Uniknya Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Punya 40 Ribu Koleksi dan Bioskop Gratis

Uniknya Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Punya 40 Ribu Koleksi dan Bioskop Gratis
info gambar utama

Membahas soal museum di Yogyakarta, Anda mungkin sudah mengenal nama-nama Museum Ulen Sentalu, Museum Gunung Api Merapi, Museum Benteng Vredeburg, Museum Affandi, ataupun Museum Keraton Yogyakarta.

Selain museum-museum tersebut, ada juga Museum Sonobudoyo yang tak kalah menarik untuk dikunjungi jika sedang berlibur di Yogyakarta. Keunikan dari museum yang satu ini adalah menampilkan koleksi yang berkaitan dengan kebudayaan Jawa.

Dengan segala koleksi yang berhubungan dengan tradisi dan budaya, pihak pengelola tetap berupaya untuk menyasar pengunjung anak muda dengan mempromosikan museum di media sosial.

Museum Sonobudoyo memiliki slogan yaitu "Ana, Anjaga, Ambudhaya" yang artinya Sonobudoyo ada untuk menjaga dan merawat kebudayaan. Sejak awal didirikan, museum ini bertujuan untuk mengumpulkan, melestarikan, dan membina warisan budaya yang selanjutnya disajikan kepada masyarakat.

Bangunan museum ini sebenarnya terdiri dari dua unit. Museum Sonobudoyo Unit I terletak di Jalan Trikora dan Unit II berada di Ndalem Condrokiranan, Wijilan. Berikut berbagai ruang pamer dan koleksi yang ditampilkan di Museum Sonobudoyo:

Pasar Pundensari, Sajikan Kuliner Jadul dengan Iringan Tembang Jawa

Sejarah Museum Sonobudoyo

Ruang pamer museum | sonobudoyo.com
info gambar

Museum Sonobudoyo telah didirikan pada tahun 1934 dan diresmikan setahun setelahnya oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Dulunya, museum ini adalah yayasan yang bergerak di bidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali, dan Lombok. Yayasan yang berdiri di Surakarta sejak tahun 1919 itu bernama Java Instituut. Museum pun didirikan di tanah bekas “Shouten” yang merupakan hadiah dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII.

Museum Sonobudoyo unit I memiliki luas sekitar 7.800 m2 dan terdiri dari 11 ruangan meliputi Ruang Pengenalan, Ruang Prasejarah, Ruang Klasik dan Islam, Ruang Batik, Ruang Wayang, Ruang Wayang Golek, Ruang Topeng, Ruang Senjata, Ruang Jawa, Ruang Bali, dan Ruang Dolanan Anak.

Bangunan museum berbentuk rumah tradisional joglo dengan arsitektur masjid keraton kesepuhan Cirebon yang dirancang oleh Ir. Th. Karsten. Museum ini juga punya pendopo dengan koleksi gamelan bersejarah seperti susunan Gamelan Slendro-Pelog yang bernama Kyai-Nyai Riris Manis Yasan, hadiah dari Sri Sultan Hamengkubuwono VI. Kemudian, di luar pendopo, pengunjung dapat melihat dua buah meriam serta arca dan relief peninggalan umat Hindu-Buddha yang menggambarkan Makara, Mahakala, dan Dewi Laksmi.

Kesejukan Taman Suropati, Tempat Rekreasi Favorit dari Zaman Kompeni

Ruang pamer dan koleksi museum

Ruang pamer museum | sonobudoyo.com
info gambar

Salah satu yang membuat museum ini terasa unik karena memiliki sebuah bioskop yang buka setiap hari untuk menayangkan film-film karya orang Yogyakarta. Pemutaran film dibagi menjadi beberapa jam tayang dan bagi yang ingin mencoba pengalaman nonton di museum ini dapat diakses secara gratis.

Selain itu, Museum Sonobudoyo termasuk salah satu museum yang memiliki koleksi terbanyak. Secara keseluruhan, total koleksi di museum ini mencapai 43.263 buah yang terdiri dari batik, topeng, arca, keramik, gerabah, senjata, patung, dan masih banyak lagi.

Secara umum, koleksi di Museum Sonobudoyo dibagi dalam 10 kategori yaitu numismatik dan heraldika yang terdiri dari mata uang logam, mata uang kertas, serta tanda jasa dan pangkat resmi seperti cap dan stempel. Kemudian ada koleksi filologi seperti naskah kuno yang menguraikan sebuah peristiwa. Ada pula koleksi keramologika dari bahan tanah liat bakar seperti guci.

Selain itu, ada koleksi seni rupa berupa objek dua atau tiga dimensi, seni teknologi seperti gramofon, juga koleksi geologi seperti batuan, mineral, hingga fosil. Untuk koleksi biologi, ada burung yang dikeringkan dan koleksi arkeologi berupa peninggalan manusia dari zaman pra sejarah sampai dengan masuknya pengaruh kebudayaan barat.

Juga koleksi etnografi yang menggambarkan identitas suatu etnis seperti kacip dan koleksi historika yang bernilai sejarah, misalnya meriam dan senapan laras panjang.

Koleksi tersebut dipamerkan di ruang berbeda sesuai kategori. Misalnya di Ruang Pengenalan ada koleksi pasren atau krobongan, tempat menyepi dan berdoa dalam adat tradisional Jawa. Pasren ini terdiri dari tempat tidur, bantal-guling, kelambu, lampu robyong dan jlupak, dan sepasang patung Loro Blonyo.

Kemudian di Ruang Pra Sejarah ada koleksi yang menggambarkan bagaimana kehidupan manusia pada saat belum mengenal tulisan, berburu, dan bercocok tanam dengan cara sederhana. Pada masa itu, manusia juga melakukan upacara-upacara yang berhubungan dengan roh, nenek moyang, dan penguburan. Di ruangan ini, pengunjung bahkan bisa melihat kerangka tulang manusia yang dikubur di peti kaca.

Selanjutnya di Ruang Klasik dan Islam terdapat berbagai koleksi bernuansa religi, seperti Al-Qur’an tertua, naskah lama, dan koleksi yang berhubungan dengan penyebaran agama Islam.

Memasuki Ruang Batik, Anda bisa melihat koleksi batik, proses membatik, hingga pakaian adat Jawa untuk pernikahan. Sementara itu di Ruang Wayang dan Topeng ada banyak jenis wayang dari berbagai daerah, dari yang berbahan kulit sapi hingga replika wayang orang. Kemudian ada koleksi topeng-topeng kayu yang ditata apik.

Museum Sonobudoyo juga memiliki koleksi keris lengkap yang jumlahnya sekitar 1.200 buah dan berasal dari berbagai daerah seperti Jawa, Aceh, Bali, Sulawesi, hingga Kalimantan. Untuk koleksi senjata juga beragam, seperti tombak, patrem, kapak, wedhung, hingga celurit.

Uniknya Desa Wisata Limbo Wolio, Punya Benteng Terluas di Dunia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini