Pulau Saparua, Surganya Wisata Alam dan Sejarah di Maluku

Pulau Saparua, Surganya Wisata Alam dan Sejarah di Maluku
info gambar utama

Kepulauan Maluku di Indonesia bagian Timur selama ini dikenal dengan destinasi wisata alamnya yang menakjubkan. Anda mungkin sudah sering mendengar nama Banda Neira, Pulau Bair, dan Pantai Ora di Maluku sebelumnya. Namun, ada satu pulau lagi yang tak kalah menarik untuk dikunjungi yaitu Saparua di Maluku Tengah.

Saparua merupakan salah satu pulau di Kepuluan Maluku, bersama dengan Haruku, Nusalaut, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Pulau ini dapat ditempuh sekitar 1 jam dari Ambon. Pulau Saparua menawarkan pesona alam yang begitu memanjakan mata, juga jejak-jejak sejarah dari masa penjajahan.

Di pulau ini, pengunjung dapat mengunjungi benteng bersejarah, pantai-pantai dengan pemandangan memesona, dan tempat-tempat wisata dengan keunikan tersendiri yang pastinya tidak ditemukan di tempat lain.

Teluk Kabui dan Pesona Pulau Karang di Raja Ampat

Wisata sejarah

 Benteng Duurstede | Wikimedia Commons
info gambar

Objek wisata pertama yang dapat dikunjungi di Saparua adalah Benteng Duurstede. Salah satu bangunan peninggalan sejarah ini pertama kali dibangun oleh Portugis pada tahun 1676. Kemudian, benteng direbut dan dibangun kembali tahun 1691 oleh Gubernur Ambon Mr. N. Schaghen. Benteng dibangun di atas bukit karang di tepi laut. Pembangunan benteng ini juga karena Fort Hollandia sudah dianggap tidak layak digunakan.

Kilas balik ke abad ke-16, saat itu Maluku tengah menjadi pusat perhatian bagi negara-negara Barat untuk menanamkan kekuasaan dan menguasai rempah-rempah. Pada masa itu, Saparua sendiir merupakan daerah utama penghasil cengkeh.

Nama Duurstede berarti kota mahal, benteng ini sangat penting dari segi lokasi untuk kepentingan militer. Keberadaan benteng ini berfungsi sebagai bangunan pertahanan dan pusat pemerintahan VOC selama menguasai wilayah Saparua.

Benteng ini dibangun di puncak bukit karang setinggi 7 meter dengan tinggi tombak benteng rata-rata lima meter, ketebalan 1,25 meter dan terdapat celah-celah untuk menempatkan meriam. Di sisi barat dan timur benteng terdapat pos pengintai. Di area benteng ini juga ada lima meriam dan sumur. Sejak tahun 1902 benteng tak lagi difungsikan dan hingga kini masih berdiri kokoh, serta banyak dikunjungi wisatawan.

Selain Benteng Duurstede, wisatawan juga bisa mengunjungi Rumah Pattimura di Desa Haria. Di rumah tersebut ada banyak peninggalan dari Thomas Matulessy yang dikenal sebagai Kapitan Pattimura, pahlawan nasional dari Saparua.

Rumah Pattimura berjarak sekitar lima kilometer dari pusat kota Saparua. Di sana pengunjung bisa melihat benda-benda peninggalan seperti pakaian perang, parang, sampai catatan silsilah keturunan Pattimura.

Berbak Sembilang, Tempat Terbaik untuk Melihat Tapir Asia dan Burung Air

Wisata alam

Saparua | Wikimedia Commons
info gambar

Untuk jelajah wisata alam di Saparua, pastikan Anda menyambangi Air Putri Lessi di Desa Kulur. Nama tempat wisata ini diambil dari cerita rakyat tentang seorang putri yang menikah dengan orang Kulur. Jarak Air Putri Lessi sekitar 20 kilometer dari pusat kota Saparua.

Kemudian ada pula Gua Air Putri yang memiliki tujuh kolam dengan air jernih. Konon, kolam tersebut adalah tempat mandinya Putri Pelangi. Berdasarkan cerita rakyat, gua tersebut merupakan tempat di mana Putri Pelangi turun ke bumi dan para para putri pun mandi di sana.

Tujuh kolam berbentuk lingkaran di gua ini memiliki berbagai ukuran. Saat ini, warga dan wisawatan bisa masuk ke sana untuk mandi atau bermain air. Untuk masuk ke dalam gua, pengunjung harus melewati lubang berbentuk lingkaran sampai ke dalam. Meski namanya gua, tempat ini tidaklah gelap karena cahaya matahari masuk lewat celah-celah gua. Tak jauh dari gua, pengunjung bisa menuju pantai Umi Putih yang terkenal dengan keindahan pasir putihnya.

Tempat wisata alam lain di Saparua yang tak kalah seru untuk didatangi adalah Taman Wisata Batu Pintu Haria. Tempat ini telah dibangun sejaktahun 1999 oleh Julianus Leuwol. Pada awalnya, Julianus berkeinginan untuk memiliki taman untuk belajar dan dirinya pun memiliki ketertarikan pada budidaya ikan kolam atau tambak dan bakau berbekal pengalamannya sebagai petani andalan Maluku. Julianus pun kemudian membuka taman dan mengajak sejumlah pemuda untuk membuka tambak ikan di tepian pantai Teluk Haria.

Tak hanya tambak, Julianus juga turut melestarian hutan bakau di sekitar lokasi tambak. Kini Taman Wisata Batu Pintu Haria pun banyak dikunjungi untuk kegiatan wisata.

Tak Hanya Lompat Batu, Ini Deretan Objek Wisata Alam dan Budaya di Pulau Nias

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini