Ketika Rindu yang Berat Dibayar Tuntas dengan Telepon Umum

Ketika Rindu yang Berat Dibayar Tuntas dengan Telepon Umum
info gambar utama

Bila sudah menonton film Dilan 1990, yang diadaptasi dari novel karya Pidi Baiq berjudul Dilan. Tentunya akrab dengan salah satu scene terbanyak di film ini, yakni adegan Dilan yang selalu menelpon Milea.

Jangan rindu, berat. Biar aku saja.”

Merupakan salah satu gombalan yang paling ikonik dalam film tersebut. Namun, ketika gombalan itu begitu memorable bagi penonton. Hampir mayoritas penonton mungkin terasa asing ketika Dilan merayu kekasihnya itu menggunakan telepon umum.

Telepon umum kini memang tinggal kenangan, sejak memasuki milenium baru dan telepon genggam lebih mudah untuk didapatkan, jasanya pun terlupa. Tidak ada lagi, lelah-lelah berdiri mengantri giliran, berjam-jam berdiri, atau bahkan terteror para pengantri lainnya.

Biasanya telepon umum dipasang di setiap sudut kota dengan ciri khas tudungnya yang berguna melindungi para penelpon dari teriknya matahari atau air hujan. Cara penggunaan telepon umum pun sangat unik.

Penggunanya hanya menyediakan beberapa koin receh lalu memasukannya ke kotak kecil. Penelpon pun tinggal mengambil gagang telepon sambil menekan nomor yang dituju. Selanjutnya, rindu yang begitu berat bisa dibayar dengan tuntas.

#RamaiTapiDamai: Sebarkan Toleransi, Jaga Ibu Pertiwi

Surya Hardhiyana masih mengenang ketika masa-masa Sekolah Menengah Pertama (SMP) sekitar tahun 1995, dirinya harus bersepeda berkeliling kota Gresik untuk mencari telepon umum yang tidak ada antrian atau antriannya sedikit, tentu demi menelpon gebetan.

“Ketika telepon umum sudah digenggam dan nada tunggu terdengar, suasana hati makin deg-degan karena takut kalau yang mengangkat telepon adalah orang tuanya,” tulisnya dalam blog pribadinya.

Surya mengakui menelepon menggunakan telepon umum sebenarnya tidak nyaman, sudah harus berdiri, rela digigit oleh nyamuk, bahkan diteror para pengantri. Tetapi tetap saja, jelasnya, telepon umum menjadi favorit untuk bisa berkomunikasi.

Tentu ada beberapa alasan kata Surya, seperti bila menelepon menggunakan telepon rumah bisa kena marah dari orang tua karena menghabiskan pulsa. Sedangkan bila langsung main ke rumah gebetan, takut dengan orang tuanya.

“Jadinya komunikasi ya di telepon umum,” pungkasnya.

Mula datangnya telepon umum

Memasuki zaman Orde Baru (Orba) pembangunan telekomunikasi terus digencarkan seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan permintaan sambungan telepon yang semakin tinggi. Tetapi pemerintah ketika itu belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

Di sisi lain, rumah tangga dan industri yang tumbuh semakin memerlukan fasilitas komunikasi. Namun, rumah yang sudah terdengar dering telepon masih jarang ditemui. Sehingga pemerintah mengambil langkah dengan menyediakan layanan telepon umum.

Ketika melakukan perjalanan dinas ke London, Inggris, beberapa karyawan Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) – kini PT Telkom– melihat baiknya layanan dan ketersediaan telepon umum di negeri itu.

“Pengalaman itu akhirnya menginspirasi mereka untuk meniru dan menerapkannya di Indonesia,” tulis Nur Janti dalam Mula Kedatangan Telepon Umum yang dimuat Historia.

Saat kembali ke tanah air, mereka langsung mengusulkan agar Perumtel membuat layanan telepon umum jenis kartu. Namun Direktur Utama Perumtel Willy Moenandir masih meragukan terwujudnya gagasan tersebut.

Mahasiswa UB Ciptakan Pengontrol Kualitas Air Tambak Udang

Pasalnya ketersediaan dan persebaran kartu akan jadi pekerjaan rumah baru untuk perusahaan plat merah tersebut. Apalagi saat itu masyarakat masih awam dengan penggunaan telepon umum untuk berkomunikasi.

Perumtel pun mencari jalan tengah. pada 1981 mereka meluluskan ide membuat layanan komunikasi telepon umum namun dengan jenis berbeda. Saat itu, telepon umum tidak menggunakan kartu, namun koin.

Setyanto, Kepala Bagian Pemasaran Jasa Telekomunikasi periode 1980 mengungkap proyek besar-besaran telepon umum dilakukan pada tahun 1989. Pengadaan Telepon umum ini pun masuk dalam proyek pembangunan.

Sebagian besar telepon umum generasi pertama adalah keluaran Belgia Telephone Manufacturer yang dirakit di PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI). Selain itu ada juga yang dari Jerman dan Jepang.

Mengutip Suara Merdeka (edisi 21 Juli 1995), pada 1992, jumlah seluruh telepon umum yang ada di Indonesia sebanyak 39.670 SST, dan pada 1994 telah mencapai 74.482 SST. Pertumbuhan ini pun berpengaruh kepada pendapatan Perumtel.

“Telepon umum kemudian menjadi fasilitas umum yang sangat berguna di masyarakat,” tulis Muhammad Jihad Sujatmiko dalam Pasang Surut Eksistensi Telepon Umum di Indonesia.

Telepon itu tinggal kenangan

Pada tahun 2000 an, pelanggan telepon seluler mengalami peningkatan pesat. Masyarakat yang dahulunya menggunakan telepon umum berangsur-angsur beralih menggunakan telepon seluler.

Semakin tergantikannya telepon umum dengan telepon seluler, semakin banyak juga telepon umum yang dirusak oleh masyarakat. Apalagi sejak 2015, telepon umum banyak yang sudah tidak digunakan lagi oleh masyarakat.

“PT Telkom juga tidak memperbarui layanan telepon umum atau membiarkannya ditelan perkembangan teknologi telekomunikasi,” paparnya.

Dikutip dari Detik, karena keberadaannya yang sudah tidak berfungsi dan pihak Telkom yang mungkin membiarkannya saja. Telepon umum di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan (Jaksel) kini bahkan menjadi tempat menyimpan bungkusan bekas ikan.

Sementara itu, telepon umum yang berada di Jalan Musi, Jakarta Pusat, kondisinya juga sangat memprihatinkan. Fasilitas telepon umum yang berada di daerah Jakarta Pusat ini justru kosong, tak ada telepon yang di tempatnya, mesinnya hilang entah kemana.

Pencetus Green Metric Untuk Kampus Sedunia Raih Gelar Kehormatan dari Kazakhstan

Dari penuturan warga sekitar, telepon umum itu sudah lama tidak digunakan oleh warga karena sudah tidak berfungsi lagi. Sedangkan para petugas yang dahulunya rutin melihat kondisi sudah lama tidak terlihat batang hidungnya.

Menurut sejarawan Universitas Indonesia, JJ Rizal, telepon umum merupakan artefak sejarah, simbol modernitas, simbol kota. Dia menyebut, Raden Ajeng Kartini dalam suratnya menggambarkan zaman baru yang diwarnai modernitas.

Simbol modernitas ini ditandai dengan perkembangan kereta api, jaringan jalan yang luas, telepon, dan telegraf. Semasa penjajahan Belanda, telepon kebanyakan menjadi milik kaum elite atau bangsawan.

Kemudian, lanjut Rizal, datang telepon umum yang pada benak masyarakat luas bukan simbol elitis. Tetapi hal ini berubah saat orang sudah memiliki telepon pribadi (ponsel), telepon umum pun ditinggalkan dan bahkan tidak lagi terawat.

“Telepon umum sifatnya tidak personal, tidak individual. Orang tidak merasa memiliki,” ujar Rizal yang disadur dari Kompas.

Kini telepon umum layaknya barang rongsok, ditambah aksi vandalisme. Padahal bila kreatif, keberadaannya bisa dipertahankan sebagai sarana penunjang telekomunikasi nirkabel, seperti pemancar WIFI atau stasiun pengisian ulang baterai mobil listrik.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini