bersama dengan dilaksanakannya tradisi bau nyale atau menangkap cacing laut di Pulau Lombok, NTB

Pelaksanaan Festival Pesona Bau Nyale, di Lombok memang akan digelar pada 20-21 Februari 2022. Hal ini memang telah diputuskan berdasarkan hasil Sangkep Waringe atau musyawarah para tokoh budaya di Kabupaten Lombok Tengah.

Sejak Jumat (11/2/2022) para pembalap MotoGP telah berada di Lombok untuk menjajal sirkuit Internasional di Jalan Raya Pertamina Mandalika dalam tes pramusim MotoGP untuk kemudian berlaga di puncak balapan pada 18-20 Maret 2022.

“Menjelang MotoGP ada tradisi bau nyale. Ini sebagai wujud kita memelihara atraksi budaya yang sudah menjadi peninggalan leluhur kami. Terlebih memang pariwisata kita adalah pariwisata yang tentunya menarik minat para wisatawan dengan berbagai keunikan yang dimiliki,” jelas Kepala Dinas (Kadis) Kebudayaan Lombok Tengah NTB, Lendek Jayadi yang dimuat dari RRI.

Intip Panduan Lengkap Menonton Pertamina Grand Prix Of Indonesia di Mandalika

Pada perhelatan Festival Bau Nyale 2022 ini mengangkat tema Spirit of Mandalika yang diharap menjadi momentum kebangkitan ekonomi masyarakat NTB. Pasalnya festival ini merupakan bagian dari legenda masyarakat yang memiliki nilai jual untuk sektor pariwisata.

Tradisi bau nyale memang menjadi tradisi lama milik masyarakat Sasak yang menjadi suku terbesar di Pulau Lombok. Dalam bahasa Sasak, bau artinya menangkap dan nyale adalah cacing laut.

bau nyale menjadi aktivitas masyarakat untuk menangkap cacing laut yang dilakukan setiap tanggal 20 bulan 10 penanggalan tradisional Sasak (pranata mangsa) atau tepat lima hari setelah bulan purnama, umumnya antara bulan Februari dan Maret setiap tahunnya.

Tradisi ini juga terkait dengan cerita rakyat Putri Mandalika yang dikisahkan memiliki paras cantik dan perilaku terpuji, sehingga wajar banyak raja muda yang terpikat dengan kecantikan dan keanggunannya.

Tetapi Putri Mandalika yang tidak menginginkan adanya pertumpahan darah dan ingin menjaga kerukunan masyarakat, memutuskan untuk tidak memilih siapapun dan menenggelamkan diri di tengah samudra.

Seluruh orang yang melihat hal tersebut kemudian sibuk mencari, namun mereka hanya menemukan kumpulan cacing laut yang lantas dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika. Kemudian cacing itu disebut sebagai nyale.

Sejak saat itu, cacing warna-warni tersebut dipercaya sebagai jelmaan dari Putri Mandalika yang ingin memberikan kegembiraan kepada masyarakat. Peristiwa ini pun menjadi tradisi turun temurun dengan kebiasaan masyarakat menangkap cacing-cacing laut di pantai.

Janji yang Tak Pernah Ingkar

Para tokoh adat di Lombok Tengah menggelar acara Sangkap Warige atau musyawarah adat di Desa Wisata Sasak Ende, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, pada Sabtu (08/01/2022).

Sangkep Warige merupakan acara adat yang digelar setiap tahun untuk menentukan puncak tradisi bau nyale di Pantai Selatan Lombok, NTB. Dalam keputusan Sangkep Warige, para tokoh adat di Lombok Tengah memutuskan acara berlangsung pada 20-21 Februari 2022.

Wakil Bupati Lombok Tengah, H.M Nursiah mengatakan Sangkep Warige biasanya dilakukan mengacu kepada tanda-tanda alam, seperti bunyi Tengkere, Binatang Towot dan penanggalan Sasak.

Tradisi bau nyale memang bisa berhubungan dengan astronomi karena perlu diperhitungkan sesuai kalender Rowot Sasak. Tetapi para tokoh adat menyatakan penanggalan itu tidak bisa memastikan nyale muncul dipermukaan.

Kalender Rowot Sasak hanya menghitung tanggal yang disebutkan dalam legenda Putri Mandalika yaitu tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak. Sementara terkait ada atau tidaknya nyale akan bergantung kepada berbagai faktor, seperti iklim, cuaca, dan kondisi ekologi laut.

Namun, budayawan Sasak Lombok, Lalu Putria mengatakan ada beragam tanda alam untuk memastikan kehadiran nyale, mulai dari terdengar suara gemuruh di laut selatan Lombok. Suara gemuruh ini, katanya akan terdengar jelas oleh warga.

Kilas Balik Progres Pembangunan Pertamina Mandalika International Street Circuit

“Ditandai tanda alam terdengar bunyi gemuruh di laut selatan disertai hujan angin kemudian ada kisap (kilat) bersambaran,” katanya yang disadur dari Solopos.

Selain itu kata Lalu, tanda lainnya adalah munculnya pucuk bambu muda yang disebut rembaong. Terdengar suara jangkrik yang berbunyi di sawah dan banyak jamur yang mulai tumbuh di sawah atau kebun, dan masih banyak tanda lainnya.

Legenda Putri Mandalika memang menjadi petunjuk satu satunya dalam penentuan tanggal untuk menjemput nyale di pesisir selatan. Putri Mandalika ketika itu telah berjanji akan kembali dengan berwujud nyale pada tanggal 20 bulan 10.

Masyarakat Suku Sasak mengartikan pemahaman ini bahwa tanggal 20 merupakan tanggal tertentu dalam penanggalan hijriah dan bulan 10 merupakan bulan kesepuluh dalam penanggalan Sasak. Legenda ini ditandai dengan munculnya rasi bintang yaitu bintang Rowot.

“Dari cerita legenda di atas, maka disimpulkan bahwasanya di era "Mandalika" telah mengenal pembagian waktu, sehingga diyakini bahwa masyarakat Suku Sasak pada saat itu telah mengetahui kapan harus menjemput nyale di pesisir selatan,” jelas Muhammad Muzayyinul Wathoni dalam jurnal berjudul Penentuan Awal Bulan Kalender Rowot Sasak Persepektif Fikih dan Astronomi.

Pengingat kesuburan sawah

Bagi warga Lombok Tengah, NTB tradisi bau nyale tidak hanya berkaitan untuk mengingat pengorbanan Putri Mandalika demi rakyatnya. bau nyale juga menjadi saat mereka memperhatikan kesuburan sawahnya.

Ahmad Fahrurrozi (45), warga Dusun Batu Bolong, Desa Ungga, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah ini termasuk yang mengikuti tradisi bau nyale. Pada pagi hari pertama setelah mendapatkan segenggam nyale, dirinya kemudian pulang.

Cacing ini dibersihkan dengan air hangat terlebih dahulu sebelum kemudian dibungkus dengan daun kelapa, layaknya ketupat. Cacing dalam bungkusan daun kelapa dipanggang hingga kering. Setelah itu barulah nyale kering diolah jadi santapan.

Tetapi yang penting dari nyale itu adalah bekas bungkus pemanggang dan air hangat yang dipakai untuk membersihkan, digunakan untuk menyuburkan sawah.

Rozi, panggilan akrabnya menyiram air bekas cucian nyale ke sebagian area sawahnya dan dua bekas bungkus pemanggang dia gantungkan di batang bambu, kemudian ditancapkan di pematang sawah.

“Ini sudah tradisi di desa kami setiap ada bau nyale. Kami yakin air bekas cucian dan bekas bungkus nyale bisa menyuburkan sawah,” kata Rozi yang dimuat dari Mongabay Indonesia.

Cuma di Indonesia, Nonton MotoGP Mandalika Bisa Sambil ‘Piknik’ Gelar Tikar

Tradisi bau nyale juga menjadi penanda tentang berakhirnya musim hujan menurut kalender tradisional Sasak (pranata mangsa). Karena itulah, para petani menancapkan bekas bungkus nyale sebagai bentuk pengingat telah berakhirnya musim hujan. Mereka pun tak lagi menanam padi setelah bau nyale.

Selama pelaksanaan bau nyale, puluhan ribu warga sekitar Pantai Seger akan memenuhi kawasan tersebut selama dua hari puncak. Menangkap nyale sendiri menjadi puncak tradisi tahunan tersebut.

Warna nyale umumnya warna-warni yaitu hijau pada jenis betina dan cokelat pada jenis jantan. Biasanya ketika naik ke permukaan air sambil menggerakan tubuhnya untuk menari-nari. Ketika mereka keluar, para warga lantas berebut untuk segera menangkapnya.

Menurut Iwan Dewantara, Manajer Jaringan Kawasan Konservasi Conservation International menyebut bau nyale merupakan tradisi unik untuk memastikan hubungan manusia dengan alam melalui simbol cacing.

“Bila manusia tidak lagi menghormati sungai dan lautnya yang dalam konsep di Bali (dan sebagian masyarakat Lombok) disebut Nyegara Gunung, maka siap-siap saja si cacing akan pergi atau hilang untuk selamanya,” kata Iwan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini