Loji Cingkuak, Saksi Kesuksesan VOC Memonopoli Perdagangan Lada di Sumatra

Loji Cingkuak, Saksi Kesuksesan VOC Memonopoli Perdagangan Lada di Sumatra
info gambar utama

Pulau Cingkuak sebuah pulau kecil yang berada di Teluk Painan, Pesisir Selatan. Kawasan Pulau Cingkuak diduga merupakan benteng Portugis yang digunakan sebagai gudang lada pada masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Dimuat dari Kebudayaan.Kemdikbud, sisa kejayaan perdagangan masih tersisa di pulau ini, seperti benteng, dermaga, dan makam Belanda. Kawasan ini pun telah menjadi bagian dari Cagar Budaya di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat.

Dalam banyak literatur, Pulau Cingkuak memiliki nama lain yaitu Chinco, Poulo Chinco, Paulo Cinko, Poeloe Tjinko, Poelau Tjinkoek, Pulu Tjinkuk. Nama Pulau Cingkuak mulai tersebut sejak Painansch Traktaat pada tahun 1663.

Ketika itu raja-raja kecil di Pesisir Minangkabau memberikan cap jempolnya agar VOC mau membantu untuk mengusir Aceh dari seluruh bandar yang mereka kuasai. Imbalannya VOC mendapat hak monopoli perdagangan lada di semua bandar mereka.

Raja-raja pribumi ketika itu memberi VOC tempat berpijak yang lebih aman di Cingkuak. VOC lantas mendirikan loji di Pulau Cingkuak tahun 1669 yang menjadi pintu gerbang paling penting di semua bandar.

Mi Arang, Boga Khas Aceh yang Harum Lagi Nikmat

“Ini adalah tempat yang nyaman, ketika kami mencapai tujuan kami, untuk melakukan perdagangan di sana dan membuat gudang sebagai asuransi untuk perdagangan,” ujar Jan van Groenewegen dalam laporannya.

Di loji tersebut Thomas van Kempen, kepala dari Pantai Barat Sumatra tinggal. Dirinya sebagai panglima mengendalikan para pejabat untuk pertukaran lada. Loji Cingkuak segera saja menjadi pusat dagang VOC untuk memperoleh lada.

Awalnya VOC mendirikan sebuah pos perdagangan, namun kedatangan bangsa Eropa telah menyebabkan ketegangan dengan penduduk. Mengantisipasi hal tersebut dibangunlah benteng pertahanan di bukit batu di tengah-tengah pulau dikelilingi oleh tiang kayu.

Pada tahun 1679, gedung batu itu dibangun dari batu dinding sepanjang 5 meter dan tebal 75 cm. Ada dua gerbang: di utara dan di selatan, pulau ini sangat tidak sehat karena menyebabkan kematian yang tinggi bagi penduduk.

Pulau Cingkuak benar-benar menjadi cabang utama VOC di Pantai Barat Sumatra. Selama dipimpin oleh van Kempen, pulau ini sudah semacam rumah bagi tuan tanah layaknya di Benua Biru.

Bahkan dalam benteng ini juga ada perkebunan anggur, sehingga van Kempen membawa keluarganya ke Pulau Cingkuak. Disebutkan bahwa istrinya yang bernama Susanna Geertruij Haije meninggal dan dimakamkan di Pulau Cingkuak.

Bisnis di Pulau Cingkuak

E Netscher dalam Padang in het laatst der XVIII Eeuw menulis kalau VOC berencana menjadikan Pulau Cingkuak sebagai kantor pusat. Pertimbangan ini didasari atas keamanan pulau ini yang tertutup dan dikawal oleh 16 pucuk meriam.

Dalam catatan Netscher, loji Cingkuak segera saja menjadi pusat dagang VOC. Sekalipun merica/lada tetap menjadi komoditas utama, ada juga produk utama seperti emas, kamper, gading gajah, budak, koin perak, kain hingga senjata api.

Dari loji ini pula politik dagang VOC dijalankan untuk mengamankan pasokan lada, mengirim serdadu dan senjata dengan yacht-yacht untuk membantu satu pihak dalam memerangi musuh lokalnya, mengikat perjanjian, dan mengadakan rapat.

Selama kurun waktu itu juga, penduduk yang menghasilkan lada juga membawa sendiri hasil produksi mereka ke Pulau Cingkuak. Mereka membawanya dengan perahu-perahu kecil untuk kemudian ditambatkan ke dermaganya di timur pulau itu.

Dermaga itu dibangun permanen dari susunan batu andesit. Dari sana, muatan akan dibongkar oleh budak-budak dan diangkut ke gudang besar penampungan, dibungkus untuk kemudian diangkat lagi ke dermaga.

“Dari loji Cingkuak itulah kapal-kapal dagang VOC penuh muatan lada di lambungnya untuk berlayar ke Batavia,” tulis Deddy Arsya dalam Loji Pulau Cingkuk & Perdagangan Rempah di Pesisir Minangkabau Zaman Kompeni.

Jalur Rempah Nusantara Ada di Pulau Seram

Dalam catatan Deddy, ketika itu lada dipasok dari kawasan penghasilnya di pesisir Minangkabau bagian selatan, terutama Salido, Bayang, dan Tarusan. Daerah Bayang misalnya menghasilkan 500 sampai 600 bahar tiap tahun sebelum Perang Bayang meletus.

Melalui loji Cingkuak pula, barang-barang dari luar memasuki pasar-pasar dan bandar-bandar sepanjang pesisir Minangkabau bahkan hingga ke dataran tinggi, Berbal-bal kain segala jenis terutama, tetapi juga besi, senjata, termasuk koin-koin perak.

Tidak hanya lada, ada juga emas yang jadi komoditas utama yang datang dari Sungai Pagu. Tetapi ketika 17 Juni 1669, penambang Eropa pertama datang untuk mengeksploitasi Salido dan menghasilkan 221 tahlil pada produksi pertamanya.

Begitu pentingnya Pulau ini, membuat Belanda membangun benteng bertembok di bagian selatan pulau, sementara bagian yang lebih landai dan lapang mencangkup berbagai bangunan-bangunan permanen untuk mendukung aktivitas loji.

Pada tahun 1709, VOC mulai membangun benteng yang lebih kokoh, dengan dilengkapi meriam-meriam, gudang-gudang senjata, dan gudang-gudang lada. Serta fasilitas-fasilitas perkantoran, kamp-kamp prajurit dan penjara tahanan.

Di luar benteng tersusun permukiman Eropa yang mampu menampung 50 keluarga, gereja, tempat pemandian, dan fasilitas publik lain semisal rumah sakit dan taman-taman yang terhubung oleh jalan-jalan utama ke pelabuhan.

“Di pulau tropis yang jauh itulah, yang tidak jarang mengancam dengan iklim panas dan penyakit, sekelompok orang asing dari tanah rendah nun di Eropa sana memainkan politik dagang mereka dengan segala kontradiksinya,” ucap Deddy.

Keruntuhan loji

Lebih dari seabad tidak mengalami gangguan, karena tak mampu dijangkau musuh pribumi, pulau ini kemudian jatuh oleh pesaing Baratnya yang paling sengit yaitu armada laut Kerajaan Inggris.

Pada 1781, van Kempen telah mereka tipu menggunakan cara cerdik. Para penyerang memasang kapal-kapal mereka dengan bendera Prancis dan Belanda. Ketika pimpinan Loji menemui layaknya sahabat, para penyerang ini lantas menyerang.

Aramada laut Inggris menawan seluruh pimpinan loji dan keluarganya dan melucuti seluruh senjata pengawalnya. Armada laut Inggris itu lalu menurukan serdadu dan meriam dari atas kapal-kapal dan mulai membombardir benteng.

Membakar apa saja yang bisa dilahap api, karena memang tidak ada perlawanan berarti. Karena seperti ditulis Soerabaijasch Handelsblad bahwa serdadu-serdadu VOC di situ telah banyak minum tuak dan tidak punya semangat berperang lagi.

Para penyerang ini kemudian meninggalkan Cingkuak dalam keadaan porak-poranda. Loji Cingkuak memang tidak pernah diduduki oleh Inggris, bahkan mereka tidak pernah mengibarkan bendera.

Peran Bundo Kanduang, Penjaga 'Harta Pusaka' dalam Masyarakat Minangkabau

“Namun mereka telah menghancurkan sebagian besar bangunan dan benteng di Pulau Cingkuak. Yang justru menambah derita VOC atas Cingkuak,” demikian jelas Netscher.

Setelah Pulau Cingkuak porak-poranda dan sepinya jalur perdagangan rempah, loji ini nyaris tidak pernah mendapatkan perannya sama sekali, bahkan dia lantas tenggelam dalam kubangan sejarah.

Palmer V.D. Broek pernah berkunjung ke sana pada 1888 dan membuat sebuah ilustrasi berjudul Ruine Fort Poeloe Tjinkie Kust van Painan yang menggambarkan rerentuhan benteng yang masih tersisa, ditumbuhi pohon besar dan diselimuti semak-semak.

Pada 1912, Sabine van Kempen menziarahi makam nenek buyutnya. Dirinya menyempatkan melihat makam Susanna yang masih terdapat tulisan Le monde est un exil (Dunia ialah tempat pengasingan).

“...Mewakili perasaannya ketika dia mesti mengikuti suaminya meninggalkan kampung halaman yang tentram di Belanda sana menuju ‘medan tugas’ di sebuah pulau asing jauh di negeri tropis, nun di Pesisir Barat Sumatra.”

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini