Pesona Desa Hilisimaetano Nias, Dari Rumah Adat, Tarian Perang, Hingga Batu Megalitik

Pesona Desa Hilisimaetano Nias, Dari Rumah Adat, Tarian Perang, Hingga Batu Megalitik
info gambar utama

Membahas soal Nias, salah satu yang akan langsung teringat adalah tradisi lompat batu atau fahombo. Dalam tradisi tersebut, para pemuda akan melompati tumpukan batu setinggi dua meter sebagai tanda bahwa mereka pantas dianggap dewasa dan menjadi kebanggan bagi keluarganya.

Fahombo batu memang telah menjadi ikon Nias dan merupakan salah satu atraksi menarik bagi wisatawan. Di Desa Hilisimaetano, Anda bisa bertemu dengan anak-anak yang sedang latihan lompat batu setiap akhir pekan sekaligus sebagai cara untuk melestarikan tradisi mereka.

Keunikan Nias sendiri tak berhenti di lompat batu, ada banyak daya tarik yang bisa ditemukan ketika Anda mengunjunginya. Salah satunya di Desa Hilisimaetano, Kecamatan Maniamolo, Nias Selatan, Sumatra Utara. Desa adat dan budaya yang sudah berusia ratusan tahun tersebut masih terus menjaga nilai adat istiadat serta peninggalan para leluhur.

Atas segala potensinya, Desa Hilisimaetano pun akan dikembangkan menjadi desa wisata berkelanjutan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Uniknya Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Punya 40 Ribu Koleksi dan Bioskop Gratis

Daya tarik Desa Hilisimaetano

Desa Hilisimaetano | jadesta.kemenparekraf.go.id
info gambar

Dalam kunjungannya ke Desa Hilisimaetano, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, mengungkapkan kekagumannya terhadap adat istiadat dan budaya di sana yang masih dijaga dengan baik oleh masyarakat.

"Kekentalan adat budaya lompat batu, tari perang, tari harimau, sampai penganugerahan tadi sudah saya nikmati. Dan saya melihat kekentalan sejarah dan budaya, saya melihat ini adalah atraksi utama kita, tradisi budaya untuk mempromosikan pariwisata dan ekonomi kreatif Nias Selatan. Dan ini adalah pariwisata berbasis komunitas," kata Menparekraf.

Ketika mengunjungi desa wisata tersebut, pengunjung dapat melihat batu megalitik yang menjadi tanda bahwa pada zaman megalitikum masyarakat Nias menggunakan peralatan dari batu besar. Kemudian juga ada 50 bangunan rumah adat yang terpeliharan dengan baik, meski salah satu yang tertua runtuh akibat tsunami Aceh tahun 2004.

Keunikan lain dari desa ini adalah sistem pemerintahannya yang masih mengikuti adat. Sistem kepemimpinan desa masih dipegang oleh Si’ulu atau Raja yang merupakan kaum bangsawan Nias. Sementara itu Si’ila atau para cendekiawan berperan sebagai penasihat bangsawan. Dalam sistem ini, Dan Sato atau Fa’abanuasa (masyarakat) terus bergotong-royong dalam menjaga Lakhömi mbanua (marwah desa).

Masyarakat desa ini juga punya tradisi kerajnan tangan yaitu membuat anyaman topi caping, pahatan, ukiran, dan pedang besi (manöfa) yang dulunya berfungsi sebagai alat perang. Pada zaman dahulu, ketika menang perang melawan musuh, maka kepala musuh akan disematkan di ujung sarung pedang.

Selain itu, Desa Hilisimaetano juga memiliki kawasan persawahan terbesar di Nias Selatan dan memiliki potensi besar untuk dijadikan daerah agrowisata.

"Sekarang kami sangat khawatir dengan adanya ancaman krisis pangan, krisis energi, tapi Nias Selatan ini khususnya di Desa Wisata Hilisimaetano justru memiliki potensi untuk bisa memiliki ketahanan pangan dan kemandirian energi ini bisa kita kembangkan ke depan," ujar Sandiaga.

Untuk dikembangkan menjadi desa wisata berkelanjutan, Desa Hilisimaetano akan bebenah, mulai dari fasilitas toilet dan penginapan. Desa ini akan mengembangkan produk ekonomi kreatifnya agar lapangan kerja semakin terbuka dan meningkatkan penghasilan masyarakat.

"Kita akan memberikan pendampingan, pelatihan, kita akan ada peningkatan destinasi wisata lainnya, seperti toilet, begitupun dengan homestay karena di sini hanya ada satu, kita akan tingkatkan, juga kita ingin jadikan desa wisata ini sebagai tujuan wisata selagi ada WSL Pro, untuk membangkitkan ekonomi masyarakat," jelasnya.

Gunung Rinjani Segera Punya Kereta Gantung Terpanjang di Dunia

Rumah adat Nias

Oma Sebua | Wikimedia Commons
info gambar

Seperti yang sudah disebutkan, di Desa Hilisimaetano kita masih bisa melihat rumah adat Nias. Salah satunya adalah Oma Sebua, rumah tradisional yang dibangun di pusat desa khusus untuk kediaman para kepala negeri (tuhenori), kepala desa (salawa), atau kaum bangsawan.

Oma Sebua dibangun di atas tumpukan kayu uli besar dengan atap menjulang. Di budaya Nias dulunya sering terjadi perang antar desa sehingga desan rumah pun dibuat agar tahan terhadap serangan. Omo Sebua sendiri punya satu akses masuk lewat tangga sempit dengan pintu kecil. Omo Sebua juga terbukti tahan gempa karena pondasinya berdiri di atas lempengan batu besar dan balok diagonal.

Kemudian ada Omo Hada, yang dihuni masyarakat biasa. Rumahnya berbentuk persegi dengan pintu yang menghubungkan setiap rumah. Di Nias juga ada Osali, rumah yang dulunya dipakai secara khusus untuk menyimpan berhala.

Kesejukan Taman Suropati, Tempat Rekreasi Favorit dari Zaman Kompeni

Famato Harimao

Famatö Harimao | jadesta.kemenparekraf.go.id
info gambar

Selain fahombo batu, atraksi budaya lain yang menarik dari desa wisata ini adalah famato harimao yaitu ritual sakral yang digelar setiap tujuh atau 14 tahun. Famato harimao merupakan ritual tolak bala dan penetapan hukum adat yang berlaku di Desa Hilisimaetano dan sekitarnya. Upacara akan dimulai dengan doa-doa kuni atau fo'ere dan mengarak patung lawolo faoto atau patung harimau dengan iringan prajurit-prajurit desa.

Patung harimau yang diarak tampak seperti anjing dengan kepala kucing bertaring. Patung tersebut kemudian akan dipatahkan dan dilempar ke jurang di tebing Sungai Gomo dan melambangkan penghapus dosa dan kesalahan manusia.

Famato haromao juga menjadi momen pertemuan para tetua adat untuk memahami dan mengesahkan hukum adat baru. Namun, saat ini tradisi tersebut bergeser menjadi famadaya harimao atau perarakan patung harimau yang diselenggarakan untuk melestarikan kebudayaan semata.

Kemudian juga ada tari faluaya atau maluaya, tarian perang yang dipentaskan oleh para prajurit dengan menggunakan aksesori dan perlengkapan perang. Selain itu, ada atraksi fatale, sebuah ajang duel antar prajurit yang akan unjuk keahlian dalam memainkan pedang, tombak, dan perisai.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini