Kerap Muncul di Musim Pancaroba, Memahami Gejala dan Penanganan Chikungunya

Kerap Muncul di Musim Pancaroba, Memahami Gejala dan Penanganan Chikungunya
info gambar utama

Demam berdarah (DBD), merupakan salah satu jenis penyakit zoonosis yang paling membahayakan dan masih terus menjadi perhatian besar di Indonesia. Tapi tak banyak yang tahu, jika disamping DBD, ada satu penyakit yang memiliki gejala serupa, bahkan juga disebabkan oleh gigitan dari nyamuk serupa, yakni penyakit Chikungunya.

Sama-sama disebarkan oleh vektor nyamuk penular Aedes aegypti, dan memiliki gejala yang hampir serupa, tak heran jika banyak orang yang belum terlalu mengenal Chikungunya. Hanya selain jenis tersebut, Chikungunya bisa disebarkan oleh jenis nyamuk penular lainnya, yakni Aedes albopictus.

Yang perlu diwaspadai, chikungunya merupakan penyakit tropis dan biasa muncul pada saat pancaroba, atau peralihan musim. Persis seperti saat yang terjadi di Indonesia saat ini.

Terbaru, mengutip beberapa sumber pemberitaan muncul laporan mengenai meningkatnya kasus penyakit chikungunya di beberapa daerah. Salah satu daerah yang dimaksud misalnya Tangerang, yang menurut catatan Dinas Kesehatan Kota Tangerang per hari Kamis (21/7/2022), terdapat 14 suspek yang memiliki gejala klinis chikungunya.

Apa detail gejala yang membedakan chikungunya dengan DBD? Dan bagaimana penanganan yang tepat apabila menderita penyakit ini?

Negara Asia Tenggara Merupakan Endemik DBD

Tentang chikungunya

Sedikit mengenal asal-usul dan awal penyebarannya, chikungunya diyakini muncul dengan semakin masif di Afrika Timur pada tahun 1952. Penamaan chikungunya, diambil dari bahasa Swahili (Afrika), yang artinya menekuk atau membungkuk.

Bukan tanpa alasan, pemilihan kata tersebut didasarkan dari adanya gejala umum penyakit berupa sakit yang amat sangat pada persendian, sehingga tubuh penderitanya menjadi membungkuk. Dibilang sama seperti DBD, karena gejala penyakit DBD awalnya juga muncul berupa rasa sakit yang amat sangat pada tulang. Hal yang sama juga terjadi pada chikungunya, hanya saja rasa sakit lebih terasa di persendian.

Namun mengutip penjelasan di laman Kementerian Kesehatan, chikungunya diyakini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Dari sejarah diduga KLB Chikungunya terjadi pada tahun 1779 di Batavia dan Kairo pada tahun 1823.

Baru kemudian di tahun 1952 menyebar luas di daerah Afrika, Amerika, dan Asia. Penyakit ini nyatanya menjadi endemis di wilayah Asia Tenggara, dan menimbulkan beberapa kejadian luar biasa (KLB).

KLB Chikungunya di Indonesia pernah dilaporkan pada tahun 1973 di Samarinda, tahun 1983 di Yogyakarta, di Muara Enim tahun 1999, di Aceh tahun 2000, serta Jawa Barat (Bogor, Bekasi, Depok) tahun 2001.

Penyebab dari penyakit ini sendiri adalah virus yang kemudian dikenal dengan nama sama, dan diidentifikasikan sebagai keluarga Togaviridae di genus alphavirus.

Mahasiswa UNY Kembangkan Gel Penurun Demam dari Daun Kupu-kupu

Gejala dan penanganan

Bintik merah gejala chikungunya dan DBD | Zay Nyi Nyi/Shutterstock
info gambar

Menurut penjelasan Prof. Dr. Tjandra Yoga, penyakit chikungunya dapat dikenali dengan beberapa gejala sebagai berikut:

  • Demam mendadak disertai rasa mual,
  • Nyeri sendi di kaki, lutut, pinggul, pinggang sampai terasa seperti lumpuh hingga tidak dapat berjalan dan sakit bila bergerak.
  • Nyeri sendi juga terasa di tangan, jari, lengan, bahu dll, dan
  • Timbul bintik-bintik kemerahan hampir mirip seperti DBD.

Dijelaskan juga sakit sendi yang dimaksud akan dirasakan selama seminggu. Sementara itu masa inkubasi dari dari masuknya virus ke dalam tubuh sampai timbulnya gejala di atas akan berlangsung selama 7-10 hari.

Bagaimana cara pengobatannya?

Masih menurut sumber yang sama, upaya pengendalian chikungunya pada dasarnya sama dengan DBD. yaitu mengobati penderita dengan memberi obat penurun panas dan obat nyeri sendi, perlu juga dilakukan istirahat yang cukup, dan penyemprotan wilayah untuk membunuh nyamuk yang terinfeksi.

Masyakat juga harus rajin membersihkan lingkungan dari jentik dan genangan air secara teratur seminggu sekali, dan lebih sering ketika setelah hujan turun. Hal tersebut dilakukan lewat program PSN (pembersihan sarang nyamuk).

Mendukung pernyataan tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Tangerang Dini Anggraeni menjelaskan, jika chikungunya adalah penyakit dengan gejala yang akan sembuh sendiri dan cenderung tidak parah.

"Chikungunya merupakan penyakit 'self limiting disease', maka yang diutamakan adalah pencegahannya agar tidak berkembang dan menular," jelas Dini, mengutip Narasi Newsroom.

Mengenal Wolbachia, Inovasi Teknologi untuk Pencegahan Demam Berdarah

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini