Pasar Pundensari, Sajikan Kuliner Jadul dengan Iringan Tembang Jawa

Pasar Pundensari, Sajikan Kuliner Jadul dengan Iringan Tembang Jawa
info gambar utama

Desa Gunungsari adalah desa wisata berbasis budaya yang terletak di Kecamatan Madiun, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Secara visual, desa wisata ini sekilas seperti desa pada umumnya dengan keasriannya.

Beberapa meter dari gerbang masuk Desa Gunungsari terdapat sebuah gang sempit yang dibatasi tembok rumah samping kanan kiri berhias mural karya anak-anak setempat. Gang sempit itu rupanya mengantarkan para pengunjung ke punden Desa Gunungsari.

Berbeda dari punden pada umumnya yang biasanya terlihat sepi dan disakralkan, punden Desa Gunungsari ini justru terlihat meriah. Pasalnya area di sekitar punden desa itu telah disulap menjadi pasar templek (pesar kecil) yang kental tradisi Jawa.

Setiap hari Minggu pagi, punden desa yang kini memiliki sebutan Pasar Pundensari itu selalu ramai pengunjung. Puluhan orang berada di arena pasar wisata, mereka terlihat berkeliling dari satu lapak ke lapak pedagang yang lain.

Nama Pundensari digunakan lantaran pasar itu berada di areal punden desa. Kalau di desa lain yang dinamakan punden biasanya makam yang dikeramatkan. Di desa ini justru berupa 3 pohon yang dikatakan mulai langka, yakni pohon jenu, kemiri, dan tanjung.

Dinukil dari Solopos, Sabtu (18/6/2022), lapak pedagang di pasar tersebut dibuat dengan nuansa zaman dahulu, seperti atap dengan daun kelapa dan kerangka kiosnya terbuat dari bambu. Di pasar ini hanya menjual aneka kuliner saja.

Kisah Pasar Gembrong, Surga Mainan Anak yang Dilahap Si Jago Merah

Meja-meja pedagang menjual berbagai macam makanan tradsional dengan kemasan tradisional, tanpa plastik. Beberapa kuliner tradisional, seperti sego brokohan, es cendol, sate tahu, es gempol, nasi pecel, es dawet, dan lain sebagainya.

Setiap pedagang dan penyedia jasa di pasar ini pun memakai pakaian tradisional Jawa yang menambah keunikan pasar tersebut. Pasar wisata Pundensari memang dijadikan salah satu ruang untuk memberdayakan masyarakat setempat.

Di balik berdirinya Pasar Pundensari ada sosok sentral yang menjadi ujung tombak, yakni Bernadi Sabit Dangin yang akrab disapa Mas Bernard. Bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Gunungsari.

Mereka ingin membangkitkan gairah masyarakat untuk kembali ke kultur yang dekat dengan alam. Kemudian menyulapnya menjadi potensi ekonomi yang menguntungkan, karena itulah muncul gagasan pengelolaan pasar berbasis ramah lingkungan dengan corak era 70 an.

“Sebagian besar kuliner yang dijual adalah kuliner tradisional. Tetapi ada juga sebagian pedagang yang menjual kuliner kekinian, itu tujuannya supaya anak-anak muda juga punya pilihan saat berkunjung ke sini,” katanya.

Transaksi yang unik

Pasar Pundensari memang selalu ramai karena keunikannya. Selain pengunjung akan disambut dengan iringan tembang-tembang Jawa, nuansa etnik sudah mulai terasa ketika kita memasuki gerbang pasar. Semua bangunan lapak, serba bambu.

Termasuk alat tukar yang terbuat dari bambu juga. Di pasar ini memang tidak menggunakan uang cetakan Bank Indonesia (BI) melainkan menggunakan token dari bambu berwarna-warni yang disebut duit pering.

Bernard menyebut seluruh transaksi di pasar menggunakan duit pering yang telah disediakan. Untuk pecahannya ada Rp2.000, Rp10.000, dan Rp20.000. Penggunaan uang dari potongan bambu ini bertujuan untuk mempermudah penghitungan omzet pedagang.

Sementara itu untuk kuliner yang dijual di pasar ini pun beragam, mulai dari Rp1.000 hingga Rp15.000. Salah satu kuliner yang paling mahal dijual di sini adalah nasi brokohan dengan lauk ayam kampung senilai Rp15.000.

Selain menjual aneka jajanan tradisional, pasar ini pun menyediakan ragam permainan tradisional yang kini sulit dijumpai. Dikenalkan pada anak-anak, agar permainan ini menyenangkan, di antaranya permainan egrang, bakiak, hingga engklek.

Karena itulah, tidak berlebihan bila Pasar Pudensari disebut sebagian kecil dari surga, mengingat wilayahnya yang sejuk dengan pemandangan desa asri dan iringan langgam Jawa yang menghadirkan suasana tentram.

Jadi Pusat Belanja Sejak Ratusan Tahun Lalu, Ini Tiga Pasar Tertua di Indonesia

Karena kunikan ini, destinasi wisata desa ini mampu terus bertahan selama hampir tiga tahun. Hal ini tentu dibutuhkan kreator-kreator yang membuat kunjungan lokal stabil dan juga gencarnya promosi.

Mengutip dari Defacto, indikator stabilnya jumlah kunjungan bisa dilihat dari perputaran uang pedangang secara keseluruhan yang mencapai angka kisaran Rp10 juta sampai Rp15 juta. Padahal hanya dengan 20 pedagang.

Estimasi hitungan bila per orang menghabiskan Rp10.000 untuk makan dan minum, maka ada 1.000 pengunjung per minggu. Padahal pasar ini hanya buka mulai jam 06.00 WIB sampai jam 11.00 WB.

Sebagian besar pengunjung yang datang ke sini adalah warga yang ingin berwisata dengan nuansa berbeda. Salah satunya adalah Yusron, warga Kecamatan Dolopo yang mengaku sangat tertarik dengan konsep pasar wisata ini.

“Tadi mencicipi nasi brokohan, rasanya lumayan. Tempatnya yang istimewa, kita seperti menyantap kuliner di era zaman dahulu,” ujarnya.

Masyarakat sadar wisata

Keberhasilan Pasar Pundensari tidak hanya terletak dari sisi keunikannya saja. Namun karena destinasi wisata kuliner ini dikelola dengan manajemen yang baik dan juga terukur. Paling tidak, pengelola bisa melihat naik turunnya penghasilan para pedagang.

“Mengingat salah satu tujuannya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat,” papar Santoso dalam artikel “Ruh” Sadar Wisata Pasar Pundensari Kabupaten Madiun.

Selain itu, jelasnya, dengan melihat fluktuasi pengunjung membuat tim kreatif bisa mencari ide yang lebih segar. Tim kreatif yang cukup cerdas akan menyajikan hal baru dan menarik sehingga pengunjung tidak akan bosan.

Santoso menyebut pertunjukan seni budaya yang berganti-ganti di Pasar Pundesari, merupakan hasil pemikiran tim. Penampilan seni budaya ini katanya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari “ruh sadar wisata”.

Sementara itu, pihak pengelola juga tidak melupakan pelestarian alam ketika membuka tempat wisata ini. Hal ini terlihat dari kebijakan pengelola yang tidak memperbolehkan penggunaan kantung plastik.

Mengunjungi Beragam Pasar Tradisional Unik di Indonesia

Pasar ini sengaja tidak menggunakan plastik sekali pakai, karena itu para wisatawan yang ingin membawa pulang makanan, harus membawa kantong plastik atau tas sendiri dari rumah masing-masing.

“Ini sebagai langkah kecil untuk mengedukasi masyarakat agar mengurangi kebiasaan masyarakat dalam penggunaan kantung plastik sekali pakai,” tulis Adi Prabowo dalam Mari Singgah di Pasar Pundensari, Pasar Tradisional Jawa Bercorak 70an.

Adi menyebut wadah makanan yang digunakan para penjual di Pasar Pundensari tentu juga ramah lingkungan, seperti daun pisang, daun jati, hingga wadah dari perabot tanah liat dan batok kelapa untuk keperluan penyajian.

Menurutnya Pasar Pundesari yang kental nuansa budaya dan otentitas budaya Jawa sangat menarik bagi pengunjung. Banyak kesenian yang ditampilkan sehingga memberi hiburan para pengunjung saat menikmati makanan di sana.

Baginya ini alasan mengapa Pasar Pundensari menjadi menarik, karena latar belakang obyejknya yang dapat menjadi semacam jendela bagi masyarakat masa kini, agar dapat melihat potret kehidupan pasa masa silam.

“Mengunjungi Pasar Pundensari adalah tentang menikmati potret kecil Indonesia di era Kolonial atau era Orde Baru dari sisi positif,” pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini