Kekaguman Nelson Mandela kepada Bung Karno yang Mengikatnya dengan Indonesia

Kekaguman Nelson Mandela kepada Bung Karno yang Mengikatnya dengan Indonesia
info gambar utama

Nelson Rolihlahla Mandela merupakan seorang revolusioner anti apartheid dan politisi yang menjabat sebagai Presiden Afrika Selatan sejak 1994 sampai 1999. Dirinya terkenal sebagai pejuang tangguh ketika melawan rasialisme.

Bagi Madiba -panggilan akrabnya- Indonesia juga memiliki tempat tersendiri dalam sejarah perjuangannya melawan rezim apartheid. Sepuluh tahun sejak Indonesia merdeka, Soekarno dan banyak tokoh negara dunia ketiga menggagas dunia baru.

Soekarno ketika itu di hadapan sidang umum PBB menyebut To Build the World a New. Dan akhirnya sebuah Konferensi Asia Afrika (KAA) dihelat di Bandung, 18-24 April 1955 untuk menciptakan dunia yang baru dan berkeadilan untuk semua.

I was inspired by his speech,” kata Mandela mengenai Soekarno yang dimuat Historia.

Ketika KAA sedang diselenggarakan, Mandela bersama partainya, African National Congress (ANC) sedang menggalang kekuatan untuk menentang politik apartheid. Kebijakan diskriminatif itu diberlakukan oleh partai penguasa.

Sementara itu di Konferensi Bogor pada Desember 1954, panitia KAA 1955 akan mengundang empat delegasi penuh Afrika, yakni Liberia, Gold Coast -kini Ghana-, Sudan dan Ethiopia untuk mewakili suara rakyat benua Hitam.

Kisah Diplomasi Batik, Merentang dari Nelson Mandela hingga Super Junior

Federasi Afrika Selatan awalnya memang diragukan untuk diundang, mengingat di negara itu masih berlaku praktik diskriminasi rasial. Akhirnya panitia KAA 1955 memutuskan tidak mengundang walau sebenarnya Afrika Selatan telah memenuhi syarat.

Namun keputusan ini tidak membuat surut niat dua aktivis Afrika Selatan, Moses Kotane dan Ismail Ahmed Maulvi Cachalia yang bertekad pergi ke Bandung. Kotane adalah kawan diskusi yang akrab dengan Mandela.

Dalam otobiografinya, Long Walk to Freedom, Mandela menulis jika Kotane sering datang ke rumahnya pada malam hari dan berdebat sampai pagi. Perdebatan ini menyoal konflik di dalam tubuh ANC.

Kotane merupakan seorang tokoh Komunis, sedangkan Mandela tidak mempercayainya. Mereka sering berdebat terutama terkait ideologi. Walau begitu, Mandela mengakui bahwa Kotane merupakan guru bagi dirinya.

“Kalau kamu sebutkan nama orang-orang yang pernah menjadi mentor Madiba, Kotane salah satunya,” ujar Verne Harris, direktur riset dan arsip pada Nelson Mandela Centre of Memory yang dimuat theguardian.

Pejuang Afsel di KAA

Wartawan dari koran terbitan Amerika Daily Worker, Eugene Gorden datang ke Bandung untuk meliput KAA. Dirinya terkesan pada sosok Kotane yang ketika itu tidak mempunyai tempat resmi dalam pertemuan namun sangat disegani di kalangan peserta.

Kotane saat itu datang dengan Maulvi Chacalia dari Kongres India Afrika Selatan (SAIC) yang ditugasi khusus oleh ANC untuk datang ke Bandung, mencari dukungan bagi gerakan pembebasan Afrika Selatan.

Atas bantuan Ahmed Kathrada, sahabat dekat Mandela, keduanya bisa berangkat ke Bandung setelah awalnya dijegal oleh pemerintah. Di Bandung masalah rasisme dalam politik apartheid pun diperbincangkan.

“Orang yang tak punya kursi di antara delegasi resmi KAA, namun kehadirannya sangat menonjol dan banyak orang menghormati serta menyambutnya secara hangat saat dia masuk ke ruang pertemuan.” tulis Gordon mengisahkan tentang Kotane.

Sebelum dihelatnya KAA, Kotane dan Maulvi menyusun alasan kehadirannya dalam acara tersebut. Dalam pernyataan itu, mereka mengatakan ketegangan rasial di negerinya sudah mencapai titik yang sangat berbahaya karena adanya tindakan diskriminasi.

Africa Since 1953 Volume 8 yang disunting oleh Ali A Mazrul dan Christophe Vondji menyebut para partisipan KAA sama-sama termotivasi untuk mengirimkan simpati dan dukungan terhadap tindakan berani para korban diskriminasi rasial.

“...Terutama yang menimpa orang-orang Afrika, India dan Pakistan di Afrika Selatan.”

Bung Karno dan Bahasa Sunda yang Persatukannya dengan Masyarakat Priangan

KAA kemudian menghasilkan sepuluh keputusan penting yang disebut Dasasila Bandung. Keputusan ini mengusung nilai-nilai kemanusian, kesetaraan manusia, dan berkehendak menuntaskan penindasan yang masih terjadi.

Selesai KAA, ada begitu banyak organisasi pembebasan negeri Asia-Afrika yang dibentuk dan mengadakan kerjasama. Salah satu organisasi yang didukung oleh Presiden Soekarno adalah Afro-Asian People Solidarity Organization (AAPSO) yang ada di Mesir.

Mantan sekretaris AAPSO perwakilan Indonesia, Ibrahim Isa mengatakan salah satu tujuan organisasi ini dibentuk setelah KAA adalah melakukan negosiasi gerakan pembebasan negeri-negeri di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

“Kami mendukung gerakan kemerdekaan rakyat Afrika dan banyak menjalin hubungan dengan mereka,” kata Ibrahim.

Mandela mencari Soekarno

Mandela memang tak pernah menceritakan hubungan langsung antara gerakan pembebasan Afrika Selatan dengan Indonesia. Dirinya hanya memperlihatkan kekagumannya kepada Soekarno.

Cerita mengenai kekagumannya itu terekam baik saat dirinya datang mengunjungi Indonesia pada awal tahun 1990, tepatnya tanggal 21 Oktober. Mandela kala itu mengunjungi Gedung Asia Afrika di Bandung.

Gedung Asia Afrika memang memiliki makna yang sangat berharga bagi Madiba. Dari tempat inilah perjuangan bangsa Asia dan Afrika tersalurkan dan disebarkan ke dunia. Hingga memberikan inspirasi bagi pejuang Afrika Selatan.

Mandela mengaku sangat terinspirasi dan terbakar semangatnya kala mendengar pidato Presiden Soekarno di KAA tahun 1995. Karena pidato itulah yang membakar pejuangannya dengan masyarakat untuk memerdekakan bangsanya.

Dalam pidato pembukaannya di KAA, Bung Karno mengatakan bahwa kolonialisme belum mati, hanya berubah bentuknya dan mesti dihadapi dengan solidaritas moral 1.400.000 rakyat dunia yang terwakili oleh para delegasi KAA.

“Saya yakin, kita semuanya dipersatukan oleh hal yang lebih penting daripada apa yang memisahkan kita. Kita dipersatukan oleh kebencian akan kolonialisme dalam berbagai bentuknya. Kita dipersatukan oleh kebencian akan rasialisme. Dan kita dipersatukan oleh keinginan untuk mewujudkan kedamaian dunia,” ujar Soekarno.

Tetapi ketika datang ke Gedung Asia Afrika itu, betapa kagetnya Mandela karena tak ditemukannya satupun foto Soekarno di tempat bersejarah itu. Padahal banyak tokoh datang ke Bandung karena Bung Karno.

“Di mana foto Soekarno? Setiap pemimpin dari Asia dan Afrika datang ke Bandung karena Soekarno. Di mana fotonya? Aku terinspirasi oleh pidatonya,” Madiba setelah bebas dari tahanan pada tahun 1990 yang dimuat Tempo.

Pekikan Merdeka dalam Pesta Penyambutan Presiden Soekarno Kembali ke Jakarta

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Barat, Sidarto Danusubroto yang menemani Mandela diam bergeming, tak bisa menjawab. Mereka saling memandang, tak tahu harus berkata apa karena tak mungkin memasang foto Soekarno di gedung itu.

Pasalnya rezim Soeharto yang di masa itu berkuasa masih mempreteli semua hal yang berbau Soekarno. Bukannya foto Bung Karno yang dipajang, gambar yang ada malah Ali Sastroamidjojo dan Roeslan Abdulgani sebagai panitia KAA.

Menurut Sidarto, cerita kekaguman Mandela terhadap Soekarno karena telah membangunkan bangsa Asia dan Afrika dari penjajahan. Bung Karno, ditegaskan oleh Mandela, bukan hanya milik Indonesia tetapi juga dunia.

“Mandela merasa di-uwongke (dianggap setara),” kata Sidarto yang pernah menjabat Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat ini.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini