Berkah Harga Gandum Mahal: Ekspor Singkong Indonesia Melejit Tiga Kali Lipat

Berkah Harga Gandum Mahal: Ekspor Singkong Indonesia Melejit Tiga Kali Lipat
info gambar utama

Konflik Rusia-Ukraina ternyata memberikan berkah bagi para petani Indonesia, khususnya petani singkong. Pasalnya karena harga gandum internasional yang meroket menyebabkan Indonesia bisa mempromosikan komoditas singkong dan sorgum.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Suwandi bahkan menyebutkan ekspor singkong dan produk turunannya meningkat tiga kali lipat di kala harga gandum internasional melonjak akibat konflik Ukraina-Rusia.

Kedua negara itu memang terkenal sebagai penghasil gandum terbesar di dunia. Namun karena perang, produk pangan substitusi gandum seperti singkong dan sorgum mulai dicari oleh pasar global.

“Kalau saya melihat ini berkah. Karena harga gandum naik, kesempatan singkong kita, sorgum kita naik bagus, masuk pasar diminati. Ini terbukti, bagaimana kondisi ekonomi 2022 ekspor singkong dan turunannya tahun 2022 naik hampir 300 persen dibanding 2020,” kata Suwandi yang diwartakan Sariagri.

Tanaman Singkong, Flora asal Brazil yang Kerap Selamatkan Pangan Indonesia

Suwandi juga menilai sektor pertanian Indonesia cukup solid menghadapi berbagai guncangan mulai dari pandemi Covid-19, iklim ekstrim, konflik geopolitik Rusia-Ukraina, hingga adanya ancaman krisis pangan dan energi.

Dirinya menyebut selain PDB sektor pertanian yang meningkat, tetapi pertumbuhan ekspor di sektor pertanian pun positif. Dirinya mencatat ekspor sektor pertanian pada 2020 mencapai Rp450 triliun atau naik 15 persen daripada tahun sebelumnya.

“Bagaimana 2021, 2021 ekspor total dari sektor pertanian sekitar Rp625 triliun, naik 38 persen,” katanya.

Diminati Amerika dan Eropa

Singkong merupakan pangan lokal alternatif penghasil karbohidrat selain beras dan jagung. Singkong memiliki potensi sebagai bahan pangan yang dapat diolah menjadi berbagai macam jenis makanan dan diekspor ke pasar global.

Reni Yanita, Plt Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian mengatakan produk singkong beku menjadi salah satu yang sudah merambah pasar global, seperti Amerika Serikat dan Eropa.

“Seperti yang kita ketahui, bahwa pasar global menginginkan produk berkualitas yakni singkong yang berwarna putih, rasanya enak, tidak pahit dan dengan kandungan sianida yang rendah, serta fresh pada saat diterima,” kata Reni yang dimuat Katadata.

Tiwul, Makanan Pengganti Nasi Yang Masih dipandang Sebelah Mata

Reni menyebut ekspor singkong beku dari Indonesia sangat menggembirakan. Pada tahun 2020, Indonesia sudah mengekspor produk singkong beku sebanyak 16.529 ton dengan nilai 9,7 juta dolar (Rp137 miliar).

Menurutnya jumlah tersebut mengalami peningkatan dari tahun 2019 yakni sebesar 4.829 ton dengan nilai 4,1 juta dolar (Rp58 miliar) atau meningkat sebesar 135 persen. Melihat potensi ini Kemenperin pun mendukung industri pengolahan komoditas singkong.

“Indonesia juga mengekspor olahan singkong dalam bentuk lainnya, seperti keripik singkong dan pati ubi kayu. Tidak hanya itu, industri kecil menengah (IKM) juga mampu meningkatkan nilai tambah komoditas singkong yang diolah menjadi tepung mocaf sebagai bahan baku dalam industri pangan lainnya,” katanya.

Harapkan tingkatkan kesejahteraan

Melihat potensi yang ada pemerintah terus mendorong percepatan diversifikasi pangan. Salah satunya dengan pengolahan singkong menjadi bahan pangan bernilai ekonomis seperti di Flores Nusa Tenggara Timur.

Tommy Djari yang merupakan Ketua Koperasi Produsen Mitra Tani Sejahtera menyebut pelaku usaha semakin tertarik dengan singkong, karena kondisi tanah dan alam di Kabupaten Sikka, NTT sangat cocok dengan tanaman umbi-umbian tersebut.

“Sejak empat tahun terakhir ini saya pelajari singkong di beberapa daerah di Jawa hingga ke Sumatra Utara. Kondisi alam dengan lahan kering di Sikka atau secara umum Pulau Flores dan NTT sebenarnya sangat cocok untuk singkong,” ungkapnya yang dipaparkan Tabloid Sinartani.com.

Selain itu, singkong dengan berbagai varietas unggul diyakini bisa memberikan hasil yang lebih baik dan menambah penghasilan petani. Menurut Tommy, singkong yang bisa diolah menjadi beragam produk dan dijual dengan harga layak bisa menjadi tabungan.

“Simpan uang Rp5 juta di bank, belum dalam 10 bulan bisa dapat Rp10 juta. Tetapi dengan menanam singkong, minimal bisa menjadi Rp15 juta dalam satu siklus,” ujar Tommy.

Beras Singkong Menjadi Menu Khas Lebaran Di Sini

Melihat hal itu, pemilik Rumah Mocaf Indonesia menyatakan sudah saatnya kedaulatan pangan lokal Indonesia bangkit dengan seiring lonjakan harga tepung terigu sebagai imbas dari Perang Rusia-Ukraina dan larangan ekspor gandum dari India.

Karena itu, dirinya menilai bila pemerintah Indonesia mau menghentikan kebijakan impor gandum, akan ada jutaan petani di Indonesia yang bakal terangkat martabat dan kesejahteraannya.

“Jika impor gandum tersebut dihentikan, harga mocaf pun bisa semakin bersaing hingga akhirnya bisa berkembang dan terus diterima masyarakat secara luas,” katanya yang dimuat Antaranews.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini