Sungai Watch, Komunitas yang Upayakan Pembersihan Sampah di Semua Sungai Bali

Sungai Watch, Komunitas yang Upayakan Pembersihan Sampah di Semua Sungai Bali
info gambar utama

Di Bali ada sebuah komunitas sekaligus organisasi pembasmi sampah sungai bernama Sungai Watch. Mungkin bukan hal asing atau baru di kalangan aktivis lingkungan, Sungai Watch pada dasarnya merupakan komunitas yang memiliki tujuan menjaga, memelihara, dan memperjuangkan kebersihan sungai yang saat ini memang lebih fokus untuk melancarkan gerakan di Pulau Dewata.

Berangkat dari fakta yang menyebut jika sekitar 80 persen sampah di lautan berasal dari sungai, kelompok ini berupaya untuk memberikan solusi terbaik dengan lebih memilih untuk memberantas keberadaan sampah terutama yang berjenis plastik langsung dari hulunya.

Menariknya, Sungai Watch ternyata didirikan oleh relawan asal Prancis yang merupakan tiga orang bersaudara bernama Garry, Kelly, dan Sam Bencheghib sejak tahun 2020.

Sebelum menetap dan membangun organisasi terkait di Bali, mereka ternyata telah lebih dulu menjelajah dan melakukan berbagai aksi pembersihan pada sungai di sejumlah wilayah Pulau Jawa.

Tangani Sampah Laut dengan AI, Pelajar Indonesia Menangkan Kompetisi Global Microsoft

Teknologi sederhana penghalang sampah

Trash barrier/penghalang sampah dari komunitas Sungai Watch | sungaiwatch.com
info gambar

Dengan berlandaskan prinsip dan pemahaman jika cara paling sederhana untuk membersihkan laut adalah dengan memulainya dari hulu, Sungai Watch yang diinisiasi oleh Bencheghib bersaudara akhirnya menghadirkan sebuah inovasi berupa trash barrier atau penghalang sampah yang terbukti efektfif dalam pembersihan sungai.

Secara sederhana, menurut para inisiator komunitas tersebut setiap aliran sungai baik besar atau kecil yang ada di Indonesia sejatinya harus memiliki penghalang pada titik-titik tertentu, agar setiap sampah yang terdapat di aliran sungai dapat terperangkap untuk selanjutnya dikelola lebih mudah dengan dibersihkan dan diidentifikasi penanganannya.

Dalam operasionalnya, Sungai Watch diketahui sudah memiliki kurang lebih sebanyak 55 orang relawan yang sebagian besar terdiri dari masyarakat lokal Bali. Jika menilik pada penjelasan di laman resminya, ke-55 orang tersebut memiliki perannya sendiri baik sebagai tim pembersih sungai atau tim sorting yang akan mengelola sampah hasil pembersihan.

Pertama di Asia, Indonesia Punya Pabrik Bata dari Sampah Plastik di NTB

Proses pengelolaan sampah dan dampak yang dihasilkan

Melihat proses kerjanya, dari sejumlah titik penghalang sampah atau trash barrier yang sudah dipasang pada titik-titik sungai tertentu, tim pembersih setiap harinya akan mengambil sekaligus mengumpulkan sampah yang berhasil terhalang.

Kemudian sampah tersebut akan melalui proses penyortiran untuk dianalisa serta ditelusuri sumbernya, penelusuran tersebut bertujuan untuk membuka diskusi seputar tanggung jawab dari produsen penghasil sampah terkait.

Di samping itu, sampah yang sudah tersortir akan dicuci untuk digarap serta dipersiapkan menjadi material yang siap untuk diolah menjadi sebuah komoditas. Lebih jauh, terkait hal tersebut komunitas Sungai Watch diketahui masih melakukan berbagai eksperimen agar sampah-sampah tersebut menjadi produk yang bernilai.

Walau terbilang baru, namun per tahun 2021 kemarin atau lebih tepatnya selama 14 bulan sejak pemasangan penghalang sampah pertama mereka, Sungai Watch diketahui sudah berhasil memasang sebanyak 105 penghalang pada sejumlah sungai di Pulau Bali.

Lewat pemasangan tersebut, mereka mencatat sudah berhasil melakukan pembersihan terhadap sebanyak lebih dari 333 ribu kilogram sampah non-organik, dan 393 ribu kilogram sampah organik dari sungai-sungai di Bali.

Dari sampah-sampah tersebut, mereka berhasil mengaudit sebanyak 227.842 potongan jenis sampah yang selama ini mencemari sungai. Adapun maksud dari audit yang disebutkan adalah mereka berhasil mengidentifikasi produk plastik jenis apa saja yang paling mendominasi dalam pencemaran sungai, dan dari perusahaan besar apa saja sampah-sampah tersebut berasal.

Berdasarkan laporan yang dipublikasi, terlihat jika jenis sampah yang paling mendominasi secara berurutan masih diisi oleh jajaran kantong plastik, bungkus kemasan produk, sandal plastik dan busa karet, botol plastik, dan masih banyak lagi.

Selain itu, mereka juga berhasil mengidentifikasi 10 besar perusahaan asal produk yang menyumbang pencemaran paling besar pada sungai-sungai di Bali.

Ke depannya, Sungai Watch dengan yakin memiliki misi untuk memasang sebanyak 1.000 penghalang sungai pada tahun 2023, dan memasang penghalang di setiap sungai yang ada di Indonesia secara menyeluruh pada tahun 2025.

SPS Warloka, Tempat Akhir Pengelolaan Sampah Terpadu di Labuan Bajo

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini