Beginilah Ketika Komat Kamit Santet Terkena kepada Orang Belanda

Beginilah Ketika Komat Kamit Santet Terkena kepada Orang Belanda
info gambar utama

Di Indonesia, santet, teluh, sihir, atau tenung merupakan hal-hal yang dipandang bersumber dari dunia lain atau mistis. Hampir setiap daerah memiliki tradisi mengirimkan energi negatif jarak jauh dengan maksud mencelakai orang lain.

Sejarawan Edi S Ekadjati sebagaimana dikutip dari A Masruri dalam The Secret of Santet yang dimuat Historia menyebut ilmu teluh atau santet adalah warisan masa lalu yang terus bertahan dalam masyarakat hingga kini.

Dirinya merujuk naskah lontar yang ditulis pada abad ke-6, yakni Sanghyang Siksa Kandang Karesian. Naskah ini menyebut teluh adalah perasaan sakit hati, murung, dan tidak senang yang dialihkan kepada orang lain.

Kisah Para Bandit yang Terhormat karena Jimat dan Keberanian Melawan Kolonial

Aksi santet-menyantet ternyata tercatat pada zaman Belanda. Ilus Trian Dayono menemukan sejumlah koran berbahasa Belanda yang memberitakan tentang goena-goena di beberapa daerah di Indonesia.

Goena-goena di sini tentunya merujuk pada santet dan ilmu hitam lainnya. Goena-goena ini kerap dilakukan oleh masyarakat kalangan menengah dan bawah untuk kepentingan tertentu,” ulasnya dalam Indonesia Bukannya Nggak Mau, Tapi Memang Nggak Bisa Pakai Santet untuk Melawan Belanda yang diwartakan Mojok.

Sebagai contoh, dalam artikel berjudul Lifede het Oosten. Een Verhaal van Goena-Goena en Spaansche Peper yang diterbitkan pada 5 Mei 1939. Di sini memuat seorang perempuan yang mengirimkan guna-guna kepada suami orang.

Perempuan itu bernama Siti dan korbannya adalah suami dari perempuan bernama Noe di Kampung Bandan. Karena tidak terima, Noe kemudian melakukan perlawanan, dirinya lempar Siti dengan cabai tepat ke arah wajahnya.

“Malangnya, Noe harus berurusan dengan pihak berwajib karena tindakannya itu,” jelasnya.

Belanda kena santet

Santet tidak hanya mengarah kepada sesama pribumi, pada catatan Zaenuddin HM dalam Kisah-Kisah Edan Seputar Djakarta juga mengisahkan seorang Belanda yang pernah terkena ilmu hitam.

Dirinya menukil sejarawan H.J de Graff yang mengungkapkan bahwa Kota Batavia di abad ke 17 sangat menyeramkan bagi orang Belanda. Tidak mudah bagi mereka untuk menaklukkan kota tersebut, pasalnya banyak orang Belanda yang kena santet.

“Para korbannya bersimbah darah, dan ini kerap terjadi di sudut-sudut pemukiman elit Batavia dari Jembatan Batu sampai Gunung Sahari,” terangnya.

Menurut de Graff, ciri paling jelas dari orang-orang Belanda yang kena santet itu antara lain: biji mata keluar darah, muntah darah, buang air besar yang keluar darah, dan pori-pori di tubuh mereka juga mengeluarkan darah.

“Jadi, betapa menyeramkan melihat korban yang kena santet itu menggelepar bersimbah darah.” paparnya.

Kisah Hidup Mata Hari, Agen Rahasia Perang Dunia I yang Pernah Hidup di Jawa

Penguasa Belanda tidak tinggal diam, mereka mencari informasi bagaimana cara menangkal santet itu, melalui informasi dari mata-mata, Belanda akhirnya mengetahui rahasia menangkal santet.

Misalnya di pekarangan rumah orang-orang Belanda itu akan ditanam pohon kelor yang konon tangkai dan helai daunnya dapat menangkal serangan santet. Dalam tempo cepat, pohon kelor itu menjadi sangat akrab dengan orang Belanda.

Ditulis oleh Zaenuddin, orang-orang Belanda juga mulai main dukun. Mereka mencari dukun-dukun yang dapat mencegah dan mengobati orang yang kena santet. Tetapi Belanda disebutnya takut menyantet orang-orang pribumi.

“Selamat dari santet saja sudah bagus, jadi buat apa cari penyakit dengan menyantet orang lain, apalagi warga pribumi,” kata sesepuh Betawi yang pernah hidup pada zaman kolonial.

Bergeser ke persaingan bisnis

Menurut Zaenuddin, santet dalam perkembangannya mulai jarang digunakan untuk tujuan politis. Pemakaian santet beralih ke dunia bisnis. Pada waktu itu orang-orang China terkenal pandai dan sukses dalam berdagang.

Bahkan mereka tidak pernah takut bersaing dengan pedagang lain, apalagi kaum pribumi. Secara terang-terangan orang China itu membuka toko di sebelah milik pribumi yang sedang laris, entah bagaimana, para pembeli pun pindah ke toko orang China tersebut.

Kisah Cinta Tragis Putri Pejabat Kompeni di Balik Istilah Pria Hidung Belang

“Kalau sudah demikian, biasanya pedagang China itu bakal disantet, dari jenis santet ringan (misalnya tiba-tiba tangannya lumpuh) hingga santet keras yang mengakibatkan kematian,” ucapnya.

Berbeda dengan Belanda, orang-orang China mengobati korban santet dengan obat ramuannya sendiri, yang khas dari negerinya. Tetapi obat ini jarang yang berhasil, ucap Zaenuddin, sebab santet yang dikirim lawannya sudah terbilang keras.

“Yang jadi problem, sulit membuktikan pelakunya. Akibatnya bisa timbul fitnah, dan dapat dilaporkan balik dengan tuduhan pencemaran nama baik,” pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini