Optimisme dalam Kehidupan Sosial: Sikap Gotong Royong Selamatkan Bangsa

Optimisme dalam Kehidupan Sosial: Sikap Gotong Royong Selamatkan Bangsa
info gambar utama

Good News From Indonesia (GNFI) kembali melakukan Survei Indeks Optimisme Generasi Muda di tahun 2022. Survei yang sudah dilakukan sejak tahun 2008 silam ini bertujuan untuk mengukur seberapa optimisme generasi muda, terhadap masa depan Indonesia dalam berbagai sektor kehidupan.

Seperti yang kita ketahui, pada 2030-2040, Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif (berusia 15--64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).

Maka dari itu, diharapkan survei ini dapat menginspirasi dan menghidupkan optimisme terhadap Indonesia, serta menjadi rujukan dalam pengembangan kebijakan pemerintah, korporasi, dan lembaga masyarakat.

Tak hanya itu, survei ini juga bertujuan dalam melihat bagaimana dampak dari pandemi Covid-19 yang telah mengubah perilaku, kebiasaan, dan dinamika kehidupan masyarakat di tengah pandemi saat ini.

Melihat Hasil Survei Indeks Optimisme Indonesia 2021

Sementara itu, di tengah percepatan pembangunan infrastruktur ini, untuk pertama kalinya, Indonesia menerima kepercayaan untuk memegang Presidensi Group of 20 (G20) yang tentunya akan berpengaruh pada tingkat optimisme generasi muda.

Pada survei tahun ini, GNFI bekerja sama dengan lembaga survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI). Survei ini juga mengalami perubahan dalam metodologi dan operasional survei sehingga data yang dihasilkan akan sahih dan kredibel untuk dijadikan rujukan masyarakat.

Pada Survei Indeks Optimisme Generasi Muda Indonesia 2021 terbagi menjadi 5 isu utama, yakni Pendidikan dan Kebudayaan, Kebutuhan Dasar, Ekonomi dan Kesehatan, Kehidupan Sosial, serta Politik dan Hukum.

Survei tersebut dilaksanakan menggunakan metode survei telepon pada rentang waktu 7 hingga 22 juli 2022 dengan jumlah responden 906 orang. Responden terbagi menjadi 41,1 persen laki-laki dan 58,4 persen perempuan, dengan 58,4 persen Generasi Y dan 41,6 persen Generasi Z.

Optimis dalam kehidupan sosial

Survei Optimisme GNFI (GNFI)
info gambar

Hasil Survei Indeks Optimisme ini dirilis dan didiskusikan pada Jumat (10/08) melalui kanal media sosial GNFI (Instagram, Twitter, Facebook, Youtube) dan Youtube KedaiKOPI.

Diskusi hasil Survei Indeks Optimisme dihadiri oleh Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn) Moeldoko, Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaikOPI & Peneliti Komunikasi dan Media Kunto Adi Wibowo.

Juga ada penanggap dari Pendiri Lembaga Survei KedaikOPI Hendri Satrio, Founder & Chairwoman Parinama Astha Foundation Rahayu Saraswati, dan Co Chair Y20 Indonesia 2022 Indra Dwi Prasetyo.

Adapun survei tersebut dilaksanakan di 11 kota di Indonesia, yakni daerah Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Medan, Semarang, Makassar, Palembang, Banjarmasin, Denpasar, Surakarta, dan Yogyakarta.

Menakar Baik Buruk Optimisme di Masa Krisis

Dari lima sektor yang dibahas, kehidupan sosial merupakan salah satu sektor yang berada di posisi kedua terbawah, yakni 50,2 persen. Angka ini menurun tipis dari survei tahun lalu yang mencapai 50,5 persen.

Lebih detail, ada empat hal yang dijadikan indikator untuk mengukur optimisme masyarakat terhadap masa depan sektor kehidupan sosial. Empat sektor yang dimaksud terdiri dari:

  1. Laki-laki dan perempuan akan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang di masa depan
  2. Masyarakat Indonesia semakin memiliki sikap toleransi di masa depan
  3. Masyarakat Indonesia semakin memiliki kebebasan berpendapat di masa depan
  4. Pengguna media sosial di Indonesia semakin beradab di masa depan.

Penyebaran berita hoax (9,5 persen) menjadi isu yang cukup dikhawatirkan oleh generasi muda pada masa mendatang. Sementara itu terkait toleransi generasi muda terlihat cukup optimis karena hanya mendapat 3,2 persen.

Bangsa gotong royong

Co Chair Y20 Indonesia 2022 Indra Dwi Prasetyo menyebut masyarakat Indonesia memiliki akar spiritual yang cukup tinggi. Karena itulah tidak heran melihat banyak yang masih optimis melihat fakta yang terjadi.

Padahal bagi Indra, kondisi global terkini sebenarnya bisa membuat sebuah generasi menjadi sangat pesimis, seperti perang Ukraina-Rusia, pertumbuhan ekonomi yang tidak pasti, hingga isu global warming.

“Indonesia, masyarakatnya sangat spiritual, sehingga semakin spiritual menjadi sangat optimis melihat masa depan,” paparnya.

Hal ini juga ditambah faktor iklim yang membantu orang-orang agar bisa tetap bertahan hidup walau sedang kekuarangan. Di negara tropis, jelasnya, kebutuhan pangan bahkan papan telah disediakan oleh alam.

“Beda dengan Eropa, kalau tidak punya rumah bisa meninggal karena kedinginan,” ucapnya.

Senada dengan Indra, politisi dan aktivis perempuan Rahayu Saraswati melihat faktor spiritual sangat membantu masyarakat Indonesia melewati masa-masa yang sulit. Bukan hanya itu, namun juga sikap gotong royong.

Bagi Saras, sikap gotong royong yang telah menjadi semangat kebangsaan ini selalu muncul ketika masa-masa sulit. Pandemi Covid 19, jelasnya, bisa menjadi contoh masyarakat yang bisa saling membantu.

Survei Indeks Optimisme 2021 Tunjukkan Semangat Generasi Muda Membangun Indonesia

Melihat semangat sosial inilah, Saras juga mendukung Presiden Jokowi yang menekankan gotong royong dalam Presidensi Group of 20 (G20). Karena memang itulah, lanjutnya, jati diri bangsa Indonesia.

Dirinya juga cukup optimis tentang masa depan perempuan Indonesia dibandingkan di luar negeri. Musababnya banyak support sistem yang telah terbentuk agar perempuan Indonesia bisa berkarir lebih baik.

“Optimisnya saya mengenai para pekerja perempuan di Indonesia bisa lebih baik daripada di luar negeri. Walaupun mereka seorang ibu, tetapi bisa lebih maju. Karena ada support sistem, seperti menitipkan anak bukan take it for granted, tetapi memang komunitasnya sudah seperti itu,” jelasnya.

Di sisi lain, Pendiri Lembaga Survei KedaikOPI Hendri Satrio meminta pemerintah juga mulai awas dengan isu-isu hoax yang sering bermunculan. Apalagi menjelang tahun-tahun politik.

Karena baginya, salah satu hal yang bisa mengancam ikatan kebangsaan muncul dari isu-isu hoax. Karena itu dirinya juga berharap anak-anak muda bisa menjaga demokrasi ini sehingga lebih baik.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini