Pesona Chairil Anwar, Si Binatang Jalang yang Ingin Abadi hingga 1.000 Tahun

Pesona Chairil Anwar, Si Binatang Jalang yang Ingin Abadi hingga 1.000 Tahun
info gambar utama

26 Juli menjadi momentum yang begitu berharga bagi sastrawan dan penyair Angkatan 45, Chairil Anwar. Sastrawan yang dijuluki sebagai Si Binatang Jalang ini akan berusia 100 tahun atau seabad.

Chairil dianggap sebagai seorang pelopor Angkatan 45 yang banyak membuat karya sastra, walaupun semasa hidupnya banyak yang belum sempat diterbitkan. Dirinya juga terkenal sebagai pejuang kemerdekaan dengan puisinya yang menggetarkan jiwa.

Chairil dilahirkan di Medan pada 26 Juli 1922 dan menghabiskan masa kecilnya di kota tersebut. Kemudian dirinya ikut pindah ke Batavia setelah orang tuanya bercerai. Di Medan, Chairil sempat bersekolah tetapi hanya menamatkan pendidikan dasar saja.

Chairil tidak dapat menyelesaikan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) yang setara dengan tingkat SMP. Namun sejak MULO ini bakat seni seorang Chairil muda sudah terlihat.

Dimuat Historia, ketika bersekolah, Chairil tercantum sebagai anggota redaksi majalah dinding Ons Mulo Blad. Di sana, dirinya kerap menuangkan karya dalam bentuk prosa. Di balik jiwa seninya, Chairil memiliki kepribadian yang nyentrik.

Hans Bague Jassin dalam Bunga Rampai Memoar Senarai Kiprah Sejarah Jilid 1 mengingat Chairil yang gemar bermain pingpong itu akan selalu berteriak jingkrak-jingkrak, bila memenangkan pertandingan.

Indahnya Puisi Bertema Ramadan Karya Penyair Indonesia

“Tingkah laku inilah yang menarik perhatian saya. Ah, jadi inilah Chairil Anwar,” tutur pria yang dijuluki Paus Sastra Indonesia ini.

Chairil ketika itu berusia 14 tahun sedangkan Jassin, lima tahun lebih tua dan duduk di bangku Hoogere Burgerschool (HBS) yang setara SMA. Keduanya kembali bertemu di Batavia dan menjadi sahabat karib.

Pada zaman pendudukan Jepang, Chairil menjadi penyiar radio. Sedangkan Jassin bergiat di majalah Panji Pustaka sebagai wakil pemimpin redaksi. Mereka terlibat aktif dalam diskusi sastra yang diselenggarakan Himpunan Sastrawan Angkatan Baru.

Chairil seperti diakui Jassin adalah orang yang suka bertindak sesuka hati. Seperti misalnya bertandang ke rumah atau ke kantor Jassin tanpa kenal waktu. Pernah pula Chairil berkunjung ke rumahnya, menumpang becak dan meminta Jassin membayarnya.

“Jassin paling sebal dengan kebiasaan Chairil yang suka pinjam buku tapi lupa mengembalikan,” tulis Martin Sitompul dalam Bogem Mentah untuk Chairil Anwar.

Chairil yang urakan

Meski kesal, namun menyadari potensi dan bakat Chairil, Jassin sepertinya maklum saja menghadapi ulah sahabatnya itu. Tetapi tidak demikian dengan kawan-kawan sastrawan yang lainnya.

Pasalnya Chairil suka petantang-petenteng. Dirinya misalnya tak sungkan mengangkat kaki ketika duduk atau berbicara lantang saat mengkritik orang. Banyak pengarang tua, seperti Arman Datuk Madjoindo dan Tulis Sutan Sati yang tidak suka dengannya.

“...Datuk Madjoindo bahkan pernah berujar dengan wajah berang, "Gantung saja dia".”

Pada 1945, karya-karya Chairil mulai diterbitkan di majalah Pantja Raja yang merupakan pengganti Panji Pustaka. Oleh Jassin dan rekan-rekannya, sajak Chairil diberi tempat dan nama dan reputasinya semakin menjulang.

Tetapi menurut Jassin, watak Chairil tetap tidak pernah berubah. Bahkan karena sikap inilah persahabatan antara Chairil dan Jassin pernah merenggang. Bukan hanya merenggang, bogem mentah dari Jassin pernah melayang ke muka Chairil ketika itu.

Chairil memang tidak bisa ditahan, misalnya pada suatu pagi di bulan November 1945. Ada sebuah pertemuan di rumah Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Pertemuan ini berjalan serius dan semua orang menyimak segala perkataan dari Sjahrir.

Namun di tengah keseriusan tersebut, tiba-tiba datang seorang pemuda berpakaian agak dekil yang memasuki ruangan rapat. Dalam gaya slengean, dia menuju meja Sjahrir dan mengambil beberapa batang cerutu.

Peringatan Hari Puisi Nasional, 3 Lagu Ini Diangkat dari Puisi Sastrawan Indonesia

“Selamat pagi, Bapak Perdana Menteri. Ada yang sedang penting rupanya. Saya interupsi sebentar, cuma buat ini kok…” ujarnya yang dikisahkan Sjuman Djaya dalam bukunya yang berjudul Aku.

Tetapi semua orang seperti sudah mafhum dengan kelakuan songong dari Chairil. Selain itu, dirinya pun memiliki hubungan istimewa dengan Sjahril. Si Binatang Jalang tak lain masih merupakan keponakan dari Si Bung Kecil, panggilan akrab Sjahrir.

Kendati tidak beretika, Chairil merupakan penyair yang handal pada zamannya. Jurnalis kawakan, Rosihan Anwar mengisahkan bagaimana seorang Chairil sering berlaku bak singa podium di pentas-pentas seni.

“..Chairil sering berlaku bak “singa” di pentas-pentas seni: berdeklamasi dalam gaya memukau dan menyala-nyala,” kenang Rosihan dalam Menulis dalam Air, Sebuah Otobiografi.

Ingin hidup 1.000 tahun

Pada era revolusi, sastrawan Armijn Pane dari bagian Kesusastraan Pusat Kebudayaan di Jakarta kerap mengadakan malam deklamasi yang dihadiri oleh para penyair dan peminat sastra di Ibu Kota.

Suatu malam, Rosihan mendapat giliran mendeklamasi sebuah sajak dari golongan Pujangga Baru. Dirinya sudah menghafal sajak itu di luar kepala. Ketika itu deklamasi yang dibacakan dari sehelai kertas atau sebuah buku tidak dianggap sebagai seni.

Maka tampilah Rosihan dengan diiringi lantunan piano yang dirinya mainkan sendiri. Semua orang terpukau. Selesai dirinya berpuisi, kemudian dilanjutkan dengan acara diskusi membahas isi dan sajak-sajak yang telah dibacakan.

Di tengah riuh rendah orang berdiskusi, tiba-tiba seorang anak muda dengan tubuh yang kurus kerempeng, bermata bak singa dengan baju lusuh, dan rambut acak-acakan mengangkat tangannya.

Dirinya mengkritik sajak-sajak generasi Pujangga Baru yang menurutnya sudah tidak relevan dengan zaman yang jauh berubah. Menurut pemuda itu, sajak-sajak karya Pujangga Baru sudah tidak ada vitalisme.

Mengenang Karya Abadi Para Sastrawan Legenda Indonesia

“Sajak harus mengandung vitalisme! Saudara mau contoh?” kata pemuda yang tak lain adalah Chairil.

Chairil lantas berdiri di podium, kemudian berdeklamasi. Dirinya membawakan sajaknya sendiri yaitu Aku Binatang Jalang. Dalam bagian akhir sajaknya itu, Chairil seolah menantang kehidupan yaitu aku hendak hidup 1.000 tahun lagi.

“Chairil Anwar memang meninggal pada 1949. Tetapi saya rasa kepenyairannya akan terus dikenang dan dibicarakan orang. 1.000 tahun lagi, Insya Allah,” ujar Rosihan.

Tidak hanya hebat dalam soal menciptakan dan membaca puisi, Chairil pun dianggap memiliki jiwa patriot yang lumayan besar. Sjuman Djaya pernah menulis bahwa jika Chairil sangat terpengaruh dengan suasana revolusi yang ketika itu tengah berkecamuk.

Misalnya ketika dia mengikuti kawan-kawannya yang hijrah ke Karawang pada 1947, Chairil menyaksikan langsung militer Belanda yang menghabisi orang-orang sebangsanya. Dia diam-diam marah dan terluka.

Sepulang dari Karawang, muncullah sajak Karawang-Bekasi yang pertama kali dibacakan dalam obrolan malam antar penyair dan peminat sastra di sebuah kedai yang terletak di Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Tetapi di balik vitalisme itu, Chairil sempat kesulitan ekonomi bahkan berpisah dengan istrinya, Hapsah. Dirinya kemudian menderita TBC dan akhirnya meninggal muda 27 tahun akibat komplikasi,

HB Jassin yang turut mengantarkan jasad Chairil ke pemakaman karet menyebut sahabatnya ini sebagai sastrawan pelopor Angkatan 45. Dan hingga kini Si Binatang Jalang masih tetap terkenang hingga 1.000 tahun lagi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini