Cara Gus Dur Membangun Demokrasi dan Melawan Rezim dengan Humor

Cara Gus Dur Membangun Demokrasi dan Melawan Rezim dengan Humor
info gambar utama

Kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J yang menjerat Ferdy Sambo dan beberapa anggota kepolisian membuat kelembagaan tersebut disorot. Salah satunya adalah mengenai integritas aparat bersenjata ini.

Kasus pembunuhan ini disebut hanya bagian kecil dari puluhan kejadian yang membuat kepercayaan akan kepolisian menurun. Publik lantas mengingat salah satu satir dari seorang Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tentang kepolisian.

“Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia: Patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng.”

Kelakar Gus Dur ini merupakan salah satu bagian dari caranya mengkritik zaman saat itu. Di masa rezim pemerintahan yang otoriter, segala urusan menjadi sangat sulit. Kebebasan berbicara dilarang dan kebebasan pers diberangus.

Badai Pemakzulan hingga Surat Sakti Lurah Gambir yang Diberikan kepada Gus Dur

Pada masa kekuasaan Presiden Soeharto, masyarakat sipil tidak diperkenankan untuk berbeda pendapat dengan pemerintah. Bahkan banyak orang orang yang memaksakan kritik secara lantang kemudian akhirnya ditangkap dan dipenjara oleh penguasa.

Dalam kondisi yang serba sulit itu perlu adanya medium yang lebih lunak dan dinamis untuk menyampaikan sebuah kritik. Untuk urusan itulah, seorang Gus Dur adalah jagoannya. Dirinya cukup cerdas sekaligus cerdik dalam mengkritik rezim orde baru.

“Salah satu metode yang dipilih Gus Dur adalah melawan melalui lelucon atau humor,” tulis M Fakhru Riza dalam Gus Dur dan Perihal Melawan Melalui Lelucon.

Melawan melalui lelucon

Gus Dur melalui ceramah-ceramahnya selalu menyisipkan humor dalam materi-materinya, supaya para jamaahnya tidak merasa bosan. Menurut Riza, salah satu humor yang beliau susupkan dalam ceramahnya adalah berisi kritikan terhadap pemerintah Orba.

Dalam suatu kolomnya di Tempo pada 19 Desember 1981, Gus Dur mengisahkan bahwa saat itu (zaman Orba) banyak orang Indonesia yang berobat dan memeriksa gigi harus pergi ke luar negeri, yakni Singapura.

Kemudian di benak Gus Dur timbul pertanyaan. Kenapa harus berobat ke tempat yang jauh sekali, harus ke luar negeri? Apakah di Indonesia kekurangan dokter atau kualitas dokternya jelek? rupanya bukan itu sebabnya.

“Penyebabnya adalah di Indonesia membuka mulut saja tidak boleh dibolehkan oleh pemerintah,” kelakar Gur Dur yang tentunya membuat tertawa juga tersenyum sinis.

Mengingat Jejak Gus Dur dalam Perayaan Imlek di Indonesia

Bagi Riza, gaya Gus Dur dalam mengkritik sangat mengena sekali pada zaman tersebut. Bila bukan orang yang sangat cerdik dan jenius, tentu sangat sulit sekali membuat narasi dan konten kritik politik melalui medium permasalahan pengobatan gigi.

Humor memang sebuah energi dan keseriusan dalam wujud yang berbeda. Kritik sosial, politik hingga budaya dapat disajikan dalam belut tawa melalui humor. Ketika ketegangan mewarnai perjalanan demokrasi, pesan dalam guyonan bisa jadi jalan tengah.

Itulah yang banyak dilakukan oleh Gus Dur. Ketika urat nadi politik menegang, guyonan adalah cara untuk mengendurkannya. Dalam mencairkan suasana, tak jarang Gur Dur melantunkan paduan kata yang mengundang renyah tawa.

Misalnya pada suatu ketika, dirinya diminta oleh para demonstran, Gus Dur dengan santainya menyahut, “Sampeyan ini bagaimana, wong saya maju saja susah, harus dituntun, kok disuruh mundur.

“Begitulah cara Gus Dur mencairkan ketegangan,” papar Dedy Afrianto dalam Gus Dur, Humor, dan Demokrasi.

Nasib kritik jenaka

Pasca Gus Dur, kritik gaya jenaka ini mulai kehilangan sosok, beberapa masih diisi oleh para budayawan seperti Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) atau para Stand Up Comedian. Namun dibandingkan Gus Dur beberapa pengkritik ini memang kurang medium.

Bahkan karena keringnya kritik dengan gaya jenaka, para politisi terlihat menjadi sangat sensitif ketika mendengar hal tersebut. Misalnya serangan kepada komika Bintang Emon soal kasus Novel Baswedan.

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin menganggap fenomena terhadap humor ini membuktikan bahwa Indonesia belum memiliki sosok tokoh berkualitas dengan intelektualitas tinggi.

“Kita ini gersang dengan guyonan segar. Gus Dur hidup mewarnai itu. Biasanya orang dengan kadar humor tinggi adalah orang yang cerdas memang, kuat intelektualnya. Nah, hari ini kita tidak menemukan tokoh-tokoh seperti itu,” tuturnya yang dimuat di CNN Indonesia.

Sejarah Hari Ini (12 Februari 2002) - Imlek Perdana Serentak di Tanah Air

Menurut Ujang, para tokoh saat ini lebih gemar mempertontonkan pertikaian di depan publik. Karena itulah dirinya mendorong agar para politisi kembali menghadirkan humor-humor yang jenaka, humor politik yang cerdas tapi menggigit seperti Gus Dur.

Sementara itu dirinya melihat dengan minimnya para politisi yang melawan dengan humor, hingga para aparat hukum yang semakin sensitif mendengar kritik melalui guyonan, baginya menunjukan Indonesia sedang darurat humor.

“Iya saya melihat seperti itu, dari pemerintah atau penegak hukum terlalu serius menangani hal-hal yang menurut saya merupakan bagian daripada hiburan masyarakat,” jawab Ujang.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini