Kisah Keteladanan dalam Kehidupan Melarat Ala Perumus Pancasila

Kisah Keteladanan dalam Kehidupan Melarat Ala Perumus Pancasila
info gambar utama

Pada rapat dengar pendapat (RDP) antara Komisi III DPR RI dengan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengemuka sindiran mengenai gaya hidup mewah anggota polisi. Menurut anggota DPR, gaya polisi daerah sudah seperti raja kecil dan sangat sulit dihubungi.

“Kita juga melihat gaya hidup mereka, sudah mulai pakai cerutu, pasti ada cerutu, sudah mulai pakai wine, mobilnya juga sudah mewah-mewah, kalau kita lihat juga perilaku istri-istrinya, itu pakai tas Hermes, itu sudah gonta-ganti. Jadi luar biasa,” kata Wakil Ketua Komisi III DPR RI Adies Kadir yang diwartakan Liputan6.

Sindiran kepada anggota kepolisian ini nampaknya seperti buruk rupa, cermin dibelah, karena banyak pejabat negara lain yang juga berperilaku sama. Tampaknya para pejabat ini amnesia mengenai sosok pendiri bangsa yang memilih hidup melarat.

Sebuah rumah di Jalan Gereja Theresia -kini Jln Agus Salim- masih berstatus sewa, ketika sang penghuninya, Haji Agus Salim wafat pada 1954. Salah satu dari 9 perumus Pancasila, diplomat kesohor, Menteri Luar Negeri, ini wafat dengan berstatus pengontrak rumah.

H Agus Salim, Diplomat Poliglot yang Memilih Melarat Sepanjang Hidup

Kesederhanaan Haji Agus Salim dikisahkan sang cucu, Agustanzil Sjahroezah dalam Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik. Entah sudah beberapa kali, tokoh Partai Islam terbesar saat itu hidup nomaden, berpindah-pindah dari satu gang ke gang lainnya.

Agus Salim bersama keluarganya pernah hidup tanpa listrik gara-gara tak sanggup bayar iuran. Jangan tanya ada atau tidak uang belanja, atau sembako di dalam lemari. Nasi goreng kecap mentega menjadi favorit keluarga ini bila sedang tak ada makanan.

“Ia (Agus Salim) hanya mempunyai satu kelemahan: selama hidupnya melarat!” ucap Ketua delegasi Belanda dalam perundingan Linggarjati, Willem Schermerhorn.

Hatta dan sepatu impian

Kisah kesederhanaan atau kemelaratan tidak hanya dirasakan Haji Agus Salim. Perumus Pancasila lainnya, Mohammad Hatta pun mengalami masa-masa senja yang tak jauh berbeda dari kawannya itu.

Ramadhan KH dalam Bang Ali, Demi Jakarta 1966-1967 mengisahkan bagaimana Ali Sadikin, gubernur Jakarta ini terenyuh melihat kondisi Bung Hatta yang tak mampu membayar iuran air hingga pajak.

“Begitu sederhananya hidup pemimpin kita pada waktu itu,” kata Bang Ali terharu.

Mohammad Hatta, Memperjuangkan Ekonomi Rakyat Indonesia Lewat Koperasi

Bahkan hingga akhir hayatnya, keinginan Bung Hatta untuk membeli sepatu bally tak juga terpenuhi. Wakil Presiden Indonesia pertama ini menabung, sampai-sampai beliau menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya.

“Namun apa daya tabungan beliau tak cukup karena kebutuhan rumah tangganya. Sepatu bally tinggalah kenangan,” papar Rizky Lesus dalam Hidup Melarat ala Perumus Pancasila.

Memimpin harus menderita

Perumus Pancasila lainnya, KH Wahid Hasyim juga adalah sosok yang bersahaja. Ayah dari Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini menegaskan tidak elok jika para pemimpin hidup dengan mewah dan bersenang-senang, di saat masyarakatnya hidup sulit.

Karena itu, dia turut merasakan kesulitan serupa. Kebiasaan KH Wahid Hasyim adalah berpuasa sunnah. Bahkan dirinya hanya sahur dengan sebutir telur rebus sisa dari santapan sahur kemarin dan segelas teh bagian dari Saifuddin Zuhri ketika sore.

Sambil menyelesaikan sebutir telur yang satu-satunya untuk sahur itu, KH Wahid Hasyim mengingatkan agar jangan sampai hidup menampakkan kemewahan di saat kondisi masyarakat sedang sulit.

Badai Pemakzulan hingga Surat Sakti Lurah Gambir yang Diberikan kepada Gus Dur

“Kita berlapar-lapar supaya tidak melupakan nasib kaum lapar,” pesan mantan Menteri Agama (1950-1951) ini dalam Berangkat dari Pesantren.

Tokoh perumus Pancasila lainnya, Prof KH Abdul Kahar Muzakir, tokoh Muhammadiyah yang pernah juga menjadi anggota Dewan Konstituante bahkan hingga penghujung senjanya masih tinggal di rumah warisan ayahnya.

Mitsuo Nakamura mencatat bahwa kendaraan Abdul Kahar Muzakir hanyalah sebuah skuter bekas pemberian mahasiswanya yang sering kali mogok. Sebagai alternatif, dia kadang menggenjot sepeda, naik becak atau andong.

“Menempuh perjalanan sepanjang lima atau enam kilometer dari rumahnya mengajar di UII atau ke kantor PB Muhammadiyah di Yogyakarta,” ucap Mitsuo.

Inilah ironi para pendiri bangsa, bahkan Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) -kini DPR - pertama, Kasman Singodimedjo yang melihat para tokoh bangsa ini pernah berlirih “Leiden is Lijden,” memimpin itu menderita!

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini