Aji Ugi hingga Peci Putih: Makna Pergi Haji yang Jadi Kebanggaan Orang Bugis

Aji Ugi hingga Peci Putih: Makna Pergi Haji yang Jadi Kebanggaan Orang Bugis
info gambar utama

Masyarakat Bugis terkenal cukup kental dengan tradisi lokalnya. Hampir semua orang Bugis merayakan setiap peristiwa yang mereka di alam kehidupan dan kematian. Demikian pula dalam hal ini naik haji.

Bagi sebagian besar orang Bugis, naik haji merupakan peristiwa yang sangat penting. Banyak suku lain yang kadang heran melihat antusias orang Bugis untuk naik haji. Bagi orang Bugis, pergi haji adalah sebuah kebanggaan.

Faktanya sangat jelas, di kawasan Sulawesi Selatan dan wilayah lain di sekitarnya seperti Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah antrian pergi haji sudah sangat panjang dan kerap kali disebut tidak masuk akal.

Misalnya saja di Kota Parepare dan Kota Makassar daftar tunggu haji menjadi 84 tahun. Bahkan di Kabupaten Banteng, daftarnya tunggunya bisa mencapai 97 tahun. Tentunya ini sempat membuat geger masyarakat.

Namun bagi orang Bugis, lamanya masa menunggu itu bukanlah suatu hambatan. Pergi haji memang bukan saja sebagai perjalanan spiritual sebagai umat Islam. Beberapa dari mereka menganggapnya sebagai kehormatan.

Legenda Buaya yang Dianggap sebagai Kembaran Manusia di Sulsel

“Ya bagi kami yang orang Bugis, haji adalah kehormatan. Tak berhaji bagi orang Bugis belum menjadi Muslim yang utuh. Pergi berhaji ke Mekkah adalah impian semua orang Bugis,” kata anggota DPD Hj Nurmawati Dewi Bantilan senator asal Palu yang dimuat Republika.

Agar impian mereka pergi haji tercapai, orang Bugis sangat serius mempersiapkan pendanaannya. Mereka akan menabung secara bertahun-tahun. Setiap panen, baik padi, coklat ataupun tanaman lain, mereka akan menyisihkan sedikit demi sedikit.

Andi Aminudin, seorang pengusaha travel haji dan umrah asal Sidrap menceritakan bagaimana luar biasanya keinginan orang Bugis untuk naik haji. Mereka akan melakukan apa saja, misalnya mengurangi kelezatan makan dan minum.

Orang Bugis, jelas Andi, akan menabung dengan membeli emas secara mencicil. Ketika merasa tabungannya atau emasnya sudah cukup untuk membiayai perjalanan haji, tanpa pikir panjang mereka akan langsung mendaftar naik haji.

“Tak hanya itu kebiasaan menyiapkan diri untuk pergi haji sudah mereka siapkan semenjak mereka menikah, dengan cara memberikan mahar dengan bentuk emas,” ujar Andi.

Aji Ugi dan peci putih

Masyarakat Bugis sangat kental dengan upacara sosial, seperti kelahiran, pernikahan dan kematian. Bahkan dalam membangun rumah baru dan punya kendaraan baru, mereka kerap pula dirayakan.

Demikian pula ketika naik haji, bagi sebagian besar orang Bugis, naik haji merupakan peristiwa sakral yang mesti ada ritualnya. Walau harus menambah biaya, tentunya hal ini tidak boleh dilewatkan bagi orang Bugis.

Ada tiga tahapan ritual (calon) jamaah haji bagi orang Bugis, yaitu ritual persiapan pemberangkatan, ritual selama jamaah haji berada di Tanah Suci, dan ritual setelah jamaah haji pulang ke tanah air.

Misalnya saat persiapan pemberangkatan mereka akan menggelar ritual selamatan atau syukuran (massalama-mammanasik), mengisi tas (mallises tase), dan ritual pemberangkatan (mappangnguju)

ketika sudah sampai di Tanah Suci, orang Bugis akan menampung air dari talang emas (jampi ulaweng), memburu kiswa Ka’bah, mencium Hajar Aswad, dan pemasangan kopiah atau kerudung haji (mappatopo).

Sementara pada tahap terakhir, saat pulang ke Tanah Air akan digelar syukuran (assalama sukkuru), melepas nazar (assalama tinja), mendoakan leluhur yang dilanjutkan ziarah makam (mappigau to riolo).

Ilmu Cenning Rara, Mantra Pemikat Lawan Jenis Warisan Leluhur Bugis

Hal yang menarik, menurut Syamsurijal dalam bukunya berjudul Aji Ugi: Ketika Orang Bugis Naik Haji (2020), ketika orang Bugis ini telah pulang ke Tanah Air mereka akan disebut dengan sebutan Aji Ugi atau Haji Bugis.

Aji Ugi adalah semacam ekspresi Islam ala orang-orang Bugis,” paparnya.

Muhammad Subarkah dalam buku Tawaf Bersama Rembulan melihat panjang dan beratnya perjalanan orang Bugis untuk naik haji, membuat mereka setelah pulang ke Tanah Air akan dijadikan orang yang terhormat.

Karena itu tulisnya, mereka yang sudah bergelar haji, harus duduk di depan serta langsung dijadikan tokoh masyarakat. Orang-orang ini pun akan ditandai dengan peci putih, sebuah simbol perubahan sosial.

Tetapi di sisi lain, ketika posisinya berubah, kewajiban dan tanggung jawab sosial dari pihak penyandang gelar haji dan berpeci putih sontak menjadi berat. Secara tak tertulis, paparnya, mereka harus menjadi sosok teladan masyarakat.

“Dan ini juga berisiko bila mereka “teledor” menjaga sosok haji dan hajjah, maka sanksi sosialnya pun sangat berat karena akan dikucilkan secara sosial,” paparnya.

Privilege haji

Gelar haji atau panggilan haji di masyarakat Bugis sangat bergengsi. Bukan hanya di Tanah Air, namun di Tanah Suci banyak tokoh Bugis yang menjadi sosok sukses. Hal ini memunculkan rasa kebanggan tersendiri.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Umum Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji Khusus (Himpuh) Baluki Ahmad yang menyatakan banyak sekali keturunan Bugis yang sukses di Arab Saudi, salah satunya Syeikh Abdul Muthalib Bugis.

Dikisahkannya ketika kedatangan jemaah Haji asal Indonesia, termasuk Sulsel menjadi momen yang ditunggu oleh pelajar Indonesia di Mekkah dan Madinah. Para jemaah ini ditunggu karena bisa memberikan mereka pekerjaan tambahan.

“Apalagi jamaah haji asal Nusantara terkenal dermawan dan suka memberi hadiah baik berupa uang atau barang. Kami yang pelajar seringkali menunggu kedatangan mereka untuk mendapatkan makanan enak khas Nusantara, seperti dodol, sagon, rendang, dan berbagai macam makan tradisional lainnya,” kata Baluki.

Almaliki juga masih mengingat bagaimana kisah bibinya yang sering mengantar kawan atau tetangga yang akan berhaji. Dengan sigap, bibinya akan mencari tahu kapan orang yang bersangkutan akan berangkat ke Makassar.

Namun, menurutnya hal itu bukanlah untuk mau tahu privasi para calon haji, namun karena orang-orang desa percaya, bahwa bila mereka ikut mengantar, suatu saat nanti akan ketiban rezeki yang sama dengan orang berhaji.

Songkabala, Ritual Penangkal Bala dan Penyakit dari Sulawesi

“Siapa tahu, kelak saya juga punya rezeki untuk berhaji, saya juga mau orang-orang ramai mengantar kepergian saya ke Mekah. Bukan hanya dengan dia hadir ke Makassar. Melainkan bisa mengantar dengan doa-doa yang mustajab,” tulisnya mengulang perkataan bibinya yang dimuat di Etnis.id.

Di masyarakat Bugis, status haji memang bisa mendapat posisi dan peran penting. Misalnya dalam perkawinan atau hajatan tertentu, biasanya kalangan haji akan tampil di panggung utama, penjemput tamu, atau menjemput pengantin keluar dari mobil.

Karena itulah, ketika seseorang telah naik haji, terutama perempuan mereka akan menggunakan cipo atau ciput. Bila sudah melihat orang berciput. otomatis banyak orang berpikir dia sudah berhaji.

Selain cipo, tulis Almaliki, gelang emas bersusun di tangan dan baju bermotif kembang dengan warna cerah, juga sebagai simbol orang yang sudah berhaji. Menurutnya orang-orang seperti itu ingin menunjukan eksistensinya.

Biasanya banyak juga orang Makassar yang menyindir gaya perilaku berlebihan orang-orang tersebut. Tetapi kini, jelasnya, tradisi itu mulai memudar karena dianggap berlebihan sehingga simbol orang telah naik haji tak lagi bisa diidentifikasi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini