Keliling Lobi Jepang hingga Korea Selatan, Apa Target Ekonomi yang Ingin Diraih RI?

Keliling Lobi Jepang hingga Korea Selatan, Apa Target Ekonomi yang Ingin Diraih RI?
info gambar utama

Melakukan kunjungan ke sejumlah negara tetangga atau negara lain, yang dikenal memiliki hubungan dekat terkait kerja sama bilateral di berbagai bidang merupakan hal yang wajar dilakukan pimpinan negara, termasuk Indonesia.

Seperti yang terjadi baru-baru ini, Presiden Indonesia bersama dengan jajaran Menteri di bidang terkait seperti Menteri Investasi, Menteri BUMN, dan lain-lain diketahui melakukan rangkaian kunjungan ke tiga negara maju di kawasan Asia Timur, yakni China, Jepang, dan Korea Selatan.

Rangkaian kunjungan yang dimulai pada Senin (25/7/2022) itu, disebutkan memiliki tujuan utama untuk merealisasikan sejumlah kesepakatan kerja sama ekonomi yang terjalin dari masing-masing negara. Seperti yang diketahui, ketiga negara di atas selama ini memang dikenal sebagai mitra strategis Indonesia di bidang ekonomi.

Tapi jika membahas lebih detail mengenai upaya pendekatan yang dilakukan, target ekonomi apa saja yang sebenarnya ingin diraih kali ini? Dan bagaimana hasilnya?

Pimpinan RI Berkeliling Temui Sejumlah Pemimpin Negara, Hasilkan Kesepakatan Apa Saja?

Komitmen China soal hasil pertanian RI dan isu kereta cepat

Presiden RI dan China | BPMI Setpres
info gambar

Menjadi negara yang pertama kali dikunjungi, ada berbagai kesepakatan dan komitmen yang terjalin antara RI dan China. Berbagai kerja sama yang dibahas dalam pertemuan bilateral kemarin secara detail mencakup perdagangan, investasi, infrastruktur, keuangan, pendanaan, serta maritim.

Sebelumnya China memang dikenal sebagai salah satu negara yang mengandalkan Indonesia untuk memasok kebutuhan minyak sawit mereka. Namun terbaru di samping itu, China sepakat untuk menunjukkan kerja sama ekonomi yang baru dalam hal pertanian. Mereka berkomitmen untuk mendukung dan melakukan impor produk pertanian dari tanah air salah satunya nanas, dengan membahas protokol eskpor yang akan berjalan dalam waktu dekat.

Beberap komitmen kerja sama lainnya juga dibahas dan disepakati lewat penandatanganan MoU seperti pembangunan Green Industrial Park di Kalimantan Utara, pengaturan kerja sama kelautan, pertukaran informasi dan penegakan pelanggaran kepabeanan, dan lain-lain.

Di samping semua kesepakatan kerja sama yang memiliki arah positif atau kabar baik bagi RI, namun sejatinya ada satu isu yang mungkin kurang diharapkan bagi Indonesia, yakni mengenai pembengkakkan dana proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang saat ini masih berjalan.

Seperti yang diketahui, pada proyek yang bekerja sama dengan China Development Bank (CDB) tersebut memang terjadi pembengkakkan dana yang sempat ramai, dan menjadi bahan perbincangan beberapa waktu lalu. Rupanya, China berharap agar pembengkakan biaya tersebut ditanggung oleh pemerintah Indonesia.

Teknologi Terbaru Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Penguatan perdagangan dan investasi dengan Jepang

Pembahasan kerja sama RI dan Jepang | BPMI Setpres
info gambar

Dengan negeri Sakura, Indonesia sendiri diketahui sudah memiliki kesepakatan dan Kerjasama bilateral yang dinamani IJEPA (Indonesian-Japan Economic Partnersip agreement). Pada kunjungan yang dilakukan setelah dari China, kedua negara sepakat untuk memperkuat kerja sama tersebut untuk bidang perdagangan dan investasi.

“Kita sepakat protokol perubahan IJEPA dapat diselesaikan dan ditandatangani pada KTT G20 di Bali, November mendatang,” ujar Jokowi.

Lebih detail, salah satu upaya ‘melobi’ yang dilakukan pihak Indonesia kepada Jepang adalah permintaan penurunan tarif untuk beberapa produk. Beberapa di antara produk tuna, pisang, dan nanas, dan akses pasar untuk produk mangga.

Dalam kesempatan yang sama Presiden juga menjembrengkan kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berhasil pulih pasca pandemi, dan potensi yang dimiliki jika berbagai pihak dari Jepang melakukan investasi ke tanah air.

Bukan tanpa alasan, pasalnya dalam kesempatan tersebut memang hadir berbagai pimpinan perusahaan teknologi khususnya otomotif yang sudah diperhitungkan dunia, dan beberapa memang sudah aktif menyuntikkan dana investasi ke Indonesia, misalnya saja CEO Toyota Motor Corp, CEO Mitsubishi, dan masih banyak lagi.

Ekspor Perdana, Toyota Produksi Indonesia Perluas Pasar ke Australia

Investasi dan pasokan baja untuk industri mobil listrik dengan Korea Selatan

Pendandatanganan Investasi POSCO dan Krakatau Steel | BPMI Setpres
info gambar

Terakhir dengan Negeri Ginseng, seperti yang diketahui jika negara ini menjadi asal dari pabrikan otomotif yang belakangan aktif memperhitungkan pasar di Indonesia, terutama dari segi kendaraan listrik, yakni Hyundai.

Bertemu secara langsung dengan Executive Chairman Hyundai Motor Group, Chung Eui-sun, pimpinan Hyundai tersebut memastikan bahwa mereka akan melakukan ekspansi untuk mobil listrik, serta penelitian dan pengembangannya di Indonesia. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia.

“Kebetulan tadi menyampaikan bahwa mereka akan melakukan ekspansi untuk mobil listrik dan RND-nya di Indonesia, ini masih dalam perencanaan,” ujarnya.

Lebih dari itu, disebutkan juga bahwa Hyundai menjadi salah satu pihak yang menunjukkan ketertarikan untuk berinvestasi untuk pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru. Bahkan ketertarikan itu juga datang dari dua perusahaan lainnya, yakni LG dan POSCO.

Bicara soal POSCO, perusahaan satu ini juga memiliki kesepakatan menarik sendiri terkait kerja sama dengan Indonesia. Produsen baja di Korea Selatan tersebut akan bekerja sama dengan Krakatau Steel (KS) untuk mengalirkan investasi senilai 3,5 miliar dolar AS, atau setara Rp52,5 triliun. Penandatanganan kerja sama tersebut juga berlangsung pada Kamis (28/7).

Keduanya bekerja sama untuk meningkatkan produksi baja untuk industri otomotif di kedua negara, khususnya mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.

Sekadar informasi, sebenarnya POSCO sendiri bukan investor baru bagi Indonesia. Sejak tahun 2010 mereka bekerja sama KS sudah membangun perusahaan joint venture PT Krakatau Posco bergerak di sektor industri baja yang telah menyerap tenaga kerja sebanyak 7.000 orang.

Lain itu, POSCO sendiri juga menjadi bagian dari konsorsium LG dalam proyek grand package industri baterai listrik terintegrasi di tanah air, dengan total nilai investasi mencapai 9,8 miliar dolar AS, atau setara Rp142 triliun.

Jajaran Perusahaan Kunci di Balik Pabrik Baterai Mobil Listrik Pertama RI

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini