Dari Pemberian Nama Hingga Silaturahmi, Inilah Ritual-Ritual Masyarakat Buton

Dari Pemberian Nama Hingga Silaturahmi, Inilah Ritual-Ritual Masyarakat Buton
info gambar utama

Dari sekitar 1.340 suku bangsa yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, semuanya memiliki keunikan masing-masing. Baik dari cara hidup, mata pencaharian, kebudayaan, kepercayaan, bahasa daerah, adat istiadat, sistem kekerabatan, hingga kesenian daerah.

Salah satu suku yang dikenal sebagai keunikan budayanya di Tanah Air adalah Suku Buton. Mereka dikenal sebagai suku pelaut dan telah lama merantau ke seluruh pelosok negeri dengan menggunakan perahu kecil. Orang Buton umumnya mendiami wilayah kekuasaan Kesultanan Buton yang kini telah menjadi beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara, seperti Baubau, Buton, Wakatobi, dan Muna.

Orang Buton juga terkenal dengan peradaban tinggi dan peninggalan-peninggalan dari masa lampau masih bisa dilihat di wilayah kesultanan, termasuk benteng terbesar di dunua, Istana Malige, dan mata uang Kesultanan Buton.

Selain itu, masyarakat Buton juga kental dengan tradisi dan ritual-ritual yang dijalankan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kelahiran, khitanan, hingga silaturahmi.

Tepuk Tepung Tawar, Upacara Adat Melayu untuk Mensyukuri Nikmat

Dole-dole

Dole-dole | Wikimedia Commons
info gambar

Secara harfiah, dole-dole berarti berguling-guling. Ritual ini dilaksanakan untuk pemberian nama kepada balita. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, dole-dole akan menghindarkan si anak dari berbagai penyakit. Untuk pelaksanaan dole-dole pun tak terbatas waktu dan bisa dilakukan pada usia berapa saja asalkan sesuai hari baik.

Untuk melaksanakan ritual ini, perlu disiapkan pisang rebus, ubi rebus, telur rebus, saba atau kue singkong, minyak kelapa, kunyit, ikan baura, air kembang dan tikar yang dilapisi daun pisang. Untuk penyimpanan makanan wajib menggunakan periuk kuningan yang ditutup dengan daun pisang.

Bisa' atau orang tua yang melakukan dole-dole akan membacakan doa dan menggendong bayi. Kemudian bayi tersebut akan ditaruh di atas daun pisang lalu diguling-guling. Bayi akan diberi telur lalu diberikan kepada mosangona, gadis yang akan menggendongnya. Setelah itu, kue dole-dole akan dibagikan dan undangan yang semuanya perempuan akan makan bersama-sama.

Kaya Kebudayaan, Ini Tradisi Suku Tengger Selain Yadnya Kasada

Tandaki dan posusu

Tandaki dan posusu sederhananya adalah upacara khitanan. Istilah tandaki digunakan untuk anak laki-laki, sedangkan posusu untuk anak perempuan. Tandaki sendiri berarti mahkota raja yang dipakaikan kepada anak-anak yang disunat.

Biasanya sunatan akan dilakukan pada usia 10 tahun, ketika anak sudah bisa berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya dan telah masuk aqil baliq. Pada saat itu, anak akan diarahkan untuk berhubungan dengan manusia, alam, dan Tuhan. Untuk anak perempuan biasanya bersamaan dengan menindik daun telinga untuk dipasangkan anting-anting.

Upacara tandaki dan posusu sendiri menjadi lambang bagi anak-anak tersebut sudah wajib melaksanakan perintah dan menjauhi laranga yang diajarakan dalam agama Islam. Biasanya ritual ini akan mengundang keluarga, saudara, dan kerabat dekat maupun jauh. Namun, bagi masyarakat yang kurang mampu bisa melaksanakan makanoi yang lebih sederhana dan hanya mengundang anggota keluarga terdekat.

Dikei, Ritual Pengobatan Suku Sakai yang Melibatkan Roh Baik Pembangkit Semangat

Haroa

Pada dasarnya, haroa merupakan tradisi bersilaturahmi antar masyarakat dalam menyambut hari besar keagamaan seperti syukuran, idulfitri, dan iduladha. Haroa juga berarti acara doa bersama yang dipimpin oleh seorang imam dari kampung tersebut dan dilanjutkan dengan acara makan bersama.

Biasanya haroa diselenggarakan di rumah-rumah warga dan diikuti semua keluarga, kerabat, dan tetangga. Semua berkumpul dan duduk melingkar di satu ruangan dan di tengahnya akan ditaruh makanan yang ditata sedermikian rupa.

Saat lebaran, suasana di kampung-kampung akan berbeda karena setiap rumah akan sibuk mempersiapkan hidangan untuk haroa. Untuk menu makanannya berbeda dari menu sehari-hari dan semua disimpan di atas talang, kemudian pemilik rumah akan mengundang kerabat dan tetanggauntuk makan bersama.

Kande-kandea

Masyarakat Buton juga memiliki tradisi makan bersama lain yaitu kande-kandea. Tiga etnis yang melakukan tradisi ini antara lain Cia-Cia, Muna (Pancana), dan Wolio. Penamaan tradisi ini pun berbeda-beda, etnis Muna menyebut kafoma-foma’a, etnis Cia-Cia menyebut maataa, dan etnis Wolio menyebut peka kande-kandea.

Sebenarnya pada zaman dahulu, tradisi ini dilakukan untuk menyambut kepulangan para laskar Kesultanan Buton dari medan perang. Jika membawa kemenangan, acara kande-kandea akan diselenggarakan lebih meriah lagi. Bahkan, gadis-gadis akan menyuapkan makanan kepada para anggota laskar yang telah berjuang di medan perang.

Namun, saat ini dikarenakan sudah tak ada peperangan, maka kande-kandea pun dilakukan setelah puasa, perayaan maulid Nabi Muhammad, atau hari besar lain. Para gadis akan menggunakan pakaian adat dan bertugas menjaga nampan yang sudah diisi makanan tradisional seperti lapa-lapa, waje, cucur, kadomina, onde-onde, dan dodolo, kemudian menyuapkan makanan kepada siapa saja yang ada di depannya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini