Peran Radio dalam Menggelorakan Semangat Proklamasi Kemerdekaan

Peran Radio dalam Menggelorakan Semangat Proklamasi Kemerdekaan
info gambar utama

Bom atom yang dijatuhkan sekutu di kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang secara tidak langsung memberi jalan kemerdekaan untuk Indonesia. Proklamasi yang sudah disiapkan sebelumnya menjadi bisa digelar lebih cepat.

Sejarawan LIPI Asvi Marwan Adam, mengatakan bahwa pengeboman kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada 9 Agustus 1945, membuat Jepang menyerah kepada sekutu. Dengan demikian, kekuasaannya di Indonesia pun jadi tak berarti.

"Ini menjadi pemicu gerakan kemerdekaan yang sudah disiapkan sebelumnya. Jepang kalah sehingga kita bisa mempercepat kemerdekaan," kata Asvi, seperti ditulis detikcom.

Namun saat itu, tidak banyak warga Indonesia yang mengetahui kabar kekalahan Jepang itu. Media informasi salah satunya yaitu radio memang telah disensor oleh pihak Jepang sejak mereka menginjakan kakinya pertama kali di Nusantara.

Rosihan Anwar dalam Sutan Sjahrir: Negarawan Humanis, Demokrat Sejati yang Mendahului Zamannya mengungkapkan satu di antara hal pertama yang dilakukan Jepang adalah menyegel stasiun radio.

Jepang memusatkan komando radio-radio di Indonesia di bawah pengawasan NHK (Nippon Hoso Kyokai). Siaran-siaran yang mengudara diawasi secara ketat, sementara siaran dari luar negeri diputus oleh pemerintahan Dai Nippon.

Mengintip Menu Sahur Bersejarah Saat Pengetikan Teks Proklamasi

Namun saat itu penggerak Kemerdekaan Indonesia Sutan Sjahrir, menjadi sosok yang tidak terkena sensor dari pemerintah Jepang. Sjahrir saat itu memiliki sebuah radio kesayangan berwarna gelap yang selalu disembunyikan di kamar tidurnya.

Artinya, satu unit radio itu ilegal. Dan hal ini tidak disenangi oleh Jepang karena radio macam ini dimungkinkan untuk menangkap siaran radio yang belum disensor oleh Jepang. Risikonya sangat besar memiliki radio secara ilegal seperti ini.

Mengutip buku Mengenang Sjahrir: Seorang Tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Tersisihkan dan Terlupakan karya Rosihan Anwar, disebutkan Sjahrir dapat menangkap siaran-siaran berita luar negeri yang tidak disiarkan Jepang.

Termasuk siaran dari radio Brisbane yang dipancarkan Pemerintah Hindia Belanda dalam pembuangan di Australia. Dari siaran itu, Sjahrir bahkan mendengarkan informasi tentang teman-teman di pembuangannya.

Satu ketika Sjahrir mendengar berita yang dikumandangkan sebuah stasiun radio milik Sekutu dan mengabarkan bahwa Jepang telah menyerah kepada tentara Sekutu. Jepang akhirnya menyerah setelah pemboman atom oleh Amerika Serikat di Kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada 9 Agustus 1945.

Setelah mendengar informasi Jepang menyerah kepada sekutu, Sjahrir mengabarkan kepada rekan-rekannya seperti Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh. Dirinya mendorong golongan muda pejuang Indonesia mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Melalui informasi itulah, Sjahrir hendak memberi peringatan, Lupakan janji Jepang karena Jepang sendiri sudah keok dan segeralah nyatakan kemerdekaan tanpa embel-embel Jepang. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru.

Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Sebuah peristiwa yang menjadi rentetan dari kisah penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok hingga Proklamasi Kemerdekaan.

Menyebarkan berita proklamasi

Setelah pembacaan teks proklamasi, berita penyebaran proklamasi kemerdekaan Indonesia segera meluas di Jakarta. Usai pembacaan teks proklamasi, berita tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia menyebar ke Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa timur, Sunda Kecil, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.

Padahal saat itu Jenderal Yamamoto, pemimpin tentara Jepang di Indonesia, memerintahkan berita tentang proklamasi tidak disebarluaskan. Kantor Berita Domei dan Harian Asia Raya dilarang memuat berita proklamasi.

Tapi hal ini tidak dituruti para pemuda. Seorang pemuda bernama Syahruddin yang bekerja sebagai wartawan Kantor Berita Domei, menyerahkan teks proklamasi untuk disiarkan stasiun Radio Domei. Waidan Palenewan yang menjadi kepala bagian radio memerintahkan seorang Markonis bernama F Wuz untuk menyiarkan berita proklamasi tiga kali.

Namun sayang, ketika berita disiarkan untuk ketiga kalinya, serdadu Jepang yang dengan marahnya, saat itu langsung menghentikan siaran radio dan meminta penyiar, F. Wuz, untuk meralat berita sebelumnya sebagai kekeliruan.

Menggugat Cara Kita Merayakan Hari Proklamasi

Tak berhenti sampai di sana, Waidan masih memerintahkan F. Wuz untuk terus memberitakannya. Bahkan, diketahui jika siaran yang sama itu dilakukan ulang selama 30 menit sekali hingga pukul 16.00. Berita ini kemudian bisa diteruskan hingga ke luar negeri.

Wartawati SK Trimurti menjelaskan, pada tanggal 18 Agustus 1945 sebuah kantor berita Amerika di San Fransisco telah memberitakan kemerdekaan sebuah negara baru di Asia Tenggara bernama Indonesia.

Akibat siaran berita itu, pucuk pimpinan tentara Jepang di Jawa memerintahkan berita siaran sebelumnya diakui sebagai kekeliruan. Tak dituruti Domei, pada 20 Agustus--tiga hari setelah proklamasi--kantor berita tersebut disegel Jepang dan pegawai dilarang masuk untuk bekerja.

Tapi para pemuda tak kehilangan akal. Seorang pembaca berita stasiun radio Domei bernama Jusuf Ronodiputro membuat pemancar baru di markas aktivis Menteng 31. Jusuf dibantu para teknisi radio Sukarman, Sutamto, Susilahardja, dan Suhandar.

Jusuf sendiri tidak bisa langsung menyiarkan teks proklamasi yang diterimanya dari Syahruddin karena sangat riskan baginya jika ketahuan. Ia baru bisa mengambil kesempatan pada pukul 19.00 WIB. Itu pun bukan di ruangan yang biasa digunakan untuk siaran, melainkan di salah satu studio yang sudah tidak terpakai.

Dan pada malam itu, suara Jusuf menggema. Ia mengabarkan kepada dunia bahwa Indonesia telah merdeka. Ia juga membacakan teks proklamasi dalam bahasa Inggris sehingga radio-radio dari negara lain seperti Singapura, Inggris, hingga Amerika, bisa meneruskan siaran itu.

Orang-orang Jepang akhirnya tahu kelakuan Jusuf. Pada pukul 21.00, ia dan Bachtiar diinterogasi dan dihajar habis-habisan oleh polisi Dai Nippon. Sekujur tubuh mereka babak belur dan berdarah-darah, hingga kaki Jusuf pincang untuk selamanya akibat siksaan.

Dikutip dari Tirto, bahkan, dua pemuda Indonesia ini nyaris mati saat seorang Kempetai mencabut pedangnya. Beruntung, seperti yang tertulis dalam Lintasan Perjalanan Kepolisian RI Sejak Proklamasi-1950 (1985) terbitan Polri, beberapa detik sebelum samurai mendarat di leher Jusuf dan Bachtiar, datang seorang perwira Jepang yang mengenal keduanya dan memerintahkan eksekusi itu dihentikan.

Perjuangan radio pada masa revolusi

Setelah merdeka perjuangan masih terus berlanjut di masa Revolusi. Apalagi Belanda datang kembali dengan membonceng pasukan Sekutu. Perlawanan rakyat pun berkobar demi mempertahankan martabat dan kedaulatan RI.

Saat itu berkumpul para pemimpin radio dari berbagai daerah. Mereka berkumpul untuk membahas ide didirikannya stasiun radio nasional guna menyiarkan semangat perjuangan.

Namun, untuk mewujudkan hal itu, stasiun radio milik pemerintah pendudukan Jepang harus diambil alih. Pihak Jepang menolak karena sesuai perjanjian, semua asetnya di Indonesia wajib diserahkan kepada Sekutu sebagai pemenang perang.

Sehari berselang, terjadi perlawanan merebut stasiun radio Hoso Kyoku dan Kantor Berita Domei. Perlawanan berhasil pada hari itu juga. Hoso Kyoku lantas ditetapkan sebagai Radio Republik Indonesia (RRI). Sementara Domei menjadi Kantor Berita Antara.

Saat Belanda melancarkan agresi militer pertama pada 1947, RRI berperan penting dalam menggelorakan perlawanan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan. Belanda kemudian berhasil merebut kantor RRI.

47 Tahun Lamanya, Teks Asli Proklamasi Keliling Dunia

Pada agresi militer Belanda kedua, seluruh pemancar milik RRI yang ada di sejumlah daerah hancur dibombardir oleh Belanda. Tentunya hal tersebut membuat komunikasi antarwilayah di Indonesia maupun antarnegara terputus.

Kondisi tersebut tentunya dimanfaatkan oleh Belanda menggunakan pemancar radio berdaya 350 KW yang mereka miliki untuk menyebarkan ke seluruh dunia bahwa Indonesia sudah berhasil mereka taklukan.

Namun, bukan berarti perlawanan menggunakan radio terhenti begitu saja. Berbekal pemancar radio yang berhasil diselundupkan dari Singapura (d/h Malaya), lahirlah Radio Rimba Raya. Sesuai dengan namanya, radio tersebut berada di tengah hutan belantara untuk menghindari serangan kembali oleh militer Belanda.

"Radio Rimba Raya yang pemancarnya ada di Bener Meriah, Aceh dengan siaran shortwave atau gelombang pendeknya tak berhenti menyuarakan bahwa Indonesia masih ada ketika Agresi Militer Belanda II," kata Direktur Utama RRI Muhammad Rohanudin yang dilansir dari Bisnis.

Siaran Radio Rimba Raya disiarkan ke seluruh dunia pada 23 Agustus hingga 2 Nopember 1949. Siaran RRR inilah yang menjadi dasar digelarnya pertemuan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda yang akhirnya menyatakan bahwa Indonesia sepenuhnya berdaulat.

"Radio Rimba Raya merupakan penyelamat bagi Indonesia karena berhasil membantah pernyataan bahwa Indonesia menyerah kepada Belanda yang dilontarkan oleh Radio Hilversum Belanda," tegas Rohanudin.

Radio Rimba Raya merupakan cikal bakal Stasiun Siaran Luar Negeri (SSLN) RRI/Voice of Indonesia (VOI). Baik Radio Rimba Raya maupun VOI mengudara dengan semangat yang sama, yakni menyuarakan eksistensi Indonesia ke seluruh dunia atau berperan sebagai agen diplomasi publik.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini