Sagu, Tanaman yang Dipercaya Jelmaan Manusia dan Dihormati oleh Orang Papua

Sagu, Tanaman yang Dipercaya Jelmaan Manusia dan Dihormati oleh Orang Papua
info gambar utama

Pesona alam Papua tak hanya menjanjikan keindahan, dari deretan pegunungan dan sungai yang biru. Namun kekayaan alamnya juga memberikan bahan pangan berlimpah untuk dinikmati.

Cita rasa Bumi Cendrawasih memiliki keunikan tersendiri dalam sajian kuliner berbahan sagu, beras, dan ikan. Bahkan bila berbicara tentang sagu, setiap manusia adat Papua pastilah menghormati makanan ini lebih daripada sekadar santapan.

Banyak suku di Papua mengenal mitologi sagu yang dikisahkan sebagai penjelmaan manusia dengan beragam kisah dan nama. Manusia telah mengorbankan dirinya demi memberi makan anak keturunannya.

Hal ini bisa dilihat dari kepercayaan orang Sentani yang percaya bahwa nenek moyang pertama mereka yang keluar dari bumi tak sendirian, tetapi diikuti saudara-saudaranya, salah satunya berubah menjadi sagu.

Seorang antropolog Mansoben menceritakan pada masyarakat adat di Sentani mengenal belanga yang dibuat dari tanah liat yang mudah didapati di kawasan Danau Sentani. Belanga ini membuat mereka piawai mengolah sagu menjadi papeda.

Hal ini katanya berbeda dengan masyarakat yang berada di Asmat. Karena tak mengenal belanga, orang-orang Asmat lebih sering menyantap sagu lempeng dan sagu bola yang telah dibakar dan diparut.

Sagu, Alternatif Pangan Lokal dari Indonesia Timur

“Sagu adalah inti dari berbagai ritual masyarakat adat di pesisir dan dataran rendah Papua,” kata Mansoben yang dimuat dalam buku Kelezatan Kuliner Papua yang diterbitkan Kompas.

Disebutkannya dalam budaya masyarakat adat Asmat, setiap tahun akan digelar pesta ulat sagu. Pesta ini menjadi satu-satunya hari ketika perempuan Asmat boleh memasuki jew atau rumah komunal tempat setiap lelaki dewasa tinggal.

Para perempuan ini akan berpesta dan dilayani oleh para suami yang memasak untuk mereka. Dihadapan beratus orang di dalam jew, setiap istri berkesempatan mengutarakan isi hati, kekecewaan, juga cercaan kepada suaminya.

Menurut Mansoben, ritual ulat sagu merupakan ritus untuk memuliakan perempuan Asmat, dan pesta ini selalu menebar energi baru bagi tiap kampung Asmat untuk kembali melanjutkan kehidupan sebagai manusia.

“Ada banyak ritus suku lain yang juga menjadikan sagu sebagai persembahan utama,” kata Mansoben.

Penyedia kehidupan

Dalam banyak cerita leluhur atau mitologi orang Asmat, sagu sering disebut sebagai bagian dari sejarah pertumbuhan suku di pesisir selatan Papua ini. Misalnya saja kisah Beworpit, leluhur yang dikisahkan adalah penemu tanaman sagu di dalam rimba Asmat.

Dia pula yang mengorbankan dirinya dengan berubah wujud menjadi pohon sagu agar tanaman rawa tersebut bisa terus ada bagi generasi penerusnya. Kepahlawanan Beworpit itu terus hidup sebagai leluhur penyedia kehidupan bagi orang Asmat.

Dalam cerita lain, sagu merupakan makanan utama bagi kepala perang beserta prajuritnya pada masa pengayuan. Orang-orang Asmat percaya ketika sudah memakan sagu, badan mereka bisa menjadi lebih kuat dan tenaga bertempur bisa tahan lama.

“Kalau makan (makanan) yang lain, misalnya ikan sembilang, pisang doaka (pisang gepok), itu badan bisa jadi lemas. Tidak kuat ikut perang,” kata Felix Owom, Ketua Adat Asmat di Kampung Suwruw yang dilansir dari Baktinews.bakti.

Di Asmat, sagu bahkan tidak hanya menjadi panganan tetapi telah dianggap sebagai harta benda utama. Pada ritual pernikahan misalnya, sagu menjadi seserahan wajib bersama kapak batu yang jadi simbol perbekalan bagi sepasang mempelai.

Potensi Sagu Indonesia, Diekspor hingga Jepang

Nilai filosofi sagu pun melekat kuat dalam segala sendi kehidupan dan budaya masyarakat Papua. Seluruh bagian dari pohon sagu bisa dimanfaatkan untuk menopang kehidupan. Mulai dari batang, daunnya, hingga hamanya.

Hans Tokoro, Kepala Adat di Kampung Yaboi, Distrik Sentani yang berlokasi di sekitar Danau Sentani, Kabupaten Jayapura mengatakan hutan sagu adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat adat.

Sagu merupakan tanaman yang tak ternilai, baik dari segi ekonomi maupun tradisi. Dalam segi ekonomi, Hans mengatakan saat ini masyarakat di Kampung Yoboi hampir seluruhnya mendapatkan manfaat dari penjualan sagu.

Hasilnya bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak. Selain dijual, seluruh bagian dari pohon sagu juga bisa dimanfaatkan untuk bermacam-macam keperluan.

“Dari pohon sagu, kami bisa untuk atap dan dinding. Begitu bermanfaatnya sagu dalam kehidupan masyarakat kami,” lanjutnya yang dipaparkan di Econusa.

Kebutuhan pangan

Charles Toto, seorang juru masak yang dikenal piawai mengolah citarasa asli Papua mengatakan pohon sagu juga mencukupi kebutuhan pangan masyarakat Papua. Karena mengandung karbohidrat dan protein.

Karbohidrat diperoleh dari tepung sagu yang berasal dari batang pohon. Sedangkan proteinnya diperoleh dari ulat sagu yang merupakan hama dari tanaman sagu itu sendiri. Menurut Toto, ulat sagu pun memiliki rasa yang gurih.

Bagi kehidupan masyarakat di Kampung Yoboi bergantung kepada dua hal, yakni hutan sagu dan Danau Sentani. Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Jan Jap L Ormuseray mengatakan pentingnya sagu bagi mereka.

Hutan sagu yang berada di Kampung Yobo itu berkontribusi besar untuk menjaga kestabilan pasokan air bagi Danau Sentani. Sagu yang bisa menyimpan air sehingga menjaga kestabilan air danau.

Karena besarnya kontribusi sagu, pemerintah daerah gencar untuk mengembangkan sagu sejak 2007. Pengembangan ini meliputi penataan dusun-dusun sagu, penjarakan antar pohon sagu, penanaman kembali pohon sagu dan pembuatan blok-blok sagu.

“Sagu meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat. Jika dikombinasikan dengan pariwisata dan ditata dengan baik, hutan sagu juga bisa bernilai lebih dan menjadi obyek wisata,” ujar Karel M Yarangga, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan Provinsi Papua.

Pemerintah Indonesia Resmikan Pabrik Sagu Terbesar di Papua

Namun menurut Martina Bateh warga Kampung Workwana, Kabupaten Keerom banyak generasi tua yang mulai gusar melihat cucu-cucu mereka tak lagi mau menyantap sagu dan lebih memilih nasi. Bahkan mereka tidak lagi bisa membuat sagu.

Dirinya menuturkan dengan nada sedih bahwa hanya orang tua yang masih merokok sagu dan menyantapnya. Dirinya pun merasa pada suatu saat, sagu akan segera hilang dari sajian di meja makan orang Papua.

Karena itulah seorang pemuda yang berasal dari Kampung Yoboi, Billy Tokoro menginisiasi Festival Ulat Sagu untuk pertama kalinya pada November 2020 silam. Dirinya meminta izin kepala adat untuk menyelenggarakan festival tersebut di kampungnya.

Dia mengkampanyekan pelestarian sagu dan pentingnya sagu bagi masyarakat adat. Festival ini juga diadakan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat, terutama di masa pandemi yang membuat pendapatan masyarakat menurun.

“Kitong punya sumber daya alam, sagu, danau, dan sudah diizinkan kepala adat untuk menyelenggarakan Festival Ulat Sagu ini,” ujar Billy.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini