Benarkah Harga BBM di Indonesia Masih yang Termurah di Dunia?

Benarkah Harga BBM di Indonesia Masih yang Termurah di Dunia?
info gambar utama

Pertentangan akan kenaikan harga BBM yang terjadi pada awal bulan April lalu tepatnya di hari Jumat (1/4/2022) masih belum surut. Sejumlah pihak dan sebagian besar masyarakat masih mempertanyakan keputusan pemerintah yang dianggap memberatkan di tengah kondisi ekonomi yang masih merangkak pulih pasca pandemi.

Apalagi, kondisi tersebut bersamaan dengan momen Ramadan yang identik dengan kenaikan sejumlah komoditas pokok bagi kebutuhan rumah tangga. Akibatnya, tak heran jika kenaikan harga BBM masih menjadi topik perbincangan panas hingga saat ini.

Melihat kondisi yang ada, sejumlah pihak terlibat dalam hal ini pihak yang mengelola pasar dan mendistribusikan BBM di tanah air yakni Pertamina, belakangan memberi pemahaman dan mengungkap sebuah fakta yang diharapkan dapat sediki meredam sentimen publik.

Pemahaman yang dimaksud adalah fakta bahwa taraf kenaikan BBM di Indonesia sejatinya masih berada dalam kisaran harga yang wajar. Apalagi terungkap, jika rupanya harga BBM di Indonesia setelah mengalami kenaikan masih lebih rendah dibanding negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Benarkah demikian?

Kenaikan BBM Picu Ragam Reaksi, Adakah Dampak Positif dari Segi Ekonomi?

Masih di bawah nilai keekonomian

Sedikit pengingat, untuk saat ini harga Pertamax atau BBM dengan nomor oktan (RON) 92 rata-rata berada di kisaran Rp12.500 sampai Rp13.000, bergantung dari tiap wilayah tertentu. Rupanya, harga tersebut masih memiliki selisih sebesar Rp3.000 sampai Rp3.500 di bawah harga pasar atau nilai keekonomian jika dibandingkan dengan harga minyak mentah dunia.

Fakta yang mungkin tak diduga oleh sebagian besar masyarakat, harga kenaikan yang ditetapkan tersebut nyatanya masih jauh lebih rendah jika dibandingkan negara-negara lain di dunia.

Tentu tak seimbang jika membandingkan dengan negara-negara maju yang berada di benua Eropa atau Amerika, namun setidaknya bukti perbandingan tersebut sudah terlihat jika dibandingkan dengan sesama negara satu rumpun di kawasan Asia Tenggara atau Asia.

Mengamati pemaparan di laman resmi Pertamina, yang juga seragam dengan data dari Global Petrol Prices, terungkap bahwa harga rata-rata BBM di negara tetangga terdekat Indonesia terdiri dari Singapura Rp30.208 per liter, Laos Rp24.767 per liter, Filipina Rp20.828 per liter, Kamboja Rp20.521 per liter, Thailand Rp19.767 per liter, dan Vietnam Rp18.647 per liter.

Sementara itu harga rata-rata BBM di Indonesia adalah Rp16.500 per liter. Memang, ada negara lain yang memiliki harga BBM lebih rendah dari Indonesia, yakni Malaysia di angka Rp6.965 per liter. Namun hal tersebut terjadi lantaran perbedaan kebijakan subsidi yang diberikan oleh pemerintah negara mereka.

Berdasarkan fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa Pertamina masih menanggung selisih harga jual Pertamax sebesar Rp3.500 per liter, di mana hal tersebut dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara daya beli masyarakat.

Jika Malaysia bisa memberi subsidi dalam jumlah besar untuk harga BBM negaranya, bagaimana dengan Indonesia?

Dampak yang Mengintai di Balik Kebiasaan Mencampur Pertamax dan Pertalite

Pertentangan dampak “dimanja” subsidi?

Ungkapan di atas mungkin akan terlihat terlalu menyudutkan masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi ekonomi menengah ke bawah. Namun kenyataannya, tidak sedikit masyarakat lainnya yang menyuarakan anggapan tersebut.

Kenaikan harga komoditas terutama yang memiliki peran krusial layaknya BBM memang tidak pernah menjadi kabar yang menyenangkan bagi semua orang. Namun, seharusnya disuarakan juga pemahaman yang melatarbelakangi mengapai hal tersebut bisa terjadi.

Fakta lainnya yang mungkin tidak pernah disadari oleh masyarakat secara penuh, pemerintah selama ini sudah cukup banyak dan besar dalam mengalokasikan anggaran untuk subsidi BBM. Bahkan menurut laporan International Energy Academy (IEA), Indonesia merupakan negara ke-6 yang memberikan subsidi BBM terbesar di dunia.

Misal pada tahun 2020 lalu, nilai subsidi BBM Indonesia mencapai angka 2,44 miliar dolar AS, atau setara Rp35 triliun. Sementara itu pada satu waktu, saat harga minyak mentah dunia di tahun ini naik, APBN atau perkiraan belanja BBM Indonesia rupanya jauh lebih rendah dibandingkan kondisi harga minyak dunia.

Sehingga mau tidak mau opsi menaikan harga BBM untuk jenis Pertamax dilakukan. Itu pun masih di bawah nilai keekonomian, dan harga BBM subsidi layaknya Pertalite yang masih tetap terjaga.

Dengan sudah lamanya sistem subsidi yang ditetapkan, baik kondisi maupun perilaku masyarakat harus diakui masih belum terlalu siap setiap dihadapi dengan adanya kebijakan kenaikan harga BBM yang mau tidak mau harus dilakukan, sehingga selalu memunculkan pertentangan.

Yang selanjutnya mungkin menjadi pertanyaan adalah mengapa besarnya nilai subsidi BBM yang sudah dikeluarkan oleh Indonesia tidak bisa membuat harga rata-rata BBM kita sama rendahnya dengan Malaysia?

Jawaban sederhananya, perlu diingat jika jumlah penduduk Malaysia per tahun 2021 hanya sekitar 33,5 juta jiwa, jauh berbeda dengan Indonesia yang jumlah penduduknya lebih dari 270 juta jiwa. Karena itu tidak heran, jika perbandingan usaha subsidi dan output yang diperoleh juga tidak sepadan.

Kisah Kasih BBM, Berganti-ganti Presiden Harganya Tetap Naik Juga

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini