Arsitektur Neo Gothic Gereja Katedral Jakarta, Penghormatan untuk Bunda Maria

Arsitektur Neo Gothic Gereja Katedral Jakarta, Penghormatan untuk Bunda Maria
info gambar utama

Gereja Katedral Jakarta merayakan ibadah misa dalam perayaan Kenaikan Isa Almasih, pada Kamis (26/5/2022). Perayaan tersebut diselenggarakan secara luring dan daring ke seluruh Indonesia.

Kendati demikian, tidak ada prosesi, acara maupun pengamanan yang besar. Sementara itu membahas mengenai Gereja Katedral Jakarta, tahukah bahwa gereja ini telah berdiri selama lebih dari 100 tahun?

Gereja ini terletak di Jalan Katedral, Jakarta Pusat. Rumah ibadah ini berdekatan dengan Masjid Istiqlal dan Gereja Immanuel yang sering kali dilambangkan dengan toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia.

Bangunan ini tidak seperti penampakan gedung-gedung yang ada di sekitarnya, Gereja Katedral Jakarta memiliki gaya bangunan yang mencirikan bangunan dengan gaya Eropa. Selain itu, bangunan memiliki sejarah yang cukup panjang.

Di balik bentuknya yang mewah, Gereja Katedral menjadi saksi penyebaran agama Katolik di Hindia Belanda. Ketika itu penyebaran agama Katolik di wilayah Nusantara tidak mudah karena Belanda menganut agama Protestan.

Gereja Katedral Jakarta, Gereja Pertama di Indonesia yang Memakai Panel Energi Surya

Terlebih lagi agama Katolik adalah agama kekaisaran Roma, sehingga ditakutkan menimbulkan ancaman bagi negara Belanda. Maka jadilah Gereja Katedral sebagai salah satu saksi perjalanan berkembangnya agama Katolik di Indonesia, khususnya Jakarta.

Sejarah gereja ini bermula pada 1828, yaitu ketika Komisaris Jenderal Leonardus Petrus Josephus Burggraad Du Bus de Gisignies mencari tanah untuk membuat gereja. Akhirnya dirinya mendapat lahan cukup luas di sisi utara Waterlooplein atau kini Lapangan Banteng.

Maka di bawah pengawasan langsung Du Bus de Gisignies, Insinyur Tromp ditugaskan untuk merombak sebuah rumah yang tadinya digunakan oleh panglima angkatan bersenjata, Jendral de Kock, dan mengubahnya jadi menyerupai bangunan gereja.

Sempat mengalami perbaikan, gereja ini kembali dibangun pada 1891 oleh Pastor Antonius Dijkmans SJ yang berperan sebagai arsitek karena bangunan lama telah usang dan rubuh. Seluruh kendali dipegang olehnya, kecuali keuangan.

Hal ini menyebabkan pembangunan sempat terhenti karena kehabisan dana. Seperti yang diungkapkan di awal paragraf, umat Katolik ketika itu tidak mendapat dana dari pemerintahan Belanda.

Setelah melalui segala proses proses pengumpulan dana, peran arsitek akhirnya juga berpindah tangan ke Marius J Hulswit. Kemudian gereja ini diresmikan pada 21 April 1901 dengan nama Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga.

Proses pembangunan gereja

Gereja Katedral dalam pembangunannya telah menggunakan berbagai gaya dari berbagai masa hingga akhirnya berdiri tegak sampai sekarang. Gaya bangunan yang digunakan seperti barok, gothic, klasisisme, neo gothic, dan eklektisis.

Namun setelah bangunan ini berdiri pada tanggal 6 November 1829, bentuknya tidak sesuai dengan rancangan Ir Tromp, yakni barok. Hal ini disebabkan karena kurangnya dana yang dimiliki gereja saat itu.

Tetapi pembangunan gereja ini sebenarnya tidak begitu mengecewakan jika dibandingkan dengan gereja sebelumnya, perombakannya juga tidak terlalu buruk. Dan semenjak bangunan ini dibangun, banyak warga yang berdatangan untuk beribadah.

Hal yang disayangkan adalah tidak lama dari pembangunan, banyak bagian dari gereja yang mengalami kerusakan. Kerusakan-kerusakan ini seperti kebocoran yang terjadi di mana-mana.

Perbaikan kecil hanya dilakukan pada bagian-bagian yang terlihat rusak tanpa mencari penyebab kerusakan tersebut. Sehingga selalu saja kerusakan baru yang terjadi setelah dilakukan perbaikan pada bagian-bagian yang rusak.

Pada 1890, gereja mengalami kerusakan yang cukup parah. Bagian atap dari bangunan gereja rusak total dan bangku-bangku yang digunakan untuk beribadah hampir seluruhnya rusak dan tidak dapat dipakai.

Warisan Kiai Sadrach dan Gerakan Pribumisasi Kristen di Jawa

“Maka setelah kerusakan itu direncanakan pembangunan kembali gereja,” tulis Siti Huwaida dalam Gaya Bangunan Gereja Katedral Jakarta.

Pembangunan gereja ini kembali dimulai pada pertengahan tahun 1891. Baik Dijkmans dan Hulswit, terinspirasi oleh arsitek Pierre Cuypers asal Belanda dengan gaya neo gothic. Sehingga sangat terlihat dari bangunannya yang cukup sederhana.

Sejak diresmikan, Gereja Katedral Jakarta telah dipugar pertama kali pada tahun 1988. Pemugaran ini berlangsung selama tiga tahun dengan menggunakan sumbangan uang umat Katolik di Indonesia.

“Pemugaran meliputi pengecatan, pembersihan seluruh gedung, perbaikan di bagian taman, pergantian dan pemasangan pengeras suara,” pungkasnya.

Persembahan kepada Bunda Maria

Sesuai namanya, gereja ini memang dibangun sebagai penghormatan kepada Bunda Maria. Berbagai simbol yang melambangkan Bunda Maria tersebar di seluruh gereja, mulai dari patung hingga bunga mawar.

Mendekati katedral, pengunjung akan disambung oleh patung Bunda Maria di antara kedua pintu utama. Di atas patung tersebut terdapat kalimat dalam bahasa Latin berbunyi Beatam Me Dicentes Omnes Generasiones (Segala Keturunan Menyambut Aku Bahagia).

Melihat lebih ke atas, pengunjung akan menemukan jendela besar berbentuk lingkaran dengan kaca berwarna-warni membentuk mawar. Inilah satu-satunya jendela dengan potongan kaca berbentuk mawar di Katedral.

“Jendela ini bernama Roseta atau Rosa Mistica, yang juga merupakan simbol Bunda Maria,” tulis Aisyah Sekar Ayu Maharani dalam Arsitektur Neo Gothic Gereja Katedral Jakarta, Seluruh Bagian Sarat Makna yang dimuat Kompas.

Bila berjalan lebih atas, akan ada dua menara menjulang tinggi. Menara setinggi 60 meter ini diberi nama Menara Benteng Daud dan Menara Gading. Sebenarnya ada lagi satu menara, yakni Menara Angelus Dei yang hanya setinggi 45 meter.

Menara Benteng Daud merupakan perlambang Bunda Maria melindungi manusia dari kuasa kegelapan. Sementara di sisi lainnya, Menara Gading yang di sebelah kanan adalah perlambang kesucian Bunda Maria.

Selain menjadi devosi bagi Bunda Maria, denah gereja ini bahkan berbentuk salib. Karena dibanguan dengan menggunakan arsitektur neo-gothic, gereja ini sangat banyak mengandung bentuk daun dan bunga.

Dinamika Penyebaran Agama Kristen dan Munculnya Gereja-Gereja di Jawa

“Adapun konsep zaman gothic timbul karena keinginan memurnikan kembali hubungan antara manusia dan Tuhan,” paparnya.

Karena itu, terlihat dari bentuk-bentuk lengkungan yang mengerucut ke atas menyerupai daun akan mudah ditemukan. Salah satunya kerucut daun pada langit-langit gereja yang jadi perlambang hubungan manusia dengan keagungan Sang Pencipta.

Namun, meski sama-sama dibangun dengan gaya neo-gothic, Gereja Katedral memiliki perbedaan dengan gereja lain di Eropa. Jika pada umumnya Katedral dibuat menggunakan batu alam, tetapi Katedral Jakarta justru menggunakan batu bata.

Kemungkinan besar, jelas Aisyah, material lokal ini dipilih untuk mengantisipasi gempa bila sewaktu-waktu terjadi. Selain itu, batu bata dan kayu jati untuk langit-langit Katedral merupakan hasil bumi Indonesia.

Kini ruangan besar yang berisi deretan kursi panjang tempat umat beribadah di dalamnya mampu menampung hingga 700 orang. Kondisi pandemi yang sempat membuatnya sepi, diharapkan akan kembali ramai pada waktu-waktu mendatang.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini