GOR Bulungan: Cara Menghilangkan Tawuran dengan Memunculkan Tongkrongan

GOR Bulungan: Cara Menghilangkan Tawuran dengan Memunculkan Tongkrongan
info gambar utama

Darah muda, darahnya para remaja, begitulah kata pedangdut Rhoma Irama. Kehidupan anak muda memang dinamis, semangatnya berapi-api, egonya masih bergelora dan mencari berbagai wadah untuk mengekspresikan diri.

Gubernur DKI Jakarta periode 1966-1977, Ali Sadikin sangat menyadari kondisi tersebut. Bali Ali -sapaan akrabnya- kemudian menggagas sebuah wadah penyaluran berbagai minat dan bakat remaja Jakarta.

Pada saat itu, ibu kota memang tengah bergiat untuk membangun diri. Namun di sisi lain, kawasan Jakarta terutama di daerah selatan tengah mencekam karena keberadaan gangster anak muda.

Gangster remaja kala itu kerap menunjukkan eksistensinya dengan cara tawuran. Beberapa nama gangster pada periode tahun 1969, seperti Radal (Radio Dalam), Sartana (Sarinah Tanah Abang), Legos, dan Berlan.

“Anggota gangster ini ciri-cirinya memakai celana cutbray, ada yang pecandu heroin dan suka tawuran. Pokoknya ngeri deh,” kenang Toto Prawoto, seniman yang sudah aktif di Gelanggang Remaja Jakarta Selatan (Bulungan) yang dimuat Kompas.id.

Kiprah Ali Sadikin Mempercantik Perkampungan Kumuh di Jakarta

Pada tahun yang sama, di kawasan Jaksel juga terdapat tiga sekolah yang kerap bentrok yakni SMA Negeri 9 Jakarta, SMA Negeri 11 Jakarta, dan SMA Negeri 6 Jakarta. Dijelaskan oleh Rik A Sakri, setiap sekolah memiliki ciri khas yang membedakan satu sama lain.

Misalnya SMAN 6 terkenal dengan sebutan SMA artis, SMAN 11 tempat orang pintar, dan SMAN 9 adalah jagoan tawuran. Karena sering tawuran, akhirnya SMAN 9 dan SMAN 11 digabung menjadi SMAN 70 Jakarta pada 1981.

“Tahun itu, tawurannya juga sudah ngeri. Ada yang bawa senapan, ada yang bawa pacul, mirip mafiosolah,” kenang Rik.

Kondisi inilah yang membuat Bang Ali gelisah. Dirinya kemudian memilih sebuah lahan di tengah kota Jakarta, Kebayoran Baru untuk dibangun sebuah Youth Center, gelanggang remaja pertama di Jakarta Selatan pada 25 Juni 1969.

Pada 16 April 1970, gedung ini kemudian diresmikan oleh Bang Ali. Warga Jakarta kemudian lebih mengenal bangunan gelanggang remaja itu dengan sebutan Gelanggang Olahraga (GOR) Bulungan.

Ali kemudian membangun gelanggang remaja tingkat kota administrasi lain di wilayah Jakarta yaitu di Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Pusat. Namun pusat dari anak-anak muda untuk nongkrong tetap di Jakarta Selatan.

“Bisa dibilang pioneer atau percontohan itu ya di Jakarta Selatan ini,” kata Toto menerangkan.

Wadah anak muda

Peran Ali Sadikin dalam mengembangkan Jakarta sangat besar. Dia tak hanya ingin membangun kotanya saja, tetapi juga turut memperbaiki nasib warganya. Bang Ali ingin Jakarta unggul dalam setiap lini, salah satunya olahraga.

Keberhasilan Kota Metropolitan menjadi juara dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) berkali-kali, telah menjadi bukti kesuksesan Bang Ali. Dirinya juga menekankan bahwa olahraga adalah media positif untuk menyalurkan bakat-bakat dan kegiatan remaja.

“Dalam kesempatan itu saya terangkan, mengapa saya membangun fasilitas-fasilitas olahraga. Olahraga itu sangat positif dalam menyalurkan bakat-bakat dan kegiatan remaja. Kita berikan fasilitas kepada para remaja, untuk berolahraga judo, karate, pencak silat, renang, atletik, sepakbola. Telah terbukti, Jakarta unggul di PON VII di Surabaya, Jakarta unggul di PON VIII di Makassar, dan di Pelembang, Jakarta jadi juara lagi.” ungkap Ali Sadikin sebagaimana ditulis Ramadhan K.H dalam buku Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977 (1992).

Gagasan gelanggang remaja menjadi puncak keseriusan Bang Ali mengembangkan bidang olahraga, kebudayaan, kesenian. Dia bahkan mencanangkan pembangunan gelanggang remaja yang lokasinya tersebar di Jakarta.

Ali ingin supaya gelanggang remaja menjadi tempat remaja untuk memanfaatkan waktu luangnya dengan hal yang positif. Idenya itu akhirnya terwujud setelah peletakan batu pertama di gelanggang remaja yang kelak dikenal sebagai GOR Bulungan.

Kiprah Ali Sadikin Jadikan Film Nasional Tuan Rumah di Jakarta

Pada tanggal 16 April 1970, Bang Ali hadir pada peresmian salah satu gelanggang remaja paling bersejarah di Indonesia. Dirinya pun menginginkan kawasan ini bisa menampung geliat anak-anak muda, baik dalam kesenian maupun olahraga.

“Untuk menampung berbagai kegiatan dan membuat dilirik sebagai tempat gaul, gelanggang ini dibekali gedung olahraga dan ruang pertunjukan. Ada satu masa gelanggang ini menjadi magnet seniman muda seperti Noorca M Massardi, Renny Djajusman, Yudhistira A.N.M Massardi, Radhar Panca Dahana, dan Anto Baret,” ucap Isma Savitri dalam tulisan Majalah Tempo yang berjudul Kaki-kaki TIM yang terlupakan (2020) dimuat di VOI.

GOR Bulungan memang cukup besar karena berdiri di atas tanah seluas 5.110 meter persegi dengan luas bangunan 2.160 meter persegi. Di dalam kompleks itu terdapat berbagai sarana di antaranya gedung olahraga, kolam renang, dan kegiatan umum.

Selain itu GOR Bulungan dibangun di kawasan strategis, lokasinya hanya berjarak sekitar 950 meter dari Terminal Blok M. Karena itu setelah gelanggang remaja ini resmi beroperasi di tahun 1970, ternyata banyak anak-anak muda tertarik beraktivitas di sana.

Toto mengisahkan bahwa gelanggang remaja ini awalnya diramaikan anak-anak perantauan dari daerah. Dirinya yang berasal dari Banjarnegara, Jawa Tengah sering menemukan teman-teman yang satu frekuensi di GOR Bulungan.

Meski identik sebagai markas seniman daerah, remaja Jakarta juga tak mau kalah. Mereka terutama yang berasal dari kelas sosial menengah atas juga kerap berolahraga di gelanggang itu, seperti kempo, karate, taekwondo, dan pencak silat.

Dari minat yang berbeda ini, malah membuat anak seni dan olahraga sering berinteraksi. Toto menyaksikan anak-anak muda ini kerap bertegur sapa dan mengobrol tentang hobi mereka masing-masing.

“Gejolak anak muda pun mulai terwadahi dalam bentuk kreativitas positif,” tulis Dian Dewi Purnamasari dalam GOR Bulungan, Pengubah yang Berubah.

Tempat munculnya tunas

GOR Bulungan memang banyak menyimpan sejarah, bukan hanya untuk anak-anak muda masa itu. Tetapi para atlet yang memulai karirnya dengan berlatih di tempat itu. Salah satunya adalah perenang spesialis gaya dada Muhammad Akbar Nasution.

Setelah pindah dari Jambi tahun 1995, dirinya kerap berlatih di kolam renang Bulungan. Padahal kenangnya saat itu, kolam ini airnya masih keruh, jarak pandangnya juga terbatas. Tetapi karena jumlah kolam renang di Jakarta masih sedikit, jadi tidak ada pilihan.

Walau fasilitas kolam renang Bulungan terbilang minim, dia tetap memaksimalkannya. Bahkan bisa dibilang di tempat inilah saksi sejarah perjuangannya menjadi atlet renang yang bisa mengharumkan nama bangsa.

Mantan wakil gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno juga rutin berenang di kolam renang Bulungan. Kepala Unit Pengelola Gelanggang Remaja Jakarta Selatan, Reinhard Pangaribuan mengisahkan Sandi saat itu biasa berenang pada Selasa dan Jumat pagi.

Karena kerap berenang di Bunglungan, Sandi juga mengusulkan supaya kolam renang itu direvitalisasi menjadi lebih bagus. Karena itu pada 2018, kolam renang itu direvitalisasi dengan dana perlampuan koefisien lantai bangunan (KLB).

GOR Bulungan juga pernah menjadi saksi sejarah kedatangan Ratu Elizabeth II yang datang ke Indonesia pada tahun 1974. Gubernur Ali Sadikin membawa pewaris takhta kerajaan Inggris itu melihat berbagai pertunjukan seni yang ditampilkan anak muda Jakarta.

Hoegeng Iman Santoso, Polisi Merakyat yang Anti Korupsi

“Saya saat itu bersama teman-teman melakukan gerak indah (teater). Saat itu, Ratu Elizabeth sempat terpesona saat melihat kami tampil,” kata Toto.

GOR Bulungan juga sempat menjadi arena pertandingan bola voli pada gelaran Asian Games 2018. Padahal kondisi GOR kurang representatif, karena hanya berkapasitas maksimal 900 orang yang seharusnya menampung 3.000 kursi.

Kini GOR Bulungan masih tetap berdenyut kencang. Setiap sore, di gedung B, C, dan D atau di sebelah GOR Bulungan, anak-anak muda tetap giat berlatih tari tradisional, modern, paskibra, olahraga tinju, hingga panjat tebing.

Sementara di belakang gedung juga terdapat Warung Apresiasi “Wapres” yang dipakai para seniman untuk menempa diri dan mental. Salah satunya adalah Komunitas Pengamen Jalanan (KPJ).

“Komunitas dan anak-anak muda inilah yang terus menghidupkan gelanggang remaja pertama di Jakarta itu. Sesuai cita-cita Ali Sadikin, sebagai sarana pengembangan muda-mudi tunas bangsa,” pungkas Dian.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini