Paku Alam V: Penguasa yang Mendorong Westernisasi Pendidikan Pakualaman

Paku Alam V: Penguasa yang Mendorong Westernisasi Pendidikan Pakualaman
info gambar utama

Paku Alam V atau KPH Suryodilogo dalam masa pemerintahannya (1878-1900) sangat memperhatikan soal pendidikan. Berbagai usaha dilakukan Paku Alam V untuk mendukung perhatiannya pada dunia pendidikan.

Paku Alam V mulai mengirimkan putra-putrinya menempuh pendidikan Barat, membuka sekolah di lingkungan praja Pakualaman, dan mendukung penggalangan dana untuk pendidikan di Jawa.

Surya Ningrat, salah seorang tokoh Budi Utomo menggambarkan tentang figur Paku Alam V. Sosok raja ini disebutnya sebagai orang Jawa yang sangat modern dan memperhatikan masalah pendidikan.

Kesunyian Banyusumurup, Kisah Makam Para Pendosa Kerajaan Mataram Islam

“Almarhum Paku Alam V (1835-1900). Raja Jawa pertama yang berpikiran modern.”

Pada awal kepemimpinannya, berbagai persoalan dihadapi oleh Paku Alam V, seperti permasalahan ekonomi dan peningkatan gaya hidup hedonis di kalangan kerabat Pakualaman.

Sebelum diangkat menjadi raja, Paku Alam V merupakan Komandan Legiun Pakualaman dengan pangkat kolonel. Namun pada Agustus 1892, Legiun Pakualaman dibubarkan oleh pemerintah kolonial.

“Pembubaran ini dilakukan karena pemerintah kolonial menganggap bahwa keberadaan Legiun ini tidak bermanfaat. Setelah pembubaran Legiun, beban yang dipikul Pakualaman bertambah berat. Karena tenaga bekas Legiun kemudian menjadi tanggung jawab istana Pakualaman,” tulis S Soetio dalam Kerabat Pakualaman dalam Pendidikan.

Mengirim kerabat ke Eropa

Pembubaran Legiun Pakualaman memaksa kerabat istana untuk memperhatikan pendidikan Barat secara lebih baik. Paku Alam V secara intensif mulai mengirimkan putra-putri, cucu-cucu, dan kerabat untuk menempuh pendidikan Barat.

Hal ini menurut Soetio karena sejak pembubaran Legiun Pakualaman, kerabat istana mulai sulit mendapatkan pekerjaan yang layak di dalam istana. Terutama untuk mencari tempat kedudukan yang baik sesuai dengan statusnya dalam pemerintahan Praja Pakualaman.

Sejak tahun 1879 misalnya, Paku Alam V mengirim Notokusumo untuk menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS). Noto Wiroyo an Suryo Putro ke Hoogere Burgerschool (HBS). Pendidikan HBS juga ditempuh oleh Noto Dirjo yaitu di Batavia.

Tradisi Kuliner Mataram: Meraih Berkah dari Santapan Para Raja

Noto Wiryo kemudian dikirim ke Switzerland. Sementera B.R.M Suryo Putro dikirim ke Belanda bersama-sama dengan lima putra Noto Dirojo. Beberapa dari mereka menempuh pendidikan hukum, kedokteran, hukum, dan teknik.

Tidak hanya anak laki-laki, para anak perempuan Paku Alam V juga dikirim ke berbagai institusi pendidikan, seperti ELS dan sekolah guru. Anak-anak perempuan yang dikirim ke sekolah Barat seperti Miryam dan Karlinah.

“Pengiriman anak perempuan ke dalam pendidikan Belanda ini merupakan satu hal yang sangat penting ketika kesadaran yang sama belum ditunjukan oleh raja-raja Jawa lainnya,” tulis Mutiah Amini dalam Melawat ke Barat: Westernisasi Pendidikan Keluarga Paku Alam V.

Menjabat peran penting

Paku Alam V telah merencanakan secara jangka panjang untuk mengirimkan keturunannya ke luar negeri. Misalnya Kusumo Yudo (anaknya) dan Soortijo (cucunya) yang menempuh pendidikan menengah di Nijmegen, Belanda.

Karena untuk bisa menempuh pendidikan di Belanda, tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Mulai dari biaya transportasi laut hingga biaya hidup dan biaya pendidikan di Belanda, di sisi lain kondisi di dalam istana sedang menghadapi masalah keuangan.

Harry Poeze dalam In Het Land van de Overheerser I: Indonesiers in Nederland 1600-1950 menulis rincian biaya hidup dan biaya pendidikan selama 6 hari dalam seminggu, selama 8 jam hingga 10 jam dalam waktu 3 tahun menghabiskan 770 gulden per tahun.

“Yang meliputi kebutuhan biaya pakaian 70 gulden, sewa kamar dan cuci pakaian 480 gulden, buku dan biaya kuliah selama 4 jam per minggu 220 gulden. Biaya tersebut belum termasuk tiket kapal,” catatnya.

Kisah Wahyu Gagak Emprit, Pembawa Trah Mataram yang Diperebutkan

Bagi Paku Alam V biaya tersebut tidaklah ringan, apalagi saat dia menjabat, langsung mengalami beban utang akibat gaya hidup kerabat Pakualaman periode sebelumnya. Namun baginya pendidikan ini perlu ditempuh untuk hasil yang baik pada masa depan.

Harapan Paku Alam V sepertinya langsung cepat terjadi, kelak Kusumo Yudo setelah kembali ke Tanah Air menjadi anggota Volksraad. Bahkan, pernah menjabat sebagai Wakil Ketua I Volksraad dan Wakil Ketua College van Gedelegeerden.

Pendidikan juga menjadi strategi Paku Alam V untuk menghadapi suksesi kepemimpinan di lingkungan istana. Pengganti Paku Alam V tentunya harus memiliki latar belakang pendidikan Barat yang baik.

“Sebelum Paku Alam V meninggal pada 1900, dia telah mempersiapkan putra sulungnya, yaitu Notokusumo untuk menjadi raja,” tuturnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini