Wabah Pes dan Kegetiran Jemaah Haji Lakukan Karantina di Pulau Onrust

Wabah Pes dan Kegetiran Jemaah Haji Lakukan Karantina di Pulau Onrust
info gambar utama

Ibadah ke Tanah Suci, bukan perkara mudah, seorang Muslim perlu memiliki kekuatan harta dan tenaga agar bisa sampai ke sana. Pada masa lalu, jemaah haji berangkat tidak menggunakan pesawat, namun dengan kapal laut.

Di berbagai literatur, durasi jemaah haji dari berangkat hingga sampai ke rumah cukup bervariasi, mulai dari sebulan hingga mencapai 10 bulan. Bahkan dalam banyak kasus, keluarga sama sekali tidak mengetahui jenazah anggota keluarganya,

Sebab, ketika dalam perjalanan ataupun pulang, jemaah haji bisa saja meninggal di atas kapal. Sehingga jenazahnya akan dilarung ke laut, tidak menunggu sampai ke daratan untuk dimakamkan.

Namun bila mencapai ke daratan, pada masa silam, para jemaah ini akan dikarantina terlebih dahulu. Salah satu tempat karantina bagi para jemaah haji adalah di Pulau Onrust, salah satu dari gugusan Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.

Pulau yang semula luasnya 12 hektare ini kini tinggal 7,5 hektare akibat abrasi. Bila ingin mencapai pulau ini, wisatawan bisa melalui tiga pelabuhan, yakni Marina Ancol, Angke, dan Muara Kamal.

Onrust sendiri dalam bahasa Belanda berarti “tanpa istirahat”. Penyebutan nama Onrust sendiri berasal dari sejarah pulau ini yang pernah menjadi galangan kapal. Karena itulah masyarakat sekitar masih menyebutnya pulau kapal.

Dari Gorontalo ke Makkah, 3 Warga Indonesia Bersepeda untuk Menunaikan Haji

Pulau Onrust dipilih sebagai pusat karantina para jemaah haji akibat wabah pes. Tindakan itu diambil setelah wabah yang menewaskan hampir 200 ribu korban warga pribumi dan orang Eropa di Hindia Belanda.

Wabah ini menyerang mulai dari Jawa Timur, sebagai episenter wabah, kemudian Jawa Barat, Jawa Tengah. Penyakit ini terdeteksi dibawa oleh para penumpang kapal laut yang baru pulang dari ibadah haji.

Jurnalis dan sejarawan Betawi, Alwi Shahab membantahnya dengan menyebut wabah pes ini diakibatkan oleh tikus yang berasal dari kapal yang mengangkut beras dari Rangon (kini Yangon) dan juga Burma (kini Myanmar).

Tetapi bagaimanapun, ucap Alwi, Belanda tetap ingin mengkarantina para jemaah haji sepulang mereka dari Tanah Suci. Dan Onrust yang dianggap sebagai pulau terpencil dipilih sebagai tempat itu.

“Selama karantina mereka harus tinggal di pulau ini selama lima hari. Bahkan kadang-kadang lebih lama lagi tergantung kesehatan para jemaah yang bersangkutan,” tulis Alwi dalam Cerita Penderitaan Jamaah Haji di Pulau Onrust yang dimuat di Republika, Rabu (29/6/2022).

Penderitaan di Pulau Onrust

Karena wabah pes yang mulai melanda, Belanda memutuskan untuk membangun pusat karantina di Pulau Onrust. Pembangunan karantina ini menelan biaya 607 gulden, yaitu sebanyak 35 barak yang dapat menampung 3500 jemaah haji.

Begitu selesai dibangun pada 1911, tempat karantina Onrust langsung digunakan saat itu pula. Pulau yang telah ditempati Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) sebelum menaklukan Jakarta pada abad ke 17, ini berubah fungsi menjadi karantina haji.

Juru tulis karantina haji pada 1919, Basirun Prawiroatmodjo ketika diwawancarai Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta menceritakan para calon jemaah haji pertama kali turun di Pulau Cipir yang bersebelahan dengan Pulau Onrust.

Para jemaah ini satu per satu akan dicek oleh dua orang petugas. Usai pemeriksaan, mereka harus menanggalkan seluruh pakaiannya, diganti dengan pakaian karantina, Kemudian mereka diperiksa oleh seorang dokter.

“Bila ada yang membawa bibit penyakit menular diharuskan tinggal di stasiun karantina di Pulau Cipir. Karantina ini dibangun bersamaan dengan karantina di Pulau Onrust,” jelas Basirun yang bertugas di pulau ini hingga 1958.

Para jemaah yang dinyatakan sehat, kemudian akan dibawa ke Pulau Onrust. Mereka akan naik eretan atau getek dari ujung dermaga ke Pulau Cipir ke Pulau Onrust. Eretan ini hanya dapat menampung 8-10 orang.

Digambarkan oleh Basirun, menaiki eretan ini sangatlah berbahaya, terutama bila air sedang pasang. Namun menurut catatannya, tidak pernah ada laporan kecelakan seperti terseret gelombang saat menaikinya.

Ketika sudah tiba di Onrust dari Cipir, para jemaah haji ini akan kembali diperiksa kesehatannya oleh seorang dokter. Ada juga enam orang petugas bangsa Belanda yang turut menangani jemaah haji.

Calon jemaah haji yang sehat langsung diizinkan berangkat menuju Tanah Suci. Sedangkan jemaah yang sakit atau tertular wabah akan dirawat selama beberapa hari hingga sembuh. Namun ironisnya banyak dari mereka yang tidak mampu membayar biaya perawatan.

“Sebagai gantinya, setelah sembuh dari sakit, (jemaah haji) membayarnya dengan dengan ikut sebagai tenaga kerja paksa,” ujar Plt Kepala Unit Pengelola Museum Bahari, Berkah Shadaya yang dikabarkan DetikX.

Mendapat gelar “haji”

View this post on Instagram

A post shared by Taman arkeologi onrust (@pulau_onrust)

Tidak hanya saat berangkat, para jemaah haji yang pulang dari Tanah Suci pun harus singgah ke Pulau Onrust dan Cipir. Mereka harus menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum kembali ke daerah masing-masing.

Karantina ini prosedurnya sama dengan yang dilakukan ketika berangkat ke Tanah Suci. Karantina akan dilakukan selama sepekan, bahkan bisa lebih bergantung pada kondisi kesehatan yang bersangkutan.

“Pulang dari Onrust, mereka mendapatkan sertifikat haji dari Pemerintah Belanda untuk membuktikkan bahwa mereka sudah lulus dari karantina. Maka, dari situlah asal mula orang Indonesia menggunakan gelar haji atau hajah di depan namanya,” ungkap Rucky Nellyta, kasi Koleksi dan Perawatan, Taman Arkeologi Onrust.

Di pulau itu, pemerintah kolonial tidak hanya mencegah penyakit, namun juga menyeleksi para jemaah yang pulang dari Tanah Suci. Belanda tidak ingin para jemaah yang jumlahnya puluhan ribu orang menyebarkan semangat melawan kolonial di Tanah Air.

Perang Jawa (1825-1830) dan pemberontakan-pemberontakan petani yang dilakukan sepanjang paruh kedua abad 19, dipelopori para pemuka agama dan haji. Realita inilah yang membuat Belanda melihat para haji ini dengan penuh kewaspadaan.

Dimuat di Tirto, setidaknya ada dua Gubernur Jenderal pada awal abad 19 yang mulai menyadari bahaya politik dari para haji ini, yakni Herman Willem Daendels dan juga Thomas Stamford Raffles.

Namun, ada juga jemaah haji yang meninggal di Pulau Onrust dan dikuburkan dengan sangat sederhana. Mereka tidak mendapatkan perawatan atau fasilitas seperti orang-orang Belanda yang meninggal di pulau tersebut.

“Jenazah-jenazah para haji dimakamkan di sembarang tempat dan sama sekali tidak memperhitungkan arah kiblat. Di Pulau Onrust masih dijumpai sejumlah makam warga Belanda,” catat Alwi.

Kini kedua pulau itu merupakan tempat rekreasi yang tiap akhir pekan ramai dikunjungi, khususnya di Pulau Bidadari. Di sini wisatawan bila melihat benteng peninggalan VOC ketika mereka menjadikannya sebagai tempat rekreasi.

Sedangkan di Pulau Onrust, rumah dokter karantina haji menjadi salah satu peninggalan kelam sejarah perhajian di Tanah Air. Bangunan ini masih berdiri utuh setelah dipugar oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta.

Menurut Alwi yang masih perlu dipugar adalah barak-barak yang pernah menampung 3.500 jemaah haji yang kini tinggal puing-puing. Apalagi Pemda DKI ingin menjadikan Onrus sebagai taman arkeologi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini