Taman Nasional Bukit Duabelas, Rumah Bagi Flora-Fauna Langka dan Orang Rimba

Taman Nasional Bukit Duabelas, Rumah Bagi Flora-Fauna Langka dan Orang Rimba
info gambar utama

Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) merupakan kawasan taman nasional yang berada di Provinsi Jambi, Sumatra. Lokasinya meliputi tiga kabupaten yaitu Kabupaten Tebo, Kabupaten Batanghari dan Kabupaten Sarolangun dengan luas keseluruhan mencapai 60.500 hektare.

Pada awalnya, TNBD adalah hutan lindung dan cagar biosfer yang telah ada sejak tahun 1984. Baru pada tahun 2000 kawasan tersebut berubah status menjadi taman nasional guna melindungi, memelihara, dan melestarikan kawasan hutan hujan tropika dataran rendah dengan keanekaragaman flora, fauna, dan ekosistem yang tinggi dan sudah terancam punah.

Kemudian juga untuk melestarikan dan mengembangkan tanaman obat yang jadi sumber kehidupan serta memberikan perlindungan pada kehidupan Orang Rimba dari Suku Anak Dalam yang sejak lama telah berada di TNBD. Keberadaan Orang Rimba menjadi entitas penting dalam pengelolaan kawasan taman nasional, terutama yang berkaitan dengan pengaturan zonasi.

Pulau Angso Duo, Destinasi Wisata Unggulan Kota Pariaman

Keanekaragaman hayati Taman Nasional Bukit Duabelas

Kantung semar di TNBD | Wikimedia Commons
info gambar

TNBD merupakan kawasan perlindungan yang namanya berasal dari kondisi geografis daerahnya yang berbukit-bukit. Adapun bukit tertinggi di kawasan tersebut adalah Bukit Punai, Panggang, dan Kuran. Di sana terdapat rincian zona yang merupakan perpaduan antara aturan negara dan aturan adat, yaitu Zona Inti, Zona Rimba, Zona Pemanfaatan, Zona Tradisional, Zona Religi, Zona Rehabilitasi, dan Zona Tradisional Masyarakat Lokal.

Meski luas kawasan taman nasional terbilang lebih kecil dibanding taman nasional lain, tetapi TNBD tetap memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Untuk flora, di sana terdapat lebih dari 120 jenis tumbuhan dari kayu-kayuan hingga tumbuhan obat.

Di TNBD terdapat pohon ulin, pohon menggeris yang tumbuh sampai 80 meter, jelutung dengan diameter dua meter, jerenang, damar, bulian, bangkirai, giam, kempas, bungur, meranti, dan rotan. Ada juga pohon durian, ampupu, cengal, geronggang, keruing, kulim, rengas, nyatoh, dan bayur.

Tumbuhan obat juga merupakan bagian dari kearifan lokal Orang Rimba dalam memanfaatkan flora di dalam kawasan. Beberapa jenis tumbuhan obat di TNBD yaitu kenaikan biso, akar kunyit, daun pengedur urat, dan puar lancing. Orang Rimba biasa memanfaatkan bagian tumbuhan, dari daun, batang, kulit batang, akar, umbi, air batang, hingga buah, dan pelepah untuk diolah secara tradisional untuk pengobatan.

Selain tanaman obat juga ada 41 jenis anggrek, kemenyan, balam, palem, manggis-manggisan, kantong semar, kedondong, cempahung, tampui, dan jenis tumbuhan rotan.

Kemudian untuk fauna, ada banyak sekali spesies langka yang hidup di TNBD, di antaranya ada tapir, kancil, beruk, beruang mandu, siamang, macan dahan, kijang, meong congkok, lutra Sumatra, kelinci Sumatra, ajag, harimau Sumatra, kukang, napu, rusa sambar, kucing hutan, kambing hutan, ayam hutan, babi hutan, rangkong, raja udang, dan elang ular bido.

Selanjutnya adalah musang, tupai tanah, kera ekor panjang, ungko, biawak, landak Sumatra, labi-labi, murai batu, balam, gagak, kuau, dan enggang gading.

Pulau Saparua, Surganya Wisata Alam dan Sejarah di Maluku

Kehidupan Orang Rimba di TNBD

Taman Nasional Bukit Duabelas | Wikimedia Commons
info gambar

Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas dihuni sekitar 900 jiwa Orang Rimba. Kehidupan mereka sangat bergantung pada hutan Bukit Duabelas. Orang Rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) merupakan suku lokal Provinsi Jambi, mereka hidup berkelompok dan mendiami TNBD sejak kawasan tersebut belum ditetapkan menjadi taman nasional.

Orang Rimba dikenal dengan pola hidup nomaden dan memiliki budaya melangun, aktivitas berpindah tempat ketika salah satu anggota keluarga mereka tertimpa musibah atau meninggal dunia. Melangun dilakukan untuk menghilangkan kesedihan akibat suatu peristiwa yang menyedihkan.

Orang Rimba juga memiliki rumah yang disebut sudung. Dulunya, sudung berupa pondok tanpa dinding dan hanya beratapkan daun benal, serdang, atau rumbia. Lokasinya di dalam hutan belukar dan tiap rumah terpisah dengan jarak cukup jauh. Biasanya, anak-anak yang sudah besar akan memiliki sudung sendiri.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan adanya interaksi Orang Rimba dengan masyarakat luar juga berdampak pada sudung. Kini, Orang Rimba lebih suka menggunaka terpal hitam untuk atap sudung. Selain itu, berkurangnya lahan hutan juga membuat mereka mendirikan sudung di tepi jalan setapak, bahkan kebun sawit milik masyarakat desa.

Hidup di hutan, Orang Rimba sehari-hari mengonsumsi makanan dari umbi-umbian dan buah-buahan. Mereka juga berburu hewan untuk sumber protein, misalnya babi hutan. Namun, mereka juga bisa membeli bahan makanan dari pasar-pasar desa di sekitar taman nasional.

Pada zaman dahulu, Orang Rimba tidak berpakaian. Mereka hanya menggunakan cawat dari kulit kayu untuk menutupi bagian intimnya. Namun, saat ini mereka sudah bisa mengakses pakaian yang bisa dibeli dari pasar. Orang Rimba yang masih tinggal di hutan terkadang masih ada yang tetap menggunakan cawat, dan hanya berpakaian ketika keluar dari hutan.

Mengenai konservasi sumberdaya alam hayati di TNBD, terdapat beberapa kearifan lokal Orang Rimba yang masih bertahan, seperti pohon sialang yang dijadikan sarang lebah penghasil madu, benauron untuk areal pohon buah yang jadi sumber pangan penting bagi Orang Rimba sehingga menebang pohon buah dilarang dan akan dikenakan sanksi adat.

Kemudian ada sentububung budak, pohon yang digunakan sebagai penanda kelahiran anak-anak Orang Rimba. Merusak dan menebang sentubung juga dilarang dalam adat. Orang Rimba juga memiliki tata ruang tradisional yang dilarang untuk dibuka atau dialihfungsikan menjadi kebun. Ruang-ruang tersebut yaitu pasoron, tanah bedewo, dan paranokan.

Teluk Kabui dan Pesona Pulau Karang di Raja Ampat

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini