Alex dan Franz Mendur: Mencari Foto Proklamasi yang Masih Tercecer

Alex dan Franz Mendur: Mencari Foto Proklamasi yang Masih Tercecer
info gambar utama

Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 menjadi peristiwa paling bersejarah bagi Indonesia. Dalam momen bersejarah itu, Mendur bersaudara yakni Alex dan Frans yang berhasil mengabdikannya.

Alexius Impurung Mendur lahir di Kawangkoan, Sulawesi Utara, 7 November 1907. Sementara Frans Soemarto Mendur juga lahir di Kawangkoan, pada 16 April 1913. Keduanya adalah anak dari August Mendur dan Ariance Mononimbar.

Selama pendudukan Jepang, Alex ditugaskan ke cabang lokal dari kantor berita Jepang, Domei Tsushin dan menjadi kepala departemen fotografi. Sedangkan Frans ketika itu bekerja di surat kabar Asia Raya.

Dimuat dari Kompas, Alex mendapat kabar mengenai upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia melalui Kantor Berita Domei. Kedua bersaudara ini lantas pergi menuju kediaman Soekarno untuk mengabadikan momen tersebut.

Mengenal B.M. Diah, Sosok Penyelamat Naskah Asli Proklamasi

Tetapi di tengah pengambilan gambar, film kamera Alex disita oleh pasukan Jepang, sehingga hanya foto Frans yang dapat diproses untuk diterbitkan. Bila tidak ada foto Frans mungkin kita tidak akan pernah melihat momen bersejarah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Foto ini memperlihatkan Soekarno yang sedang membacakan teks proklamasi, di kediamannya, Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Selembar foto ikonik itu seakan merupakan satu-satunya pengetahuan visual tentang peristiwa keramat itu.

Foto kemerdekaan yang tercecer

Foto-foto karya Frans yang menjadi bukti sejarah ini pertama kali terbit di Harian Merdeka pada Februari 1946, enam bulan setelah usia Republik berdiri. Dirinya berhasil menggulung rol film dan menanamnya di kantor Harian Asia Raya yang tidak jauh dari Tugu Proklamasi.

Keluarga Mendur mengakui bahwa sebetulnya ada lima foto Proklamasi yang mereka simpan, yaitu Soekarno baca proklamasi, penaikan bendera, teks proklamasi ditulis tangan, teks proklamasi diketik, dan Mohammad Hatta saat suasana upacara.

“Rolnya masih ada,” kata Pierre Mendur yang kini menjadi pengelola Tugu Pers Mendur di Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, tanah kelahiran Mendur yang dimuat BBC.

Tetapi fotografer senior sekaligus kurator Galeri Foto Antara, Oscar Motuloh meragukan pernyataan dari keluarga Mendur. Menurutnya dari penelitian dan melacak kembali foto proklamasi, dirinya menemukan 13 jepretan Frans Mendur lainnya pada 2012.

Makna Weton hingga Kisah Mistik Soekarno Pilih Proklamasi pada 17 Agustus

Foto-foto langka yang jarang terlihat tersebut pernah dipamerkan di Galeri Foto Jurnalistik Antara. Dan Oscar menduga, masih ada foto-foto dari momen kemerdekaan tersebut yang tercecer dan belum diarsipkan.

“Barangkali nih, ada foto-foto lain yang tercecer karena rol film pada waktu itu ada yang 12, 24, dan 36 (frame) satu rol,” ujarnya yang sekaligus membantah penuturan keluarga Mendur bahwa rol Frans hanya berkapasitas enam frame.

Menurut Oscar, bila melihat dari format foto, Frans menjepretnya dengan kamera merek Leica berukuran kecil yang mulai digunakan wartawan foto pada 1937. Bukan kamera besar yang memakai plat.

“Jadi Frans termasuk orang yang canggih. Karena dia sudah pakai kamera jenis itu. Yang juga digunakan para wartawan foto di Eropa,” katanya.

Foto dari kamera Alex masih ada?

Selain itu, Oscar juga beranggapan bahwa foto-foto dari kamera sang kakak, Alex belum tentu sudah musnah. Dirinya menyangsikan walau keluarga Mendur mengatakan bahwa kamera itu dibuka paksa oleh tentara Jepang sehingga seluruh negatif film terbakar.

“Jadi kita tidak pernah melihat nih hasil yang dipotret Alex Mendur,” ujar Oscar.

Sementara itu di tanah kelahiran kedua fotografer bersaudara ini dibuatkan patung sebagai bentuk penghormatan. Patung keduanya yang berdiri di atas kamera jenis Leica terlihat sangat menyolok dengan cat warna keemasan.

Peran Radio dalam Menggelorakan Semangat Proklamasi Kemerdekaan

Di belakang tugu tersebut terdapat sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu, ciri khas rumah adat Minahasa. Bagian bawah dijadikan sebagai tempat tinggal dari pasangan suami istri Pierre Charles Mendur dan Dina Fitrianti Soerahman.

Sedangkan di lantai dua dijadikan museum foto yang memajang hasil-hasil karya keduanya. Sekitar 130 foto hitam putih, berukuran 10R dipajang dalam museum tersebut. Salah satu foto Frans yang paling dikenal adalah pembacaan teks proklamasi oleh Bung Karno.

Sementara hasil karya Alex yang paling dikenal yakni penjemputan Jenderal Sudirman saat perang gerilya, Bandung Lautan Api, Konferensi Meja Bundar, Konferensi Asia-Afrika, Perjanjian Linggarjati.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini