Siasat Indonesia Hadapi Ancaman Krisis Pangan Global

Siasat Indonesia Hadapi Ancaman Krisis Pangan Global
info gambar utama

Pandemi Covid-19 belum usai, kini dunia tengah menghadapi ancaman krisis komoditas pangan. Indikasi krisis pangan yang akan datang ditandai dengan meningkatnya harga-harga komoditas dan bahan pangan secara masif beberapa waktu belakangan ini.

Peneliti Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Adinova Fauri, memaparkan tiga faktor penyebab naiknya harga komoditas pangan di Tanah Air, yaitu kondisi pemulihan ekonomi pasca pandemi, konflik Rusia-Ukraina, dan efek dari perubahan iklim.

Adinova menjelaskan bahwa adanya konflik Rusia-Ukraina menghambat produksi dan pengiriman lintas batas sehingga menambah beban pada harga komoditas pangan. Menurut Adinova, banyak negara yang kekurangan pasokan komoditas padahal seharusnya mendapat pasokan dari dua negara yang tengah berkonflik tersebut, sehingga pemerintah di luar negara itu pun mengambil jalan restriksi ekspor komoditas untuk menjaga pasokan domestik.

Perubahan iklim juga dinilai menambah tekanan pada suplai agrikultur secara global karena cuaca ekstrem dapat menurunkan imbal hasil dari komoditas sehingga produksi tidak bisa memenuhi permintaan.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Indonesia pun telah memiliki rencana besar dalam menghadapi kondisi krisis pangan global, seperti berikut:

Dakwah Sunan Gresik, Membangun Sistem Irigasi untuk Atasi Krisis Pangan di Tanah Jawa

Strategi menjaga ketahanan pangan

Ilustrasi krisis pangan | @Corona Borealis Studio Shutterstock
info gambar

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa kondisi ketahanan pangan dan energi Indonesia perlu menjadi perhatian di tengah krisis global. Adanya kenaikan harga komoditas pangan dan energi dunia mengharuskan Indonesia fokus pada pertahanan dari keamanan pangan dan energi.

Beberapa komoditas yang patut menjadi perhatian antara lain kedelai, gandum, minyak goreng dan bawang merah dalam kelompok pangan. Sementara energi yaitu BBM, listrik, dan LPG, gas alam serta batu bara.

Pada rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Sri Mulyani mengatakan bahwa fokus belanja untuk mendukung ketahanan pangan akan dilakukan dan dilanjutkan pada tahun 2023.

"Belanja untuk ketahanan dan keamanan pangan akan dilanjutkan, baik untuk infrastruktur, maupun untuk program sendiri yaitu program di bidang pertanian seperti untuk padi, jagung, bahkan kedelai dan tentu minyak sawit atau crude palm oil (CPO),” jelas Menkeu, seperti dilansir idxchannel.com.

Menkeu juga menyebutkan bahwa ketegangan geopolitik akibat perang Rusia-Ukraina yang menimbulkan krisis pangan dan energi di berbagai penjuru dunia harus segera diantisipasi dan Indonesia harus mampu mengurangi risiko disrupsi suplai. Sri Mulyani menilai risiko disrupsi suplai harus diantisipasi karena bukan krisis jangka pendek, melainkan cukup struktural di level global.

Adapun strategi pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan dan energi melaui stabilisasi harga dan melindungi daya beli, menjaga mekanisme pasar agar dapat berjalan optimal, serta mendorong produktivitas komoditas pangan dan energi. Selain itu, pemerintah juga mendorong diversifikasi konsumsi khususnya pada komoditas energi, seperti optimalisasi penggunaan batubara, pengurangan impor migas, dan mengembangkan sumber energi bersih.

Ashab dan Tubagus, Dua Pemuda yang Garap Startup Ketahanan Pangan untuk Peternak Ayam

Diversifikasi pangan

Sorgum | Wikimedia Commons
info gambar

Menindaklanjuti prediksi Badan Pangan Dunia (FAO) dan Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa dunia sekarang ini dan akan datang mengalami krisi pangan, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa Indonesia tengah mempersiapkan rencana besar dalam mendorong diversifikasi tanaman komoditas pangan di berbagai pelosok daerah.

“Banyak pilihan-pilihan yang bisa kita kerjakan di negara kita, diversifikasi pangan, alternatif-alternatif bahan pangan, tidak hanya tergantung pada beras karena kita memiliki beras, karena kita memiliki jagung, memiliki sagu, dan juga sebetulnya tanaman lama kita, yang ketiga adalah sorgum,” ujar Presiden saat meninjau panen tanaman sorgum di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis (2/6/2022).

Menurut keterangan Jokowi, panen sorgum di Sumba Timur menunjukkan hasil yang sangat baik, bahkan memiliki potensi untuk membuka lapangan kerja dan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

“Sudah dicoba di Kabupaten Sumba Timur seluas 60 hektare, dan kita melihat sendiri hasilnya, seperti tadi kita lihat, sangat baik, secara keekonomian juga masuk, bisa merekrut banyak sekali SDM tenaga kerja kita, dan hasilnya per hektare per tahun bisa bersih kurang lebih Rp50-an juta, ini juga sangat bagus,” tutur Jokowi.

Presiden mengatakan bahwa dari lahan tersebut dapat menghasilkan lebih dari 5 ton sorgum per hektare. Uji coba sorgum dinilai berhasil dan petani sorgum dapat mendapatkan uang hasil panen di atas Rp4 juta dalam satu bulan. Pengembangan lahan komoditas sorgum pun diyakini dapat memberikan kesejahteraan pada petani dan meningkatkan taraf hifup masyarakat.

Sorgum merupakan tanaman serbaguna yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan, pakan ternak, hingga bahan baku industri. Sebagai bahan pangan, sorgum berada di urutan ke lima setelah gandum, jagung, padi, dan jelai. Di Asia Selatan dan Afrika sub-sahara, sorgum malah menjadi makanan pokok yang penting.

Dalam kunjungan ke Sumba Timur, Presiden memastikan luasan lahan yang dapat digunakan untuk menanam sorgum sehingga tidak bergantung pada bahan pangan lainnya. “Karena di sini juga sudah dicoba jagung kurang berhasil, coba sorgum sangat berhasil karena memang sebelumnya sorgum itu sudah bertumbuh baik dan ditanam oleh para petani kita di Sumba Timur dan di Provinsi Nusa Tenggara Timur,” ujar Presiden.

Sorgum sebenarnya sudah mulai dibudidayakan di Indonesia pada tahun 1970. Tercatat ada 15 ribu hektare lahan yang ditanami sorgum tersebar di Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Hampir seluruh bagian tanaman ini dapat digunakan sebagai bahan baku industri, mulai dari biji, tangkai biji, batang, daun, dan akar. Sorgum juga dapat menjadi makanan dan diolah menjadi gula, sirup, dan tepung. Sebagai bahan makanan, kelebihan sorgum adalah tidak mengandung gluten seperti tepung terigu sehingga cocok dengan masyarakat yang tengah menerapkan diet bebas gluten.

Jika dibandingkan dengan beras, sorgum dinilai lebih unggul dalam hal gizi. Menurut data Departemen Kesehatan RI, sorgum mengandung protein, kalsium, zat besi, fosfor, dan vitamin B1 yang lebih tinggi dibanding beras. Sorgum juga diyakini ramah untuk penderita diabetes karena kandungan gulanya cenderung rendah dan memiliki serat tinggi.

Smart Farming, Solusi Ketahanan Pangan Hadapi Pandemi dan Perubahan Iklim

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini