Misteri Omah Demit, Peninggalan Belanda yang Tidak Sembarang Bisa Dimasuki

Misteri Omah Demit, Peninggalan Belanda yang Tidak Sembarang Bisa Dimasuki
info gambar utama

Omah Demit yang berdiri di atas bukit di Desa Krakitan, Bayat, Klaten, Jawa Tengah sudah sangat familiar bagi warga sekitar. Namun keberadaan Omah Demit hingga kini masih menjadi misteri.

Pasalnya, walau bangunan ini tampak terlihat jelas dengan pandangan mata, banyak yang percaya bahwa warga tidak bisa asal memasuki rumah peninggalan zaman Kolonial Belanda tersebut.

Keberadaan rumah yang kokoh berdiri sendiri di ujung bukti tersebut tak bisa terpisahkan dengan sejarah masa lalu, kawasan perbukitan ini dikenal sebagai lokasi pertambangan kapur yang pernah aktif pada zaman kolonial Belanda.

Sosok Ratu Kidul hingga Nabi Khidir dalam Penghormatan Para Pemetik Laut

Dimuat dari Okezone, rumah ini berdiri kokoh di antara deretan bukit kapur. Kawasan tersebut dipopulerkan dengan nama Bukit Patrum Photorium. Sekeliling rumah ditumbuhi rumput serta tanaman.

Tidak ada jalan untuk menuju ke rumah itu, apalagi yang tinggal di rumah tersebut. Tempat ini tidak bisa dikunjungi karena tidak tersambung dengan kawasan bukit yang ada di sekitar bangunan tersebut.

“Dulu masih menyambung. Karena faktor alam dan efek dari kegiatan pertambangan, akhirnya ambrol. Waktu ambrol itu saya masih TK,” jelas Kepala Desa Krakitan, Nurdin yang diwartakan Solopos.

Tempat menyimpan dinamit

Omah demit terletak di atas bukit yang berukuran tak lebih 2 x 2 meter, tak ada bangunan lain kecuali satu rumah ini. Lebih terkesan menyeramkan lagi, diceritakan warga sering ada penampakan dan suara-suara aneh dari rumah ini.

Sejak sekian generasi, sebutannya pun sudah menyeramkan. Masyarakat di sekitarnya menamakan Omah Demit atau Rumah Hantu. Warga sekitar memang meyakini bahwa rumah itu bukan bekas tempat tinggal atau rumah hunian warga.

“Bangunan bersejarah, peninggalan zaman penjajahan Belanda. Menurut kakek dan nenek kami, dulu diperuntukkan menyimpan dinamit (bahan dan peralatan peledak) pemecah batuan kapur,” kata Hardi warga sekitar yang dikutip dari Karanganyarnews.

Ragam Jenis Cecak di Indonesia dan Mitos di Baliknya

Warga Dusun Mojo Pereng ini menjelaskan bahwa semasa masa penjajahan Belanda, Bukit Patrum dijadikan pusat penambangan batu kapur. Selain dijadikan bahan bangunan, batu kapur dimanfaatkan juga untuk pengolahan tebu di Pabrik Gula (PG) Gondang Winangun.

Untuk lebih mempermudah dan mempercepat proses menambang batu kapur, Belanda menggunakan peralatan dan bahan peledak, masyarakat setempat menyebutnya dinamit. Belanda juga membangun rel lokomotif untuk mengangkut batu kapur.

“Hingga tahun 1980-an rel jalur lokomotif itu masih utuh, bahkan masih sering dilintasi lori (lokomotif) pengangkut tebu dari Desa Krakitan dan sekitarnya ke PG Gondang Winangun,” cerita Hardi menyakinkan.

Dijadikan tempat wisata

Hardi menjelaskan ketika dirinya masih kecil, bangunan tempat menyimpan dinamit di atas Bukit Patrum ada dua. Namun pada perkembangan, warga setempat banyak menambang batu kapur secara manual.

Sekian lama, kegiatan itu semakin menggerogoti kegiatan bukit kapur, juga menghilangkan salah satu bangunan yang ada di atas Bukit Patrum. Namun para penambang sebenarnya tidak berani mengusik rumah itu, mereka hanya berani mengambil batu-batu kapur.

“Hingga menyisakan rumah di atas bukit yang terpisah dari bukit lainnya. Lokasi pun jadi curam dan cekungan. Sebagaimana yang terlihat sampai sekarang,” kata Hardi menambahkan.

Misteri Tradisi Masangin: Lewati Dua Pohon Beringin Kembar untuk Dapatkan Berkah

Kawasan perbukitan tersebut sejak 2017 sudah ditata dan dikelola Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) menjadi objek wisata alam bernama Bukit Patrum Photorium. Namun sejak pandemi Covid 19, objek wisata ini ditutup.

“Belum ada rencana untuk dibuka lagi. Karena satu sisi harus ada pembenahan lagi fasilitas-fasilitas yang ada di sana,” kata Nurdin.

Kawasan perbukitan yang terdapat satu rumah tersebut dulunya sering digunakan latihan panjat tebing para komunitas pecinta alam. Tetapi dirinya menghimbau agar tidak kembali dilakukan karena pihaknya belum punya alat safety dan pengawasan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini