Kisah Sri Lanka, Tempat Para Tokoh yang Terbuang dari Hindia Belanda

Kisah Sri Lanka, Tempat Para Tokoh yang Terbuang dari Hindia Belanda
info gambar utama

Kabar buruk datang dari Sri Lanka, negara yang dahulu disebut dengan nama Ceylon ini dinyatakan bangkrut. Kegagalan negara membayar utang luar negeri, pemerintah yang kehabisan dolar sehingga tidak bisa membiayai impor barang-barang pokok.

Efek Sri Lanka yang bangkrut membuat ratusan pendemo merangsek masuk ke istana kepresidenan di ibu kota Kolombo dan berpesta menggunakaan fasilitasnya seperti kolam renang dan kamar presiden.

Akibat istana diserbu pengunjuk rasa, Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa melarikan diri ke lepas pantai dengan kapal Angkatan Laut, dan berencana untuk mengundurkan diri dari jabatannya.

Kejadian ini juga menjadi sorotan bagi publik Indonesia. Selain ditakutkan akan berefek kepada Tanah Air, negara yang dijuluki Mutiara dari Samudra Hindia ini telah memiliki keterikatan dengan Indonesia.

Sri Lanka telah memiliki keterikatan dengan Indonesia (Red: Hindia Belanda) pada masa lampau. Karena meski dikenal sebagai jajahan Inggris, namun Sri Lanka pernah dikuasai oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Daerah itu dijadikan tempat pembuangan orang-orang yang dianggap berbahaya oleh VOC dari Jawa, Sulawesi, dan Maluku. Sri Lanka memang menjadi pilihan favorite, selain juga Tanjung Harapan di Afrika.

“Namun, mengingat lokasinya lebih dekat dengan Nusantara, Sri Lanka lebih disukai Belanda ketimbang Tanjung Harapan yang tampaknya disediakan untuk tokoh-tokoh “buangan” kelas berat,” tulis Muhammad Subarkah dalam artikel Habib Riziek, Iberia, Syekh Yusuf: Kisah Pengasingan Ulama yang dimuat Republika.

Kisah Kolapsnya Ekonomi Sri Lanka dan Pelajaran Darinya

Tokoh yang terbuang

Salah satu tokoh Indonesia yang tercatat pernah diasingkan ke pulau yang memiliki luas 66 ribu km persegi itu adalah raja Mataram Islam, Amangkurat III sekitar 1708. Sang Raja Jawa diasingkan ke Sri lanka bersama seluruh pengiringnya.

Dia dibuang bersama 44 pangeran Jawa serta keluarga mereka, para bangsawan ini menyerah dalam pertempuran di Batavia. Raja bergelar Sri Susuhunan Amangkurat Mas ini wafat di Sri Lanka pada 1734.

Bangsawan lain yang dibuang ke Sri Lanka adalah Pangeran Ario Mangkunegoro. Petrik Matanasi dalam Sri Lanka Tempat Pembuangan VOC yang dimuat Historia menyebut akibat pembuangan itu membuat hati anaknya, Raden Mas Said menjadi keras.

“Dia kemudian melawan Belanda dan keraton Mataram Pakubuwono sampai akhirnya diakui sebagai penguasa di sekitar Surakarta sebagai Mangkunegara I,” tulisnya.

Adolf Heuken dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta juga menyebut bangsawan dari Banten yang juga dibuang ke Sri Lanka. Ketika itu Sultan Banten, Zainal Arifin dan istrinya, Syarifah Fatimah memang sedang dekat dengan VOC.

Mereka berdua berusaha menstabilkan kekuasaan mereka. Karena itu, jelas Heuken, sultan bahkan mendukung pembuangan pangeran-pangeran dari keluarganya sendiri yang membandel ke Sri Lanka.

Sementara itu Suryadi dalam Sepucuk Surat dari Seorang Bangsawan Gowa dalam jurnal Wacana Vol.10 No.2, Oktober 2008 menyebut satu tokoh bernama Karaeng Sangunglo, anak Raja Gowa Sultan Fakhruddin yang kemudian diasingkan ke Sri Lanka.

Kesan Presiden Sri Lanka atas Sambutan Hangat Indonesia

Dirinya mengatakan Sangunglo merupakan anggota Resimen Melayu yang berada di bawah VOC, tetapi kemudian membelot kepada Kerajaan kandy dan malah berperang melawan VOC pada 1761-1762.

Sebelum Sangunglo, puluhan tahun sebelumnya ulama terkenal dari Gowa, Syekh Yusuf al-Makassari juga dibuang ke Sri Lanka pada 1684 karena ketahuan membantu Raja Banten Sultan Ageng Tirtayasa melawan VOC.

“Syekh Yusuf kemudian dipindahkan ke Cape Town Afrika Selatan."

Dicatat oleh Petrik, dari daerah Maluku juga terdapat seorang bangsawan yang dibuang ke Sri Lanka, yakni Sultan Hairul Alam Kamaluddin Kicili Asgar. Namun bangsawan ini kembali dipulangkan ke Tidore dan dijadikan sultan boneka VOC.

Namun sejak 1749, Sri Lanka tidak lagi menjadi tempat pembuangan bagi VOC atau Belanda. Musuh pemerintah kolonial Belanda, biasanya hanya dibuang ke pulau yang berbeda namun tetap di Tanah Air.

Seperti Imam Bonjol dan Pangeran Diponegoro yang dibuang ke Sulawesi Utara, Cut Nyak Dhien yang dibuang ke Sumedang, hingga yang paling jauh ke Indonesia bagian Timur, seperti Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir ke Papua.

Komunitas yang bertumbuh

Hal yang menarik menurut Subarkah, orang-orang “buangan” inilah yang menumbuhkan Islam di Sri Lanka. Hal ini karena secara geografis, Sri Lanka terisolasi dari pusat-pusat utama kebudayaan dan peradaban Muslim.

Dicatat olehnya, populasi Muslim Sri Lanka berkisar 10 persen dari total 16 juta jiwa. Mereka dominan tinggal di pesisir timur dan barat pulau itu. Pemukiman ini didirikan terutama di sekitar pelabuhan untuk kepentingan perdagangan.

Salah satu komunitas Islam yang penting adalah Melayu Muslim. Subarkah yang melansir Sri Lanka Heritages menyebut sebagian besar imigran Melayu awal adalah tentara yang dikirim pemerintah kolonial Belanda dan memutuskan untuk menetap di pulau itu.

“Imigran lain adalah kaum eksil dan anggota keluarganya yang diasingkan ke Sri Lanka dan tidak kembali lagi ke tanah air,” catatnya.

Hingga kini, jelasnya sebagian orang masih mengenal istilah “disailankan” yang berarti dibuang ke Sailan atau Ceylon. Kebanyakan dari orang-orang ini diperkerjakan untuk mengisi jajaran tentara, polisi, pemadam kebakaran, staf penjara dan pegawai lain.

Muslim Jawa-Malaysia ini jelas Subarkah memberi kontribusi terhadap populasi Muslim di Sri Lanka. Pada 1980 an, jumlah mereka sekitar lima persen dari total populasi Muslim yang ada di Sri Lanka.

Peran Orang Kaya dalam Perdagangan Rempah di Banda Neira Maluku

Sedangkan menurut data Sensus Penduduk yang dilakukan pemerintah Sri Lanka pada 2012, orang Melayu di negaranya berjumlah 40.189 orang. Bahkan beberapa tempat di Sri Lanka juga identik Indonesia.

Beberapa tempat misalnya, Jawatte, Kartel (Slave Island), Ja-Ela, Javakchcheri hingga nama-nama jalan seperti Melayu Street, Jawa Lane, dan Jalan Padang. Mereka juga masih menjaga penggunaan bahasa.

Identitas kelompok ini terjaga melalui penggunaan bahasa Melayu dengan sejumlah kosakata serapan dari bahasa Sinhala dan dialek lokal Tamil. Hal yang menurut Murad Jauah, telah terjaga selama lebih dari 250 tahun.

Selain dari Jawa, komunitas Sri Lanka-Melayu juga berasal dari Bali, Tidore, Sunda, Banda, dan Ambon. Banyak dari komunitas tersebut akhirnya menetap di daerah Colombo, Galle, Trincomalee, dan Jaffna.

Dicky Pamungkas dalam Yang Jauh tapi Dekat, Hubungan Indonesia-Sri Lanka menyebut dampak dari kehadiran rombongan asal Indonesia tersebut dapat dirasakan di Sri Lanka pada masa kini.

Menurutnya tidak jarang didapati orang Sri Lanka yang bermuka dan bernama Melayu. Selain itu budaya Melayu juga mempengaruhi kuliner Sri Lanka. Misalnya istilah nasi goreng atau dodol, tidak asing di telinga warga Sri Lanka.

Selain itu jelas Dicky, ada juga budaya batik dan sarung yang bisa ditemui di Sri Lanka. Batik jelasnya merupakan baju yang lazim digunakan, walaupun teknik dan pola yang ada di batik Sri Lanka tidak serumit dan masih sederhana.

Misalnya batik Sri Lanka ini hanya menggunakan canting yang lebih besar daripada yang digunakan oleh orang Indonesia. Sementara sarung, seringkali digunakan oleh warga Sri Lanka sebagai pakaian sehari-hari.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini