Menilik Perkembangan Program Rehabilitasi Terumbu Karang di Indonesia

Menilik Perkembangan Program Rehabilitasi Terumbu Karang di Indonesia
info gambar utama

Pemerintah Indonesia telah menetapkan 2 Juli sebagai tanggal untuk memperingati Hari Kelautan Nasional. Peringatan ini bertujuan agar masyarakat senantiasa ingat untuk selalu menjaga dan melestarikan lautan.

Sebagai negara yang dua per tiga luas wilayahnya didominasi oleh laut, sumber daya Kelautan Indonesia memiliki beragam biota yang bervariasi mulai dari ikan hingga terumbu karang.

Di saat bersamaan, Indonesia adalah bagian dari wilayah segitiga karang (Coral Triangle), dengan keanekaragaman tertinggi di dunia. Tercatat ada sebanyak 569 spesies yang termasuk pada 83 genus karang berbatu.

Angka tersebut mewakili 69 persen jumlah spesies karang di dunia. Di mana dari jumlah tersebut ada beberapa spesies endemik yang hanya ditemukan di wilayah Indonesia, yaitu Acropora suharsonoi (Lombok), Euphyllia baliensis (Bali), Indophyllia macassarensis (Makassar), dan Isopora togianensis (Pulau Togean).

Sayangnya Pusat Oseanografi LIPI mengungkap, jika dari 1.153 lokasi terumbu karang yang ada tercatat jika 33,82 persen (390 lokasi) berkategori buruk. Sementara itu 37,38 persennya (431 lokasi) berkategori sedang, dan 22,38 persen (258 lokasi) berkategori baik.

Hanya ada sekitar 6,42 persen atau 74 lokasi terumbu karang di Indonesia yang berkategori sangat baik.

Indonesia Nomor Wahid dalam Upaya Pemulihan Terumbu Karang di Bumi

Pemulihan bernilai ratusan miliar

Praktik program pemulihan terumbu karang | icctf.or.id
info gambar

Berangkat dari kondisi di atas, tak heran jika Indonesia sebagai pusat karang dunia banyak mendapat dukungan dalam program pemulihan terumbu karang.

Program pemulihan yang dimaksud adalah Coral Reef Rehabilitation and Management Program-Coral Triangle Initiative (COREMAP-CTI), atau dikenal dengan Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang-Prakarsa Segitiga Karang.

Sekadar informasi, kawasan segitiga karang sendiri pada dasarnya meliputi mayoritas wilayah laut timur Indonesia, laut Filipina, hingga Kepulauan Solomon. Ada dua pihak yang saat ini diketahui menggolontorkan dana tak sedikit untuk program pemulihan terumbu karang di RI, yakni Bank Dunia (World Bank) dan Bank Pengembangan Asia (Asian Development Bank).

Kedua organisasi tersebut memberikan dana hibah Global Environmental Facility (GEF) yang mereka kelola. Adapun pelaksanaan programnya dikelola oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan satuan kerja Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF).

Terungkap jika untuk periode tahun 2020-2022, total dana yang diberikan mencapai 11,4 juta dolar AS. Di mana pembagiannya dialokasikan untuk program pemulihan di dua kawasan yang berbeda.

Lebih detail, Bank Dunia secara keseluruhan memberikan dana sebesar 6,2 juta dollar AS atau setara Rp92,8 miliar. Dari total itu, 55 persen digunakan untuk rehabilitasi di kawasan Raja Ampat. Sedangkan sisanya untuk rehabilitasi di wilayah Pulau Sawu, Nusa Tenggara Timur.

Adapun lokasi pemulihan terumbu karang yang beransal dari dana Bank Dunia bertempat di:

  • Taman Wisata Perairan Laut Sawu, NTT
  • Suaka Alam Perairan Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat
  • Suaka Alam Perairan Kepulauan Waigeo sebelah barat, Papua Barat
  • Kawasan Konservasi Perairan Daerah Raja Ampat, Papua Barat

Di sisi lain, Bank Pengembangan Asia menggelontorkan dana sekitar 5,2 juta dolar AS atau setara Rp77,8 miliar, untuk program pemulihan terumbu karang di tiga titik lokasi yang terdiri dari:

  • Nusa Penida, Bali
  • Gili Matra, Lombok
  • Gili Balu, Lombok

Sehingga jika ditotal secara keseluruhan, maka dana yang didapat Indonesia untuk dukungan program pemulihan terumbu karang mencapai sekitar Rp170,7 miliar.

Program COREMAP, Solusi di Tengah Ancaman Kerusakan Terumbu Karang Indonesia

Apa hasilnya sejauh ini?

Restorasi terumbu karang | maritim.go.id
info gambar

Untuk program di Pulau Sawu dan Raja Ampat, ada sejumlah progres yang dilaporkan sudah berjalan dan akan terus dilakukan.

sejak Agustus 2020 hingga akhir Maret 2022, tercatat ada 100 meter persegi luasan wilayah ekosistem terumbu karang, 1.000 meter persegi (setara) wilayah ekosistem mangrove, dan 500 meter persegi wilayah ekosistem padang lamun di Raja Ampat yang berhasil terehabilitasi.

Hasil tersebut belum memperhitungkan program pemulihan di titik wilayah lainnya, yang dibarengi juga dengan program edukasi pemeliharaan untuk masyarakat setempat.

Salah satu program yang dimaksud adalah peningkatan kapasitas mata pencaharian dengan pengajaran inovasi pengolahan sumber daya alam setempat yang ramah lingkungan. Lain itu diutamakan pula penguatan terhadap nilai-nilai kearifan lokal yang mendukung kelestarian lingkungan.

Program pemulihan yang ada juga mengembangkan wisata spesies berupa pusat-pusat informasi, yang semuanya dikelola, dikembangkan, serta dipelihara masyarakat setempat, dan di saat bersamaan berperan sebagai edukator dalam menjaga ekosistem serta lingkungan terumbu karang di lautan Raja Ampat dan sekitarnya.

Sementara itu untuk kawasan Lombok dan Bali, saat ini sudah terbentuk kelompok restorasi yang bertanggung jawab dalam melaksanakan program rehabilitasi, memelihara terumbu karang, dan membangun kerjasama dengan pemangku kepentingan dalam menciptakan ekosistem terumbu karang yang berkelanjutan.

Kelompok yang dimaksud menerima bantuan aset berupa media restorasi. Lebih detail, ada sebanyak 3.000 media restorasi yang ditanam di 11 titik terumbu karang yang terdegradasi di Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Gili Matra.

Setidaknya ada tiga jenis media restorasi yang diturunkan di titik-titik tersebut. Di antaranya reef star metode mars inc yakni sebuah metode restorasi dengan material berbentuk kerangka baja yang dilapisi pasir.

Ada juga metode rock file atau metode restorasi menggunakan tumpukan batu gamping yang ditanam pada kedalaman kurang dari 10 meter. Terakhir metode fish dome dalam memanfaatkan kerangka besi yang dibentuk seperti rumah ikan dan dilapisi oleh semen.

Ketiga media dan upaya restorasi tersebut sudah berjalan dengan dibuat pada pertengahan Mei dan diturunkan pada bulan Juni kemarin.

Restorasi Terumbu Karang Makin Digalakkan Seiring dengan Kondisi yang Mengkhawatirkan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini