Gula Palma, Komoditas yang Manis Rasa Sekaligus Cuannya

Gula Palma, Komoditas yang Manis Rasa Sekaligus Cuannya
info gambar utama

Di Indonesia, gula palma mungkin tidak setenar gula putih. Padahal, gula palma telah dikenal sejak dulu dan masyarakat Indonesia telah mengenal cara pengolahannya dengan metode tradisional. Kedua jenis gula tersebut pun berasal dari bahan baku yang berbeda. Gula palma berasal dari aneka jenis pohon palem-paleman, sedangkan gula putih berasal dari tanaman tebu.

Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup (LPPSLH) melalui laman resminya menjelaskan bahwa gula palma terbuat dari nira, yakni cairan yang dihasilkan oleh bunga pohon palem-paleman atau palmae. Adapun pohon palem-paleman yang niranya dimanfaatkan menjadi gula palma di antaranya kelapa (cocos nucifera), aren (arenga pinnata), siwalan (Borassus flabellifer), dan Nipah (Nypa Fructians).

Sebagian besar pohon palem-paleman hidup di lingkungan tropis atau subtropis. Maka dari itu, tidak mengherankan apabila Indonesia punya potensi produksi gula palma yang besar. Di berbagai penjuru Indonesia, pohon palem-paleman dapat dengan mudah ditemui.

Gula palma sebagai produk pohon palem-paleman juga terbilang mudah ditemukan, mulai dari pasar tradisional hingga ritel modern. Umumnya, gula palma dijual dalam bentuk padat berbentuk batangan, atau setengah bola. Ada pula yang berwujud serbuk atau cair.

Nutrisi yang terkandung dalam gula palma juga diyakini lebih kaya ketimbang gula putih. Gula palma mengandung 16 jenis asal amino alami serta, seperti Nitrogen, Kalium, kalsium, dan Zinc. Manfaat gula palma ini juga telah disadari oleh masyarakat di berbagai negara. Faktanya, gula palma memang mampu mencegah penyakit degeneratif kekurangan mineral

Tebu Ajaib dari Jawa: Cerita Manisnya Industri Gula bagi Kota Pasuruan

Komoditas Ekspor Unggulan

Bagi Indonesia, gula palma adalah salah satu komoditas ekspor unggulan. Menariknya, produksi gula palma sebagian besarnya digerakkan oleh industri kecil dan menengah dan bukannya industri berskala besar. Ada beberapa sentra di Jawa Tengah dan Jawa Barat yang menjadi penghasil gula palma untuk diekspor.

Nilai ekspor gula palma tidak main-main. Angkanya mencapai puluhan juta dolar AS. Angka tersebut dihasilkan oleh penjualan puluhan ribu ton gula palma ke berbagai negara. Dari tahun ke tahun, nilai ekspor gula palma juga terus mengalami peningkatan.

“Indonesia merupakan negara pengekspor utama gula palma di dunia. Berdasarkan data terakhir yang kami miliki, kinerja ekspor produk berbahan dasar nira kelapa atau gula aren atau gula siwalan mencapai 36,5 ribu ton dengan nilai sebesar USD49,3 juta pada tahun 2019, yang meningkat jadi 39,4 ribu ton dengan nilai USD63,5 juta di tahun 2020,” ujar Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, seperti dilansir Kontan.co.id.

Di tengah tren perdagangan yang positif, ekspor gula palma Indonesia masih punya ruang untuk terus tumbuh. Hal ini tidak lepas dari besarnya potensi pasar dalan negeri sekaligus permintaan ekspor yang juga tinggi.

Hanya saja, tetap masih ada persoalan yang dihadapi industri gula palma Indonesia. Untuk itu pula Kemenperin melalui Ditjen IKMA menyiapan langkah untuk mengatasinya.

Pabrik Colomadu, Warisan Industri Gula Mangkunegaran yang Terbesar di Asia

Langkah Kemenperin

Persoalan yang dihadapi industri gula palma ada pada bahan baku, teknik produksi, serta akses pasar. Terkait bahan baku, ada isu yang muncul bahwa gula palma Indonesia menggunakan pencampuran gula rafinasi. Sedangkan terkait produksi, teknologi yang digunakan masih sederhana dan kurangnya penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB).

Untuk persoalan terkait akses pasar, masalah yang dihadapi cukup beragam. Pertama, gula palma Indonesia membutuhkan branding yang lebih kuat. Kedua, pemanfaatan pasar digital masih harus dioptimalkan. Ketiga, perlunya pemenuhan persyaratan standardisasi produk yang diminta oleh pasar ekspor.

“Dalam menjawab tantangan-tantangan tersebut dan untuk meningkatkan kapasitas IKM gula palma dalam melakukan ekspornya, Kemenperin melalui Ditjen IKMA akan melakukan berbagai program pembinaan,” kata Reni Yanita.

Langkah yang bakal ditempuh untuk mengatasi persoalan-persoalan yang ada,di antaranya Pendampingan dan sertifikasi Hazard Analysis Critical Control Points (HACCP). Pendampingan dan sertifikasi ini berguna untuk menerapkan sistem keamanan pangan yang lebih baik.

Kemudian, ada program restrukturisasi mesin dan peralatan melalui potongan harga atas pembelian mesin serta peralatan produksi baru. Diharapkan, langkah ini akan memudahkan pelaku industri dalam memodernisasi alat-alat produksi gula palma. Ada pula penerapan transformasi industri 4.0, yang bermanfaat utamanya dalam hal efisiensi dan traceability.

Sentra industri gula palma nantinya juga akan diperkuat. Akan ada sentra-sentra industri baru yang dibangun, dan sentra yang sudah ada pun direvitalisasi menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK). Para pengusaha yang bekerja di sentra industri gula palma juga mendapatkan pendampingan digital marketing melalui platform marketplace global, fasilitas, membership pada marketplace global, serta akses untuk ikut serta dalam pameran internasional.

“Tak hanya itu, Ditjen IKMA juga mendorong kemitraan antara IKM dengan stakeholder terkait dalam rangka mendorong perluasan pasar ekspor,” lanjut Reni Yanita.

Jaya Pada Masanya, Indonesia Pernah Menjadi Eksportir Gula Terbesar Kedua di Dunia

Jawa Tengah sebagai Percontohan

Lantas, bagaimana cara memulai langkah-langkah yang disiapkan Kemenperin untuk mengembangkan industri gula palma? Jawabannya adalah dengan menggandeng mitra untuk memberi dukungan.

Kemenperin berupaya bermitra dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Indonesia Eximbank). Kemitraan antara keduanya antara lain melalui Program Desa Devisa, yaitu pengembangan klaster komoditi ekspor yang berbasis pemberdayaan masyarakat atau komunitas.

Seperti dijelaskan sebelumnya, Jawa Tengah dan Jawa Barat adalah sentra gula palma terbesar di Indonesia yang menjadi penyalur sebagian besar stok untuk diekspor. Dalam program Desa Devisa, Jawa Tengah juga dijadikan lokasi pilot project.

“Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Banyumas sebagai daerah yang telah lama dikenal sebagai penghasil gula palma Indonesia, menjadi pilot project kerja sama tersebut,” kata Reni Yanita.

Langkah Kemenperin menggandeng mitra sudah mulai berjalan. Terbaru, Pada 26 Agustus 2022 Ditjen IKMA dan LPEI yang juga bekerja sama dengan produsen keramik PT Arwana Citramulia Tbk, menyerahkan bantuan keramik beserta biaya pemasangannya, serta wadah penyimpanan gula semut. Bantuan diberikan kepada empat kelompok atau koperasi produsen gula semut di Purbalingga dan Banyumas. Gula semut merupakan salah satu bentuk gula palma yang berbentuk bubuk.

“Kegiatan ini merupakan rangkaian program pembinaan bagi Desa Devisa Klaster Gula Semut di Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Banyumas, sehingga tercipta ekosistem yang produktif dalam meningkatkan ekspor IKM gula semut,” pungkas Reni Yanita.

Gula Sorgum Indonesia yang Bagus bagi Penderita Diabetes

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan A Reza lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel A Reza.

Terima kasih telah membaca sampai di sini