Gunung Rinjani Segera Punya Kereta Gantung Terpanjang di Dunia

Gunung Rinjani Segera Punya Kereta Gantung Terpanjang di Dunia
info gambar utama

Pembangunan kereta gantung menuju Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat, akan segera direalisasikan. Proyek tersebut akan dikerjakan oleh PT Indonesia Lombok Resort. Nantinya, perusahaan tersebut akan membuat kereta gantung dengan panjang sekitar 10 meter dan digadang-gadang akan menjadi kereta gantung terpanjang di dunia.

Keberadaan kereta gantung tersebut bertujuan untuk memudahkan semua kalangan masyarakat untuk dapat menikmati keindahan Gunung Rinjani dan sekitarnya. Sasaran dari kereta gantung ini adalah mereka yang tidak mampu melakukan pendakian konvensional dan wisatawan yang menginginkan kecepatan untuk mencapai titik tertentu di Gunung Rinjani.

Kereta gantung di kawasan geopark secara global memang bukan hal asing. Beberapa negara juga memilikinya, seperti kereta gantung di Gunung Pilatus Swiss yang merupakan bagian dari Pegunungan Alpen dengan panjang jalur 2,8 Km, kereta gantung di Adamello Brenta Italia dengan panjang jalur 2-3 Km, dan kereta gantung Hakone Gunung Fuji dengan panjang 1,2 Km.

Saat ini, pembangunan kereta gantung di Gunung Rinjani masih dalam tahap awal dan terbilang menuai kontroversi karena dikhawatirkan dapat merusak lingkungan.

Batu Angus, Geowisata Unik di Ternate dari Letusan Gunung Gamalama

Progres pembangunan kereta gantung

Gunung Rinjani | Wikimedia Commons
info gambar

Muhammad Roem selaku Kepala Dinas Penanaman Modal dan Layanan Terpadu Satu Pintu Provinsi NTB mengatakan bahwa proyek kereta gantung Gunung Rinjani ini rencananya akan didanai oleh investor China senilai Rp600 miliar. Dana itu nantinya akan diberikan melalui duta besar China yang ada di Indonesia.

Saat ini Pemda NTB bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta PT Indonesia Lombok Resort masih dalam tahap mengkaji perihal anasilis dampak lingkungan (AMDAL) terhadap pembangunan tersebut.

Kajian AMDAL tersebut akan dilakukan selama empat bulan, sejak dana masuk ke rekening duta besar China di Indonesia. Sementara itu dari pihak investor saat ini tengah melengkapi data dan dokumen master plan terkait pembangunan kereta gantung.

Berdasarkan hasil kajian sementara, proyek kereta gantung itu diyakini tidak akan merusak ekologis hutan yang ada di sisi taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) karena akan dibangun di luar kawasan TNGR. Ia juga menjelaskan bahwa pembangunan kereta gantung ini telah mendapatkan izin dari Pemerintah Provinsi NTB dan DED (Detail Engineering Design) sudah masuk ke Pemda NTB.

Rencana pembangunan kereta gantung ini akan berlokasi di kaki Gunung Rinjani, tepatnya di wilayah Desa Lantan, Lombok Tengah. Setelah pembangunan rampung, proyek ini diyakini dapat menyerap tenaga kerja lokal dan untuk biaya sekali naik kereta gantung ini diperkirakan sekitar Rp500 ribu per orang.

Sebelumnya pada bulan April silam, Kepala Balai TNGR Dedy Asriady juga menyatakan bahwa rencana pembangunan kereta gantung ini akan dibangun di luar kawasan TNGR. Untuk lokasinya akan berada di kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi NTB dan Pemda.

Kata Dedy, ketika nanti rencana pembangunan kereta gantung terealisasi tidak akan melintasi kawasan TNGR, baik puncak Rinjani maupun Danau Segara Anak. Posisinya sendir akan ada di kawasan Tahura dan hutan lindung KPH Tastura dan Rinbar.

Adapun total luas lahan yang disiapkan adalah 500 hektare. Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, Madani Mukarom, pengerjaan proyek nantinya tidak akan banyak menebang pohoh sehingga tidak mengganggu sumber air. Nantinya jarak antar tiang pun akan dibuat seperti pembangunan tiang listrik. Pun kerusakan hutan akibat pembangunan akan diperbaiki oleh perusahaan, tetapi tidak akan sampai membuat hutan gundul apalagi kritis.

Tanagupa, Rumah Bagi Ribuan Orang Utan yang Dijuluki Taman Eden

Pro kontra pembangunan kereta gantung

Gunung Rinjani | Wikimedia Commons
info gambar

Kontroversi soal proyek ini sebetulnya bukan hal baru. Bahkan, sejak tahun 2016 wacana pembangunan kereta gantung di Gunung Rinjani sudah pernah disampaikan oleh Bupati Lombok Tengah saat itu, yaitu Suhaili FT. Sejak wacana itu diumumkan, masyarakat dan pemerintah NTB sama-sama menentang ide tersebut dengan pertimbangan ada potensi untuk merusak lingkungan.

Namun, Gubernur NTB Zulkieflimansyah meminta kepada masyarakat agar dapat menyikapi rencana ini dengan bijak. Pasalnya, keberadaan fasilitas terbaru ini akan memudahkan masyarakat dalam menikmati kekayaan lingkungan dan bukan merusak hutan.

Ide ini juga sempat mendapat penolakan dari para porter yang khawatir lahan pekerjaannya akan hilang. Menurut Zulkieflimansyah, hal ini memang tidak dapat ditepis bahwa pembangunan kereta gantung akan berdampak pada pekerjaan porter, tetapi menurutnya tidak akan sampai keseluruhan karena para pendaki masih akan membutuhkan jasa porter.

Pada kesempatan berbeda, Ketua DPRD NTB Hj Baiq Isvie Rupaeda mengatakan bahwa pembangunan ini bagi masyarakat tidak ada persoalan, yang penting komitmen dari pemerintah untuk memastikan warga mendapat manfaat dari fasilitas itu. Apalagi keberadaan kereta gantung ini dinilai sebagai terobosan untuk mempermudah layanan wisata yang pada akhirnya dapat meningkatkan kunjungan wisatawan.

“Jika wisatawan meningkat maka yang dapat menerima manfaatnya tentu masyakat sekitar,” tambahnya.

Menyoal pembangunan kereta gantung ini, Dewan Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia NTB, Dwi Sudarsono, menyarankan agar pemerintah NTB mengkaji AMDAL secara mendalam mengingat Gunung Rinjani merupakan kawasan geopark yang sudah masuk UNESCO. “Jadi harus jeli komisi Amdal-nya, jangan sampai kebobolan. Kita tahu sama-sama ini kawasan hutan, kami minta lebih hati-hati mengkaji dampak lingkungannya dan harus lebih ketat,” ujar Dwi.

Menurut pendapat Dwi, terdapat perbedaan karakter di lokasi yang akan dibuat kereta gantung tersebut. Ia menilai, lokasi di Rinjani ini lebih sulit dan rentan merusak ekologi. Berbeda dengan kereta gantung di Swiss yang gunungnya bersalju dan keras. Sedangkan di Rinjani adalah kawasan hutan dan agak susah membongkar lokasi untuk pembuatan tower kereta.

Ia juga menambhakan bahwa proyek ini harus dikaji lebih dalam soal dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. “Perlu dilihat juga dampak ekonomi yang akan dinikmati oleh masyarakat, sebagai pelaku wisata. Ini kan seolah-olah berpotensi mematikan pendakian jalur utara dan timur di Rinjani,” tegasnya.

Pulau Kaget, Habitat Bekantan Tersembunyi di Sungai Barito

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini