Kisah Para Bandit yang Terhormat karena Jimat dan Keberanian Melawan Kolonial

Kisah Para Bandit yang Terhormat karena Jimat dan Keberanian Melawan Kolonial
info gambar utama

Pada masa-masa sekitar proklamasi kemerdekaan para penguasa Jepang sangat gagap menyikapi perubahan yang terjadi. Lemahnya Jepang dan tidak ada kekuatan luar menyebabkan pemimpin lokal dapat menguasai wilayah ini.

Sementara itu di Kota Jakarta, berbagai rintangan untuk sebuah revolusi sosial terbukti tidak dapat diatasi. Baru ketika ada konsentrasi tentara Jepang di kota menyebabkan peristiwa yang dilakukan Haji Darip dan kawan-kawan tidak bisa dilakukan kembali.

Haji Darip adalah seorang juragan besar dari Klender yang cukup menakutkan pasca proklamasi. Haji Darip lahir pada sekitar 1900 an, dirinya merupakan putra pemimpin gerombolan setempat yang terkenal, Gempur.

Kisah Para Bandit yang Tampil Melawan dalam Masa Revolusi Kemerdekaan

Pada usia sekitar 11 tahun, dia dikirim ke Mekkah untuk belajar dan menetap di Arab selama tiga tahun sebelum akhirnya kembali ke Klender. Dirinya kemudian bekerja sebagai pegawai perusahaan kereta api pemerintah dan menjadi pedagang serta juragan terkenal.

Bagi warga Betawi, Haji Darip dikenal sebagai jagoan, jawara plus pahlawan perjuangan. Namun bagi pemerintah kolonial waktu itu, dirinya dikenal sebagai bandit. Haji Darip dan kawan-kawannya selalu mengusik ketenangan pemerintahan kolonial.

Jawara dan ilmu hitam

Dengan Barisan Rakyat Indonesia (BRI) yang dia bentuk, Haji Darip memberlakukan pengawasan ketat atas lalulintas di jalan utama Jakarta bagian barat. Dia berhasil memadukan kriminalitas dan patriotisme.

“Haji Darip merupakan seorang pemuka agama dan diyakini memiliki kekuatan untuk memberikan jimat kekebalan kepada para pengikutnya,” tulis Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949.

Wilayah kekuasaan Haji Darip membentang dari Klender hingga Pulogadung, dari Jatinegara sampai Bekasi. Setiap orang China, Eurasia, bahkan Eropa, jika melewati kekuasaannya pasti dijarah dan wajib membayar 2 gulden.

Sementara itu di Cibarusah, juga dikuasai seorang bandit terkemuka sebelum masa perang bernama Pak Macan. Dirinya memimpin sekelompok besar pejuang yang ulung. Seperti halnya Haji Darip, dirinya pun dipercaya memiliki jimat kekebalan.

Alex dan Franz Mendur: Mencari Foto Proklamasi yang Masih Tercecer

“Dia menjual jimat kekebalan dengan harga yang ditentukan secara mistis, 11.11 gulden, serta menjadikan tanah perdikannya sebagai wilayah penjarahan, wilayah teror sekaligus wilayah merdeka,” paparnya.

Tidak hanya di Jakarta, di Tangerang tepatnya sebuah kampung dekat Curug beroperasi Haji Achmad Khaerun, pakar kebatinan yang menamakan dirinya bapak rakyat dan melancarkan revolusi rakyat 18 Oktober 1945.

Dicatat oleh Cribb, Khaerun sangat bisa mendekati jalur-jalur jaringan dunia hitam Tangerang. Secara khusus ia merekrut unsur-unsur muslim, termasuk para haji. Pengikutnya yang bersenjata disebut lasykar ubel-ubel.

Kelompok yang disegani

Cribb dalam bukunya menyebut Barisan Pelopor tampil sebagai kelompok yang disegani di wilayah Karawang hingga Bekasi. Mereka membagi lahan dengan BRI dan Pasukan Beruang Merah.

Dalam banyak kasus, keberadaan kelompok-kelompok jagoan itu dianggap mendukung pekerjaan tentara asli. Tak cuma soal keberanian, mereka seringkali tergolong nekat dan pantang menolak diserahi tugas sebahaya apapun.

“Sering menjadi masalah karena watak banditnya itu tak begitu saja luntur meski melakukan kerja-kerja revolusioner. Penyelewengan dan pembangkangan menjadi cerita yang lumrah,” paparnya.

Mengenal B.M. Diah, Sosok Penyelamat Naskah Asli Proklamasi

Apalagi, jelas Cribb, adanya koalisi bandit Jakarta dengan kaum nasionalis muda berhaluan kiri menyebabkan persinggungan dengan dunia hitam di Jakarta. Di sini niat suci mempertahankan kemerdekaan dan meraih untung pribadi bercampur baur.

Dirinya menyimpulkan kerjasama kelompok kelompok dunia hitam di Jakarta dengan kelompok kiri bukan strategi biasa. Sebagian hanya disebabkan kesamaan sikap menentang Belanda sedangkan sebagian lagi karena kepentingan timbal balik.

“Bandit yang semula lekat dengan dunia kejahatan, tampil terhormat karena perannya dalam revolusi. Semangat revolusioner pun meresap ke dalam diri para bandit, sehingga mereka, yang semula apolitis mendadak jadi satu golongan berkesadaran politik,” tegasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini