Bukan Kerasukan Roh Jahat, Begini Penjelasan Epilepsi Secara Medis

Bukan Kerasukan Roh Jahat, Begini Penjelasan Epilepsi Secara Medis
info gambar utama

Masyarakat Indonesia mungkin sudah tidak asing dengan epilepsi yang juga dikenal dengan penyakit ayan? Biasanya ditandai dengan kondis kejang-kejang berulang tanpa penyebab yang jelas.

Penyakit ini juga erat kaitannya dengan mitos kerasukan roh jahat, gangguan jiwa, tidak boleh menikah karena akan menurunkan penyakit serupa kepada anaknya kelak, jangan menyentuh pasien yang sedang kejang karena dapat menular, dan penyakit hanya bisa disembuhkan oleh dukun dengan ritual pengusiran roh jahat.

Di beberapa negara, penderita epilepsi dan keluarganya masih mengalami stigma dan diskriminasi. Padahal epilepsi adalah penyakit otak kronis yang dapat terjadi pada siapa saja dan kondisinya bisa dijelaskan secara ilmiah.

Menurut catatan WHO, secara global, 5 juta orang di seluruh dunia menderita epilepsi setiap tahun dan merupakan penyakit neurologis paling umum. Di negara-negara berpenghasilan tinggi, diperkirakan ada 49 per 100.000 orang yang didiagnosis menderita epilepsi setiap tahun. Sementara itu, di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, angka ini bisa mencapai 139 per 100.000. Hampir 80 persen penderita epilepsi tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Mengenal Ramsay Hunt Syndrome yang Dapat Sebabkan Kelumpuhan Pada Wajah

Memahami penyakit epilepsi

Ilustrasi epilepsi | @Andrey_Popov Shutterstock
info gambar

Pada dasarnya epilepsi adalah gangguan sistem saraf pusat (neurologis) di mana aktivitas otak menjadi tidak normal dan sering menyebabkan kejang. Namun, orang yang mengalami kejang tunggal tidak berarti otomatis menderita epilepsi.

Dokter spesialis saraf dari RSA UGM, dr. Fajar Maskuri, M.Sc., Sp.S., menjelaskan bahwa memang masih ada mitos di masyarakat yang beranggapan bahwa epilepsi bisa menular. Hal ini yang membuat penderita kejang tidak tertolong karena orang-orang takut tertular.

“Sebenarnya epilepsi adalah gangguan saraf otak sehingga harus dirawat oleh dokter saraf. Meski bersentuhan kulit atau terkena air liur si penderita saat kita menolong itu tidak akan tertular. Minimal mengamankan pasien terkena cedera saat kejang,” jelasnya.

Fajar juga mengatakan bahwa epilepsi bukan gangguan jiwa. Meski ada gangguan kognitif dan kecerdasan di bawah rata-rata, dan kesulitan berkomunikasi dengan baik, tetapi pasien epilepsi bisa sembuh jika ditangani dengan tepat.

“Jika tidak diobati segera maka akan terjadi kerusakan otak lebih berat, semakin sering kejang maka sel-sel di otak akan banyak yang rusak sehingga perlu segera diobati ke dokter saraf,” ujarnya.

Perihal mitos orang epilepsi tidak boleh menikah karena akan menularkan penyakit kepada keturunannya, Fajar menerangkan bahwa tidak ada larangan untuk menikah dan memiliki keturunan. Hanya saja bagi wanita yang menderita epilepsi dan hamil, harus dikontrol dokter saraf dan dokter kandungan.

Dokter spesialis saraf dari RS Sardjito, dr. Atitya Fitri Khairani, M.Sc., Sp.S (K) juga mengatakan bahwa penderita epilepsi harus rutin minum obat dalam jangka waktu lama karena terjadi gangguan kelistrikan di otak.

“Saat serangan epilepsi, ada kejadian muatan listrik berlebihan di otak. Meski penyakit ini tidak menular, namun membutuhkan pengobatan intensif dan waktu yang panjang,” imbuhnya.

Epilepsi bisa menyerang siapa saja. Namun, ada beberapa orang yang memiliki risiko lebih besar, misalnya orang dengan riwayat keluarga epilepsi, pernah mengalami cedera kepala, penderita stroke dan penyakit pembulu darah lain, demensia, infeksi otak, atau pernah mengalami kejang di masa kecil.

Karena epilepsi disebabkan oleh aktivitas abnormal di otak, kejang dapat memengaruhi setiap proses koordinasi otak. Beberapa tanda dan gejala ketika seseorang mengalami epilepsi antara lain kehilangan kesadaran, kebingungan sementara, otot terasa kaku, gerakan menyentak tak terkendali dari lengan dan kaki, tubuh gemetar, tatapan kosong, sesasi aneh seperti perasaan kesemutan atau mencium bau atau rasa tak biasa, gejala psikologis seperti kecemasan, bahkan sampai pingsan dan tidak ingat apa yang sudah terjadi.

Menurut WHO, orang dengan epilepsi juga cendering lebih banyak masalah fisik, seperti patah tulang dan memar akibat cedera yang berhubungan dengan kejang. Secara psikologis juga rentan mengalami kecemasan dan depresi.

Permasalahan Stunting Bisa Dicegah dengan Teknologi Nuklir, Bagaimana Caranya?

Penyebab dan pengobatan epilepsi

Pada sekitar 50 persen kasus secara global, penyebab epilepsi masih belum diketahui. Ada beberapa penyebab yang dibagi dalam beberapa kategori termasuk struktural, genetik, infeksi, metabolisme, kekebalan, dan tidak diketahui.

Beberapa contohnya meliputi kerusakan otak akibat penyebab prenatal seperti kehilangan oksigen, trauma saat lahir, atau berat badan rendah. Kemudian, bisa disebabkan oleh cedera kepala parah, stroke, infeksi otak seperti meningitis, tumor otak, pengaruh genetik, gangguan perkembangan seperti autisme, bahkan HIV.

Penderita epilepsi dapat menerima pengobatan seperti obat-obatan anti-epilepsi, operasi untuk mengangkat sebagian kecil otak yang menyebabkan kejang, prosedur untuk menempatkan perangkat listrik kecil di dalam tubuh yang dapat membantu mengendalikan kejang, hingga diet khusus yang dapat membantu mengontrol kejang.

Epilepsi biasanya merupakan kondisi seumur hidup, tetapi kebanyakan orang dengan epilepsi dapat hidup normal jika kejangnya terkontrol dengan baik. Namun, jika Anda merupakan pasien epilepsi, sebaiknya meminta saran dokter untuk melakukan hal-hal seperti mengemudi, berenang, mengerjakan pekerjaan tertentu, merencanakan kehamilan, dan lain-lain untuk menyesuaikan diri kondisi epilepsi.

Merokok Menyengsarakan Kesehatan dan Mencemari Lingkungan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini