Bung Karno dan Bahasa Sunda yang Persatukannya dengan Masyarakat Priangan

Bung Karno dan Bahasa Sunda yang Persatukannya dengan Masyarakat Priangan
info gambar utama

Soekarno tidak membutuhkan waktu lama untuk memutuskan terjun sepenuhnya ke dunia politik. Keputusan ini diambilnya setelah lulus dari Technische Hoogeschool te Bandoeng disingkat TH Bandung -- kini Institut Teknologi Bandung (ITB) --.

Dirinya kemudian bergeliat di Algemene Studie Club. Lalu tepat pada tanggal 27 Juli 1927, dia resmi memimpin Perserikatan Nasional Indonesia (PNI), cikal bakal Partai Nasional Indonesia (PNI).

Pertemuan yang berujung dengan pemilihan pengurus pertama PNI itu bertempat di paviliun rumah tinggal Soekarno-Inggit yang terletak di Regentweg nomor 22. Pertemuan pada hari itu merupakan kelanjutan pertemuan sebelumnya.

Dicatat dalam pertemuan itu ada beragam tokoh seperti Soekarno, dr. Tjipto Mangunkusumo, Mr Ishak Tjokrohadisurjo, Mr Sunarjo, Mr Budiarto, Dr Samsi Sastrowidagdo dan Ir Anwari. Ada juga dua undangan dari Batavia, Soedjadi dan J.W Tilaar yang juga menjadi penghubung Mohammad Hatta sebagai pengurus Perhimpunan Indonesia (PI).

Pertemuan pada hari itu berlangsung seru diwarnai dengan perdebatan. Namun setelah adu argumen, Soekarno terpilih menjadi Ketua, Mr Ishaq (Seketaris-Bendahara), anggota pengurus lainnya Boediarto, Sunarjo, Dr Samsi, Mr Sartono, Ir Anwari dan lainnya.

"Sebagian dari mereka berasal dari anggota PI yang baru kembali belajar di Negeri Belanda. Soekarno terpilih karena salah satunya lebih mengetahui situasi tanah air," tulis Her Suganda dalam buku Jejak Soekarno di Bandung 1921-1934.

Dipimpin oleh Soekarno, perjuangan PNI makin jelas. Pada kongres Surabaya tanggal 27-30 Mei 1928, Perserikatan Nasional Indonesia diubah menjadi Partai Nasional Indonesia. Maka sejak itu Soekarno hampir tidak menyisihkan waktu selain untuk kegiatan kampanye.

Soekarno dan Kecintaannya kepada Pohon yang Terekam Abadi

Apalagi setelah terbentuknya PNI cabang Bandung dan cabang-cabang lainnya. Peresmian PNI cabang Bandung dilakukan di Bioskop Elita yang terletak di sebelah timur alun-alun.

Kota Bandung sebagai tempat Soekarno tinggal menjadi basis utama PNI. Inggit yang selalu mendampingi suaminya, melukiskan kegiatan Soekarno tidak ubahnya "kincir" yang terus berputar. Mereka tidak pernah berhenti, dari Cigolentang ke Sukapasir, dari Bojonggede ke Ujungberung di timur, terus ke Cisondari di Ciweday.

Di tempat-tempat itu Soekarno menyampaikan pendidikan politik kepada kader PNI. Mereka dididik empat kali seminggu, tiap angkatan terdiri dari 15 orang. Soekarno sendiri mengajar di bidang sejarah perekonomian.

Kisah Soekarno dan Bahasa Sunda

Karena tingkat pendidikan massa pengikutnya yang sebagian besar dari masyarakat kelas bawah. Bung Karno pada setiap kesempatan memperlihatkan kemampuan berbahasa Sunda.

Kemampuan ini dipelajari melalui istrinya dan Ny. Suwarsih, istri sahabatnya, Guru di Perguruan Tinggi Taman Siswa Bandung, Sugondo Djojopuspito. Jika ada bahasa yang tidak dimengerti, dia akan menoleh dan meminta bantuan pada istrinya yang menjadi penerjemah.

Menurut Suganda, masyarakat Sunda di Kota Bandung dalam waktu singkat langsung mengagumi cara Soekarno menyampaikan gagasannya. Bahasa Sunda yang digunakan telah mempersatukan Bung Karno dengan pengikutnya.

Mereka merasa akrab, merasa dekat sehingga tidak lagi menyapannya dengan nama Ir. Soekarno. Kecuali istrinya masih menyapanya dengan sebutan Kusno atau Engkus.

"Sejak itu untuk pertama kalinya telah lahir sapaan baru untuk pemimpinnya. Soekarno membiarkan dirinya dipanggil "Bung Karno"," catat Suganda.

Salah satu bukti bagaimana kedekatan hubungan emosional masyarakat Priangan dengan Bung Karno diabadikan dalam bentuk sebuah tugu peringatan oleh masyarakat Desa Cimaung, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung.

Masyarakatnya desa ini yang berusia 70 tahun lebih, sangat boleh jadi masih mengingat bagaimana Bung Karno membangkitkan kesadaran nasionalisme dengan bahasa Sunda yang sederhana.

Jalan Casablanca-Rue Soukarno, Kisah Kasih Indonesia dengan Maroko yang Abadi

Sebelum Bung Karno mulai berbicara kadang-kadang dia menatap para pendengarnya beberapa menit. Untuk menarik perhatian semua pendengar, dia mulai berbicara perlahan-lahan nyaris berbisik.

Kalau sudah bisa menarik perhatian penonton, suara yang berlagu itu makin lama makin nyaring. Tidak henti-henti pidatonya dipotong oleh sorai-sorai atau teriakan-teriakan mendukung atau juga tawa yang keras.

Soekarno sering memberikan kesempatan kepada para hadirin untuk bersorai-sorai, memanggil atau tertawa dan mengembangkan kedua tangannya seakan-akan ingin memeluk pendengarnya, lalu melanjutkan ke tema yang lain.

"Soekarno menyampaikan pidato dalam bahasa Melayu, lingua franca yang baru yang dicampurnya dengan bahasa Jawa dan Sunda. Kalau ada kata-kata yang dia lupa, dia beralih ke bahasa Belanda," tulis Lambert Giebels dalam tulisannya berjudul Soekarno - Biografi 1901-1950.

Bandung "kiblat" perjuangan Kemerdekaan

Gegap gempita Soekarno membangun kekuatan nasional telah menjadikan Bandung sebagai "kiblat" perjuangan kemerdekaan. Pada bulan Desember 1927, Bung Karno berhasil menghimpun tujuh organisasi yang memiliki tujuan yang sama dalam wadah yang disepakati.

Kehadiran perhimpunan ini telah menumbuhkan harapan lahirnya era baru kekuatan nasional, mengingat bentuknya menjadi federasi. Memiliki ideologi yang berbeda, tetapi organisasi ini memiliki tujuan yang sama untuk mencapai kemerdekaan.

Untuk mempererat kekuatannya, kongres pertama di Surabaya pada tanggal 30 Agustus - 2 September 1928 disetujui Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) akan melakukan berbagai aksi dan memperkuat kerja sama.

Namun Bung Karno sadar, berbagai organisasi dari beragam latar ideologi berbeda ini akan sulit dipersatukan dalam jangka panjang. Apalagi dalam hal-hal prinsipil, tanda-tanda perpecahan mulai tampak.

Pada saat yang hampir bersamaan, tidak kurang menariknya perkembangan dalam tubuh PNI yang tidak menyetujui sikap radikal Bung Karno. Sekali ini, kepemimpinannya sedang diuji.

Sosok Ida Ayu Nyoman Rai, Peran Ibu dalam Kehidupan Bung Karno

Sebelum akhir 1929 tengah pecah perang pasifik, segala gerak Bung Karno diawasi oleh Polisi Intelijen Politik (Politieke Inlichtingen Dienst/PID). Ruang geraknya berusaha dibatasi, terutama pada rapat-rapat terbuka, di mana para pejabat pemerintah hadir sengaja untuk mengawasi.

"Selama kurang lebih dua tahun, pemerintah kolonial Belanda merasa sudah cukup bersabar melihat kegiatan politik Bung Karno dan pengembangan PNI," beber Suganda.

Akan tetapi, Bung Karno sepertinya lengah terutama atas pesan dari sahabatnya, termasuk dr Tjipto Mangunkusumo. Dari tempat pembuangannya di Bandaneira, Tjipto pernah mengingatkan agar Bung Karno berhati-hati.

Tetapi Bung Karno sangat boleh jadi terlalu bersemangat. Dia terus disibukkan dengan kegiatan berpolitiknya. Apalagi persoalan dengan PPPKI masih juga belum bisa diselesaikan.

Malam itu usai pertemuan, kepada istrinya dia menyampaikan pertemuan akan dilanjutkan ke Solo. Rencananya Bung Karno akan berbicara dalam kongres PPPKI kedua pada tanggal 25-27 Desember.

Sementara esok harinya, tanggal 28 Desember, rencananya akan berangkat berbicara di depan rapat PNI di Yogyakarta. Tetapi sebelum semua terlaksana, seusai malam pertemuan itu, Bung Karno ditangkap.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini