Peristiwa Tragis Gedoran: Ketika Pekik Merdeka Tidak Bergema di Kota Depok

Peristiwa Tragis Gedoran: Ketika Pekik Merdeka Tidak Bergema di Kota Depok
info gambar utama

Kumandang proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 tak hanya terdengar di Jakarta. Pasca Soekarno-Hatta membacakan teks proklamasi, kabar itu juga langsung menyebar ke seluruh daerah di Indonesia.

Seluruh wilayah Jawa Barat, mulai dari Bandung, Bogor, hingga Bekasi menyambut pekik merdeka tersebut. Semua elemen masyarakat bersatu pada menjadi martir bagi kelahiran republik ini, kecuali satu tempat yaitu Kota Depok.

Depok memang tidak lepas dari sosok tuan tanah Cornelis Chastelein seorang saudagar VOC. Dirinya ketika itu menjadi pemilik tanah di Depok dan menjadikannya memiliki pemerintahannya sendiri.

Chastelein mewariskan seluruh tanahnya kepada 12 marga budaknya yang berasal dari berbagai suku Indonesia dan memerdekakan mereka dalam surat wasiat. 12 marga ini kemudian tinggal di Depok dan berketurunan.

Meski bermuka pribumi dan berkulit cokelat, 12 marga dan keturunannya lebih bergaya hidup seperti orang Eropa. Mereka pun lebih memilih menggunakan bahasa Belanda. Hal inilah yang membuat orang-orang ini disebut Belanda Depok.

Dimuat Wikipedia, dalam sejarah, Depok juga tercatat telah merdeka sejak 28 Juni 1714. Mereka memiliki tatanan pemerintahannya sendiri yakni Gemeente Bestuur Depok yang bercorak Republik.

Balada Pondok Cina: Tempat Singgah Orang Tionghoa ketika Terusir dari Depok

Pimpinannya seorang presiden yang dipilih tiga tahun sekali melalui pemilu. Pemerintah Belanda memang menyetujui Pemerintahan Chastelein ini dan menjadikannya sebagai Kepala Negara Depok.

Karena itulah, orang “asli” Depok ini enggan bergabung dengan republik baru bernama Indonesia. Mengingat mereka sudah merdeka dan telah memiliki presiden sebelum proklamasi 17 Agustus.

Akibat tidak mengakui proklamasi kemerdekaan ini, wilayah yang berjarak hanya beberapa kilometer dari Jakarta pun diserbu para pejuang. Depok dikepung dari seluruh penjuru mata angin oleh para laskar kemerdekaan.

Orang Depok kemudian takluk di bawah todongan senjata, tidak sedikit yang dijarah, dipaksa mengibarkan Bendera Merah Putih dan teriak Merdeka. Siapapun yang membangkang kena hantam, tak sedikit korban berjatuhan.

Huru-hara ini dikenal sebagai Peristiwa Gedoran Depok. Di mana banyak pejuang yang kemudian gugur karena kedatangan pasukan Sekutu. Tidak sedikit juga orang Depok yang mengalami trauma akan hal ini.

Depok dalam Peristiwa Gedoran

Ketika masa penjajahan Jepang, wilayah Depok terbilang relatif paling aman. Hampir tidak ada bentrokan fisik di kota tersebut. Namun situasi berubah ketika Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan.

Semangat nasionalis lantas mendidih hampir di setiap jiwa anak bangsa. Sehingga mereka ingin melakukan pembersihan di setiap wilayah Nusantara, tidak terkecuali wilayah Depok yang terkenal lebih pro dengan Belanda.

Wenri Wanhar dalam Gedoran Depok: Revolusi Sosial di Tepi Jakarta 1945-1955 yang dimuat VOI menyebut kerusuhan mulai terjadi di Depok pada 7 Oktober 1945. Penduduk setempat mulai memboikot orang Eropa, kaki tangan Belanda, dan Belanda Depok.

“Mereka menghalangi orang Eropa membeli kebutuhan sehari-hari. Para laskar kemerdekaan itu ingin melumpuhkan aktivitas perekonomian orang-orang Belanda dan kaki tangannya,” tulisnya.

Laskar-laskar pemuda pun dibentuk. Di bawah kepemimpinan Margonda, terbentuk Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI), Tole Iskandar juga memimpin 21 laskar, dan Pertahanan Daerah di bawah pimpinan Nisin Manyir.

Pada 8 Oktober 1945 pemberontakan mulai marak, segerombolan orang bersenjata bambu runcing merampok lima keluarga yang dianggap kaki tangan Belanda. Mereka menjarah semua barang kekayaannya.

Sekelompok gelandangan pun melakukan penjarahan ke gudang-gudang koperasi tempat penyimpanan pangan. Pada 11 Oktober, sekitar 4.000 orang datang ke Depok. Mereka mengobrak-abrik rumah dan mengusir penghuninya, terutama penduduk Kristen Eropa.

Asal-Usul Depok, Kota Satelit yang Diusulkan Gabung ke Jakarta Raya

Jozua Dolf Jonathans masih mengingat peristiwa tersebut. Pada 11 Oktober 1945, bertepatan dengan ulang tahun kakaknya, sejumlah orang mendatangi rumahnya sambil berteriak-teriak “merdeka”.

Keluarga Dolf lari berhamburan menuju hutan untuk bersembunyi. Ketika mereka kembali pulang, jalanan sudah dipenuhi kapuk-kapuk yang dirobek. Malamnya, keluarganya memilih tidur di lantai ubin rumah karena ketakutan.

Pada 12 Oktober, warga Depok yang merupakan pewaris aset Chastelein ditangkap para pemuda. Dolf yang ketika itu masih berusia 13 tahun ikut ditangkap dan dibawa ke Penjara Paledang, Bogor.

Sedangkan kaum perempuan dimasukkan ke Gedung Gemeente Bestuur yang sekarang menjadi Rumah Sakit Harapan. Dolf memperkirakan ada sekitar 500-600 jiwa dari keturunan 12 marga budak Chastelein yang ditahan waktu itu.

Trauma dengan gedoran

Peristiwa Gedoran Depok sejatinya membuat posisi Indonesia terpuruk. Pemerintah RI dianggap tidak becus oleh dunia luar, salah satunya Inggris, karena tidak bisa menjaga ketertiban umum dan mengendalikan orang Indonesia.

Kedua, Republik Indonesia juga kehilangan simpati dan dukungan dari orang-orang Depok yang jadi korban itu. Disebut oleh Henny Isakh setelah Peristiwa Gedoran berlalu banyak anak laki-laki Depok memilih bergabung dengan tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL).

“Jika pun mereka tidak bisa balas dendam kepada Republiken ngawur dalam Gedoran Depok, paling tidak mereka bisa melindungi diri lewat seragam hijau dan bedil,” ucapnya yang merupakan korban dari Peristiwa Gedoran Depok yang dimuat Tirto.

Dan memang benar, para serdadu KNIL ini adalah pihak yang melindungi Henny Isakh dan orang Belanda Depok lainnya hingga 1949. Setelah itu sebagian orang Depok asli ikut ke Belanda dan sebagian lain memilih tetap tinggal di Depok.

Namun peristiwa ini seperti masih membekas kepada para korban, Boy Loen salah satu keturunan marga Loen generasi ke-8 mengatakan bila bicara Gedoran, orang-orang tua Kaum Depok seperti enggan.

Menyambut Museum Nabi Muhammad di Depok

Menurutnya Gedoran bagi orang-orang tua Kaum Depok, terutama mereka yang hidup pada pasca kemerdekaan ini adalah sebuah peristiwa tragis. Nama Gedoran pun diambil, karena pintu-pintu rumah mereka digedor dengan keras.

“Rumah mereka kemudian dirampok dan mereka diusir hingga dibunuh, dipenggal kepalanya dan dimasukin ke sumur. Oleh karena itu kalau tanya ke orang tua kami mereka tidak mau cerita, karena itu tragis dan menyakitkan,” jelasnya yang dimuat Republika.

Ketika peristiwa Gedoran tersebut, Kaum Depok lebih memilih menyelamatkan diri. Mereka tidak peduli barang dan sertifikat tanah mereka. Sehingga jelas Boy, banyak aset milik Kaum Depok dirampas dan diambil alih tanpa sepengetahuan pemilik aslinya.

Boy juga termasuk, sertifikat dan tanah yang dimiliki keluarga besar Loen pun diambil para penjarah. Karena itu ketika tanah-tanah Kaum Depok pada zaman revolusi diserobot begitu saja, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Pengurus Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) Ferdy Jonathans menyebut Peristiwa Gedoran menyisakan trauma mendalam bagi warga komunitas 12 marga. Oleh karena itu banyak yang enggak bercerita.

Namun baginya, peristiwa tersebut perlu diluruskan. Karena selama ini, kisah dari anggota komunitas cenderung terpinggirkan. Dirinya hanya menyebut bahwa warga Depok saat itu bukan pengkhianat, tetapi adalah korban.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini