Kisah Pasar Gembrong, Surga Mainan Anak yang Dilahap Si Jago Merah

Kisah Pasar Gembrong, Surga Mainan Anak yang Dilahap Si Jago Merah
info gambar utama

Kebakaran hebat terjadi di kawasan Pasar Gembrong, Jalan Jenderal Basuki Rahmat, Kelurahan Cipinang Besar Utara, Jatinegara, Jakarta Timur, pada Minggu (24/4/2022) sekitar pukul 21.00 WIB.

Kebakaran yang terjadi di kawasan padat penduduk ini mengakibatkan banyak kios dan rumah warga habis dilahap si jago merah. Total luas area yang terbakar adalah 1.200 meter persegi dan diperkirakan menghanguskan 400 unit yang terdiri dari rumah dan pertokoan.

“Objek terbakar 400 bangunan rumah dan pertokoan di RT 2, 3, 4, 5, dan 6 RW 01 (Kelurahan Cipinang Besar Utara),” kata Kasi Operasional Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Timur, Gatot Suleman.

Kebakaran ini merupakan kali ketiga bagi Pasar Gembrong. Sebelumnya pada 2015 dan 2017, kebakaran serupa juga pernah terjadi. Berdasarkan data Ikatan Pasar Indonesia (IKAPPI) setidaknya 1.000 pedagang menjadi korban kebakaran.

Wasekjen Pembinaan dan Pendidikan pedagang Pasar DPP IKAPPI, Ahmad Choirul Furqon, mengatakan dalam peristiwa tersebut pedagang mengalami kerugian hingga Rp2 Miliar. Hal ini diperparah karena kebakaran ini terjadi menjelang Lebaran.

Menjelang Lebaran atau hari raya Idulfitri biasanya menjadi momentum para pedagang mengais rezeki dengan menjual beberapa barang, salah satunya adalah mainan anak-anak. Pasar Gembrong dalam sejarahnya memang terkenal sebagai surga mainan anak.

Jadi Pusat Belanja Sejak Ratusan Tahun Lalu, Ini Tiga Pasar Tertua di Indonesia

Pasar Gembrong sudah ada sejak tahun 1960-an, letaknya di Jalan Jenderal Basuki Rachmat. Tidak jauh dari terminal Kampung Melayu, Jakarta. Awalnya warga di sana menjual sayur mayur dan sebagainya.

Kata gembrong sendiri berasal dari bahasa Sunda yang memiliki arti dikerumuni. Usut punya usut, ternyata kata tersebut diambil karena sejak awal berdiri, pasar ini sudah ramai dengan transaksi jual beli.

Setelah terjadi peristiwa kerusuhan pada tahun 1998, banyak kios-kios yang ada di Pasar Gembrong ini beralih dagangannya dengan berbagai macam mainan anak. Dan beberapa di antaranya menjual keperluan untuk sekolah.

Mainan yang dijual di tempat ini, ada yang buatan lokal dan ada pula yang buatan luar negeri seperti China. Mainan anak yang dijual di tempat ini terbilang bervariasi, mulai dari mobil-mobilan, boneka, rumah barbie, yoyo, gasing, congklak, dan tembak-tembakan.

Momen mendekati hari Lebaran menjadi puncak kepadatan di Pasar Gembrong. Lantaran banyak orang tua dan anak yang datang untuk membeli mainan, setelah mendapat angpao Lebaran.

Relokasi hingga terbakar

Haji Bahruddin merupakan orang yang pertama kali membuka kios mainan, setelah itu banyak orang mulai mengikuti. Tidak lama setelah itu, Pasar Gembrong menjadi pusat mainan harga grosir yang tidak kalah dengan Tanah Abang dan Asemka.

Akibat ramainya transaksi di pasar ini menyebabkan kemacetan di sepanjang jalan Jenderal Basuki Rahmat. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun merelokasi sebagian pedagang ke bangunan baru bernama Pasar Gembrong Cipinang Besar.

Pasar Gembrong memang bukan satu-satunya pusat mainan di Jakarta. Namun, pasar ini menjadi incaran karena harga produknya yang lebih murah, hal ini karena adanya impor asal China.

“95 persen produk yang saya jual di sini dari China,” jelas salah satu pedagang mainan anak bernama Firman, mengutip Merdeka.

Firman mengaku produk China yang dijualnya memiliki harga lebih murah dengan kualitas yang lumayan bagus untuk dikoleksi anak-anak. Paling tidak setiap bulannya dia mengaku mendapatkan keuntungan mencapai Rp35 juta.

Nur, salah satu pedagang mainan di Pasar Gembrong menyebut tahun 2000-an merupakan masa kejayaan bagi pedagang toko mainan. Penghasilan yang didapat pun bisa dikatakan sangat mencukupi kebutuhan hidup di ibu kota.

Namun seiring berjalannya waktu entah mengapa Pasar Gembrong terlihat tidak seramai dahulu. Perkembangan teknologi yang akhirnya memunculkan banyaknya game online dan video gim ternyata memberikan pukulan bagi para pedagang.

Mengunjungi Beragam Pasar Tradisional Unik di Indonesia

Tetapi menurut Nur, sepinya pelanggan bukan karena kemajuan teknologi dan munculnya game online, melainkan karena banyaknya pemberitaan yang menyampaikan bahwa Pasar Gembrong sudah digusur, sehingga pelanggan yang jauh enggan datang ke sana.

Sejak bulan September 2017 silam, kabar Pasar Gembrong yang akan digusur untuk proyek pembangunan jalan Tol Becakayu mengemuka. Ketika itu Pimpinan proyek PT Kresna Kusuma Dyandra Marga mengaku telah berhasil mencapai kesepakatan dengan warga.

Sandiaga Uno yang ketika itu menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta mengatakan, pihaknya tidak akan menelantarkan para pedagang. Pemprov DKI akan merelokasi para pedagang dari pasar itu.

Namun, karena masih belum jelasnya proses relokasi dan sepinya pengunjung yang datang ke tempat baru, para pedagang kembali memenuhi tempat lama. Namun saat sedang memenuhi dan kembali mengais rezeki, kebakaran memberi derita bagi para pedagang.

Berkah dari surga mainan anak

Artis dan presenter, Arie Untung turut merasakan kesedihan atas peristiwa kebakaran Pasar Gembrong. Bukan hanya kepada korban, tetapi juga karena ada kenangan tersendiri baginya terhadap tempat tersebut.

Arie mengatakan lokasi tempat terjadinya kebakaran di Pasar Gembrong tidak jauh dari lokasi syutingnya terdahulu. Selain dekat, Pasar Gembrong juga menjadi pilihan suami dari Fenita Arie ini untuk membeli mainan buat anak mereka.

“Sering kesana waktu cari mainan. Excited banget karena baru punya anak pertama dan buat oleh-oleh,” terang presenter 46 tahun tersebut melalui akun instagram pribadinya.

Sejak lama Pasar Gembrong memang masyhur sebagai primadona bagi orang tua membeli mainan anak. Warga Jakarta dan sekitarnya sudah mengakui itu. Reni (29), warga Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara di antaranya.

Menumbuhkan Kembali Ekonomi Pasar dengan Protokol Kesehatan

Dia mengatakan Pasar Gembrong masih menjadi tempat andalan untuk berbelanja mainan anak dengan harga murah. Alasan ini yang membuatnya dan sang suami rela menempuh perjalanan sekitar satu jam dari rumahnya untuk ke Pasar Gembrong.

Pasar Gembrong memang kian subur menjadi ‘surga’ mainan anak. Ribuan produk merek lokal maupun impor dibanderol miring. Selama kuat untuk menawar, barang setengah harga pasaran pun bisa dibawa pulang.

Unan (53), pemilik kios ukuran 5x6 meter persegi berpapan nama Holanda tersenyum cerah menyambut kedatangan Michael bersama sang ayah yang sudah kali ketiga menyambangi kiosnya.

Michael Joseph, begitu nama lengkap bocah berusia lima tahun berperawakan mungil itu, bergegas turun dari pundak Richard, ayahnya dan menghampiri mobil-mobil yang berderet di teras kios dengan penuh minat.

Menjelang perayaan Natal, memang sudah menjadi kebiasaan bagi keluarga Richard berburu mainan anak di Pasar Gembrong. Mobil bermesin aki buatan China itu akhirnya dilepas dengan harga Rp1,6 juta.

Harga itu, disebut Richard, menjadi yang paling murah dibandingkan produk sejenis pedagang mal yang bisa dibanderol hingga Rp3 juta hingga Rp4 juta per unit. Namun meski hanya untung ‘tipis’, dari kios itulah Unan mampu sampai ke Tanah Suci.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini