Jenang Suro: Cara Masyarakat Jawa Mempererat Silaturahmi dengan Kuliner

Jenang Suro: Cara Masyarakat Jawa Mempererat Silaturahmi dengan Kuliner
info gambar utama

Masyarakat Jawa mempunyai cara khusus dalam rangka merayakan Tahun Baru Islam, 1 Muharram atau 1 Suro. Biasanya mereka akan membuat jenang suro sebagai hantaran ke rumah tetangga atau saudara untuk menjalin silaturahmi.

Hal ini dikisahkan Masripah, warga Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur yang mengaku tradisi membuat jenang suro dan membagi-bagikannya sudah dilakukan keluarganya secara turun temurun.

“Ini merupakan bentuk syukur sudah masuk ke tahun baru. Terus juga untuk menjalin silaturahmi dengan keluarga. Biasanya sebelum dibagi-bagikan didoakan dahulu biar semuanya selamat dan dijauhkan dari bencana,” jelasnya yang dimuat Kompas.

Makanan ini hampir sama dengan bubur ayam, Masripah biasanya mencampur santan dengan beras dan memasaknya hingga matang. Menurutnya alasan dicampur dengan santan agar rasanya gurih.

Senada dengan Masripah, Yarmeli yang juga warga Banyuwangi sudah terbiasa menggelar selamatan dengan membuat jenang suro. Makanan ini biasanya mereka buat dari tepung beras yang ditanak dengan santan dan serai.

Malam 1 Suro, Kisah Pendaki yang Berdoa dan Ziarah ke Gunung Lawu

Kemudian mereka akan memberi kuah kari, irisan telur dadar, dan kacang tanah yang digoreng. Namun ada juga yang akan menambahkannya dengan serundeng atau kelapa yang digoreng.

“Rasanya mirip bubur ayam,” kata Yarmeli yang diwartakan Republika.

Sementara itu mengantar jenang suro, katanya sudah menjadi tradisi turun-temurun orang Osing -masyarakat asli Banyuwangi- yang akan terus diajarkan kepada anak cucu. Ini bermakna memperkuat hubungan silaturahmi dengan tetangga dan saudara.

Hal yang menarik, jelas Yarmeli, ketika mengantarkan jenang suro dengan piring ke tetangga atau keluarga, si penerima hanya menarik alas daun pisang yang dibentuk membulat, kemudian dipindahkan ke piring lainnya.

“Kegiatan selamatan ini tidak secara khusus diumumkan di masjid, namun lebih kepada inisiatif masing-masing individu,” ungkapnya.

Filosofi jenang suro

Bagi keluarga Jawa, Tahun Baru Islam memang disambut secara spesial dengan menyantap hidangan sederhana, yakni jenang suro. Makanan ini ditafsirkan sebagai alat atau ubo rampe untuk memaknai perayaan Tahun Baru Islam.

Mengutip buku Perayaan 1 Suro di Pulau Jawa (2009) oleh Julie Indah Rini yang diwartakan Kompas menyebutkan keluarga Jawa umumnya menghidangkan jenang suro pada malam menjelang tahun baru. Tepatnya malam satu suro atau satu Muharam.

“Hal ini sesuai dengan konsep Jawa, di mana setelah setelah pukul empat dianggap sudah memasuki hari baru,” paparnya.

Julie menyebut dalam beberapa penyajiannya, jenang suro dihidangkan dengan berbagai lauk pelengkap. Di Jawa sendiri, makanan ini akan disajikan bersama kacang kedelai, serundeng kelapa. rujak degan, dan telur dadar ayam kampung.

Bagi orang Jawa, jelasnya, jenang suro tak dihidangkan secara cuma-cuma. Sajian ini ternyata memiliki filosofi yang dipercaya oleh masyarakat di masing-masing daerahnya, salah satunya adalah merupakan wujud dari kerukunan berkeluarga.

Pemerhati budaya Jawa, Arie Noven menyebut jenang suro konon hidangan ini sudah ada sejak zaman pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa di Jawa. Selain itu dalam literatur Jawa, makanan ini juga memperingati hari penting para nabi.

Menengok Taman Sriwedari, Tiruan Taman Surga yang Tinggal Kenangan

Seperti simbol dari hari kemenangan Nabi Musa atas Fir’aun. Jenang suro konon juga dianggap sebagai simbol dari peringatan atas kemenangan Nabi Muhammad dalam perang Badar melawan musuh Islam.

Sedangkan dalam kitab ulama klasik di antaranya Nihayatuz Zain karya Syaikh Nawawi Al-Bantani, Nuzhalul Majalis karya Syaikh Abdul Rahman Al Usfuri, dan Jam’aul Fawaid karya Syaikh Daud Fatani juga menyinggung makanan ini.

Buku itu menyebutkan jenang suro dibuat dalam rangka untuk mengenang hari di mana Nabi Nuh selamat setelah 40 hari mengarungi banjir besar yang melanda dunia, pada masa awal peradaban manusia.

Diceritakan ketika itu Nabi Nuh bertanya kepada para sahabatnya, tentang makanan yang masih tersisa di dalam kapal. Lalu sahabatnya menyebut beberapa bahan makanan dan kemudian dimasak secara bersama, dan menjadi jenang suro.

Pengaruh sosial

Sementara itu, setelah proses pembuatan dan memakannya secara bersama, jenang suro juga akan diantar kepada tetangga dan sanak saudara. Di Kampung Krupuk, Karang Mluwo Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember tradisi ini bernama Ter-Ater (mengantar).

Proses ini biasanya menjadi yang terakhir dari tradisi jenang suro, biasanya sebelumnya akan didoakan oleh para tokoh agama. Kemudian makanan ini akan diantarkan kepada para tetangga dan saudara.

“Proses ini juga bertujuan sebagai salah satu bentuk sodaqoh dari jenang yang telah dibuat, selain itu juga sebagai pengikat kekerabatan mereka antar sesama tetangga,” papar Faizal Effendi dalam Tradisi Jenang Suro Sebagai Pengikat Solidaritas Sosial.

Menikmati Semangkuk Tengkleng, Semangat Bertahan Hidup Masyarakat Solo

Menurut Faizal, dalam proses ini biasanya akan terjadi komunikasi antar keduanya baik berupa pekerjaan sehari-hari atau yang lainnya. Proses ini juga memiliki tujuan mengikat solidaritas masyarakat dan juga sebagai bagian dari menjaga kerukunan antar warga.

“Proses ini juga memiliki tujuan mengikat solidaritas masyarakat dan juga sebagai bagian dari menjaga kerukunan antar warga sekampung,” katanya.

Walau begitu, tradisi membuat jenang suro dan membagi-bagikannya ke tetangga dan saudara sudah mulai luntur. Masripah mengakui di lingkungannya sendiri, tinggal dirinya yang membuat jenang suro.

Padahal pada zaman dahulu sudah banyak piring dari tetangga dan saudaranya yang mampir ke rumah. Pasalnya, mereka semua akan memasak jenang suro dalam hari yang bersamaan.

“Kalau sekarang? Di sini saja tinggal saya yang buat,” jelasnya.

Tetapi Masripah mengaku akan terus menularkan tradisi tersebut kepada anak dan cucunya. Karena baginya tradisi ini sangat penting, tidak hanya sebagai warisan leluhur, namun juga menjaga silaturahmi.

“Sekarang semua orang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri sampai nggak sempat silaturahmi. Nah dengan membuat jenang suro ini kan bisa jadi alasan untuk bertemu dengan keluarga dan tetangga,” ujarnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini