Potensi Sukun Sebagai Alternatif Pangan Utama di Masa Depan

Potensi Sukun Sebagai Alternatif Pangan Utama di Masa Depan
info gambar utama

Siapa yang tidak mengenal sukun? Buah yang memiliki nama ilmiah Artocarpus altilis ini terbilang unik, karena untuk menikmatinya sangat jarang atau bahkan hampir tidak bisa dimakan langsung secara mentah.

Biasanya, buah sukun baru bisa dinikmati setelah diolah dengan berbagai cara seperti dipanggang, direbus, atau bahkan digoreng. Berbentuk bulat atau cenderung lonjong, bagian kulit luarnya berwarna hijau terang dan berubah kuning kecokelatan ketika matang, sedangkan daging buahnya berwarna agak keputihan. Tapi bagi beberapa varietas, kadang ditemukan sukun dengan warna daging buah oranye kemerahan sewaktu matang.

Sukun sendiri diketahui merupakan salah satu tanaman yang dapat tumbuh dengan sangat baik di wilayah dataran rendah dengan iklim tropis. Buah ini dapat tumbuh subur pada lahan dengan ketinggian 0-650 meter di atas permukaan laut. Sebaliknya, jika ditanam di dataran tinggi atau lebih dari 1.500 mdpl, pohonnya cenderung akan sulit berbuah.

Sukun memiliki kayu tubuh yang bersifat lunak dengan warna batang hijau kecokelatan dan mengandung getah diseluruh bagiannya. Umumnya, pohon sukun dapat tumbuh mencapai ketinggian 30 meter, namun kebanyakan pada tanaman hasil budidaya, rata-rata tumbuh dengan ketinggian 8 hingga 15 meter.

Tanaman Singkong, Flora asal Brazil yang Kerap Selamatkan Pangan Indonesia

Pelindung jantung yang lebih dari sekadar teman ngopi

Sukun goreng | Fadhlina Shamsudin/Shutterstock
info gambar

Selama ini, kebanyakan masyarakat Indonesia masih sebatas menganggap sukun sebagai makanan sampingan atau camilan yang biasanya dinikmati dengan secangkir kopi. Biasanya, banyak juga dijumpai pedagang yang menjajakan sukun sebagai gorengan di pinggir-pinggir jalan.

Padahal, sukun memiliki potensi dan telah lama dilirik sebagai sumber pangan alternatif yang berperan dalam membentuk ketahanan pangan global saat dihadapi dengan situasi krisis iklim. Bagaimana bisa?

Faktanya di beberapa negara terutama wilayah Eropa, buah sukun telah dijadikan salah satu jenis makanan pokok karena mengandung karbohidrat yang tinggi. Orang Eropa bahkan mengenal buah sukun dengan sebutan breadfruit atau ‘buah roti’ karena teksturnya yang dianggap menyerupai roti setelah dimasak.

Sedangkan menurut jurnal yang dipublikasi oleh Kementerian Pertanian, salah satu produk olahannya dalam bentuk tepung (tepung sukun), sangat berpotensi untuk menjadi alternatif pangan pengganti beras.

Bukan tanpa alasan, hal tersebut terbukti karena sukun mengandung mineral serta vitamin yang lebih banyak dan lengkap, serta kandungan serat yang lebih tinggi. Meski begitu, tingkat kalori dalam sukun diketahui lebih rendah, sehingga membuatnya cocok dijadikan sebagai makanan diet.

Tidak hanya memiliki potensi sebagai sumber pangan atau makanan pokok, bagian lain dari buah sukun yakni daunnya ternyata juga memiliki potensi unggul untuk dikembangkan menjadi obat pencegah penyakit jantung.

Secara tradisional, daun sukun telah dipakai untuk mengobati penyakit hati, inflamasi, jantung, dan ginjal. Sementara itu LIPI diketahui telah melakukan penelitian dan pengembangan sukun sebagai obat sejak lama, dan mulai tahun 2004 buah satu ini mulai dilirik untuk penyakit kardiovaskular.

Dari hasil penelitian yang diperoleh, disimpulkan jika ekstrak daun sukun mengandung flavonoid dan sitosterol yang berkhasiat untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah. Khasiat tersebut didapat berkat kemampuan kandungan daun sukun dalam menghambat akumulasi kolestrol pada dinding pembuluh darah.

Porang, Komoditas Ekspor yang Sedang Populer dan Menjanjikan Bagi Petani Indonesia

Sanggup bertahan dari ancaman iklim

Di lain sisi, faktor yang membuat sukun diunggulkan sebagai sumber pangan alternatif pengganti beras di masa depan adalah karena ketahanannya. Penemuan para peneliti mengungkap, bahwa pohon dari buah satu ini jadi salah satu jenis tanaman yang sanggup bertahan di tengah ancaman perubahan iklim dan suhu yang diprediksi akan memanas.

Mengutip New Scientist, beberapa ilmuwan di Chicago Botanic Garden disebut telah melakukan model prediksi iklim dalam beberapa dekade ke depan. Hasilnya, dari prediksi perubahan iklim yang ada, disimpulkan kalau tanaman atau pohon sukun terlihat masih akan tumbuh dengan baik sampai dengan tahun 2060-2080.

Menurut mereka, pohon sukun tidak akan terpengaruh dengan situasi alam yang mengalami perubahan. Hal tersebut penting karena berdasarkan sejumlah penelitan, beberapa tanaman pokok seperti padi/beras diprediksi akan sangat terpukul bahkan terancam keberadaannya akibat kenaikan suhu dan perubahan cuaca yang ekstrem.

Masih menurut sumber yang sama, sayangnya disebutkan bahwa sukun saat ini merupakan satu dari sekian banyak tanaman pangan yang masih minim dikenal sebagai komoditas unggul. Mereka masih terabaikan dan kurang dimanfaatkan dengan baik.

Padahal, sukun dan tanaman serupa lainnya memiliki potensi untuk mewujudkan ketahanan pangan global di masa depan.

Sagu, Alternatif Pangan Lokal dari Indonesia Timur

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini