Kenangan Indahnya Kali Krukut: Ketika Anak Betawi Mandi Bersama Ikan dan Buaya

Kenangan Indahnya Kali Krukut: Ketika Anak Betawi Mandi Bersama Ikan dan Buaya
info gambar utama

Kali Krukut adalah sungai sepanjang kurang dari 40 km yang mengalir dari Situ Citayam, Bogor, Depok, Jagakarsa, Cilandak, Pasar Minggu, Kemang, Mampang Prapatan, Gatot Subroto, Setiabudi, Tanah Abang, Pecinan Glodok, hingga berakhir di Banjir Kanal Barat.

Awalnya Kali Krukut merupakan sungai yang bersih dan menjadi tujuan wisata di bawah pemerintahaan Belanda, tetapi karena padatnya pemukiman penduduk dan kurangnya pengelolaan sungai, airnya berubah jadi kehitaman dan penuh sampah.

Penamaan Kali Krukut dikarenakan sungai ini melintasi di dua wilayah yang bernama Krukut. Pertama, Krukut di dekat Depok Lama dan kedua, Krukut di daerah Petojo. Nama tempat yang menjadi sungai merupakan hal biasa, seperti Kali Bekasi.

Kisah Hidup Mata Hari, Agen Rahasia Perang Dunia I yang Pernah Hidup di Jawa

Setelah adanya Pasar Tanah Abang yang dibangun pada 1733, keberadaan Kali Krukut dan kanal-kanal menjadi kian penting sebagai sarana pengangkutan barang-barang yang akan diperdagangkan, baik yang datang dari Kota Batavia maupun pedalaman.

Barang-barang yang didatangkan dari kota adalah barang-barang industri atau kerajinan dari daerah atau negara lain. Sementara barang-barang yang didatangkan dari pedalaman adalah hasil tanaman seperti berbagai macam sayuran dan buah-buahan.

“Hampir setiap hari perahu-perahu dari kota maupun dari pedalaman membongkar muatan di pinggir Kali Krukut di sebelah barat Pasar Tanah Abang,” tulis Abdul Chaer dalam Tenabang Tempo Doeloe.

Kali Krukut yang indah

Pada awal 1950-an Kali Krukut masih bersih dan jernih Di beberapa tempat pasir-pasir di dasar sungai masih tampak jelas. Oleh karena itu, air Kali Krukut masih digunakan oleh penduduk untuk keperluan sehari-hari seperti mandi dan mencuci.

Ditulis oleh Chaer yang mendapat informasi dari narasumber bahwa setiap sore anak lelaki di Karet Depan lebih suka mandi di kali ketimbang di rumah. Malah kata seorang narasumber, setiap Dzuhur banyak orang yang mengambil wudhu di kali.

“Begitupun para pengusaha bengkel batik di Karet Depan, Karet Tengsin, dan Karet Sawah mereka mencuci kain dan bahan batiknya di Kali Krukut,” paparnya.

Bahkan ditulisnya pada waktu-waktu tertentu apabila di daerah pedalaman turun hujan lebat, air Kali Krukut menjadi keruh, mengalir deras, dan berbau lumpur disertai dengan berloncatannya ikan-ikan.

Perpeloncoan, Tradisi Senioritas Warisan Zaman Kolonial yang Masih Lestari

Sementara itu orang Betawi di Karet Tengsin dan Karet Kubur menyebut peristiwa tersebut sebagai “ikan mabok". Maka banyak orang berbondong-bondong turun ke kali menangkap ikan-ikan tersebut terutama jenis ikan baung.

Bahkan pada era 1950-an buaya pun masih banyak di Kali Krukut. Seorang narasumber, jelas Chaer, mengatakan bahwa kakeknya punya sebidang ladang yang cukup luas di pinggir Kali Krukut di wilayah Karet Kubur.

Menurutnya bila dia pergi ke ladang kakeknya, seringkali dirinya melihat buaya besar dengan seekor anaknya sedang berteduh di bawah pohon rengas lebat yang tumbuh di pinggir kali.

Bahkan sang narasumber mengisahkan bahwa pada suatu sore ketika dirinya menarik-narik rumput oyol di pinggir kali untuk makanan kambing, tiba-tiba saja dikejutkan dengan munculnya seekor buaya besar sekitar tiga meter di depannya.

“Untungnya dia sempat berlari menjauh,” ucapnya.

Kali Krukut yang kotor

Namun Kali Krukut saat ini sudah sangat kotor, berbau, dan berwarna kehitaman. Kali Krukut di sepanjang alirannya dari Karet Sawah sampai Karet Kubur, Pasar Tanah Abang, dan seterusnya sudah merupakan tempat pembuangan air limbah rumah tangga.

Alhasil Kali Krukut telah menjadi comberan besar. Padahal air Kali Krukut di daerah Krukut yang bermuara di Kalimalang -Banjir Kanal Barat- pernah menjadi sumber bahan baku air untuk proyek penjernihan air minum Pejompongan.

Air kali yang mengalir di dekat Pasar Tanah Abang dan di kanal warisan Phoa Bheng Gan sama saja kotornya, hitamnya, dan baunya. Padahal menurut Chaer, pada awal 1950 an, air kali tersebut masih bisa dimanfaatkan untuk mencuci sayuran.

Kisah Cinta Tragis Putri Pejabat Kompeni di Balik Istilah Pria Hidung Belang

Sedangkan ikan dan buaya pun mulai menghilang, menurutnya mungkin saja hanya tersisa cacing yang hidup dalam lumpur kotor. Pada akhir 1950 an terdapat berita bahwa ribuan ikan sapu-sapu mati mengambang di Kali Krukut.

“Kalau ikan sapu-sapu yang dikenal bisa hidup di air keruh saja sudah mati, mana mungkin buaya dan ikan-ikan lain bisa hidup? Pihak Dinas Pekerjaan Umum yang bertugas membersihkan bangkai ikan sapu-sapu mengangkut hampir dua truk berisi bangkai ikan tersebut,” terangnya.

Kali Krukut yang pada awal 1950 an masih memberi manfaat bagi manusia, kini malah memberikan mudarat. Semuanya terjadi karena masyarakat dan pemerintah tidak punya kepedulian untuk merawatnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini