Tradisi Suku Sahu Menyisakan Hasil Panen untuk Mencegah Krisis Pangan

Tradisi Suku Sahu Menyisakan Hasil Panen untuk Mencegah Krisis Pangan
info gambar utama

Budaya padi ladang telah dimaknai sebagai identitas budaya suku Sahu Jio Tala’i Padusua di Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), Provinsi Maluku Utara. Kegiatan itu yang membedakan komunitas suku lain di Kabupaten Halbar.

Tolong-menolong, kebersamaan, dan kekeluargaan merupakan sebuah aktualisasi identitas budaya yang melandasi relasi sosial komunitas petani Sahu Jio Tala’i Padusua dalam kegiatan budidaya padi ladang.

Itulah modal sosial yang menjadi kekuatan besar dalam membangun tatanan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Terutama untuk melawan wabah virus corona yang mengancam kehidupan warga dunia saat ini, termasuk masyarakat di Kabupaten Halbar.

5 Sosok Publik Figur Indonesia Ini Punya Kepedulian Tinggi Terhadap Lingkungan

Komunitas petani suku Sahu Jio Tala’i Padusua mengharuskan titilia atau lumbung terisi penuh dengan padi sehingga mencegah kelaparan. Harap mafhum, nasi menjadi makanan pokok masyarakat Sahu Jio Tala’i Padusua yang harus tersedia di setiap waktu makan.

“Nasi makanan pokok yang memiliki keistimewaan tersendiri bagi petani Sahu Jio Tala’i Padusua karena dapat memberikan energi untuk beraktivitas sehari-hari di kebun,” dimuat dalam Suku Sahu Merawat Titila diterbitkan Trubus.

Jika nasi tersedia, tinggal dilengkapi dengan sayur dan ikan. Bahkan, sebagian petani mengatakan mengkonsumsi nasi dan dabu-dabu suten (sejenis sambal terbuat dari perasaan jeruk kalamansi) sudah enak.

“Nilai-nilai dan pemaknaan itu menjadi salah satu alasan mendasar komunitas Sahu Jio Tala’i Padausa menanam padi ladang turun-temurun,” lanjut Trubus.

Menyisakan hasil panen

Bagi suku Sahu Jio Tala’i Padusua menyebut sebagai tempat penyimpanan hasil panen padi ladang, titilia juga berfungsi menyimpan benih untuk musim tanam berikutnya. Dengan kata lain titilia berperan penting pada proses budidaya padi ladang.

Musababnya semua kegiatan budidaya berawal dan berakhir di titilia. Ketersediaan benih secara berkelanjutan merupakan salah satu faktor penting pada budidaya padi ladang. Karena itu benih padi selalu dilestarikan melalui budidaya berkelanjutan.

“Komunitas petani Sahu Jio Tala’i Padusua selalu menyisakan sebagian hasil panen sebagai benih untuk musim tanam selanjutnya. Dengan begitu ketersediaan benih akan terjamin,” paparnya.

Ditulis dalam buku tersebut suku ini membudidayakan padi sekali setahun lantaran jenis padi ladang yang ditanam memiliki umur panen panjang mencapai 4-5 bulan. Setelah dipanen, petani menyimpan benih terlebih dahulu sambil menyiapkan lahan berikutnya.

Ikatan Persahabatan Abadi Masyarakat Flores Hadapi Ancaman Bencana

Jadi petani tidak menanam padi yang baru dipanen. Penyimpanan padi diperlukan agar mencegah pertumbuhan tidak seragam, kerdil, dan daun berwarna kekuningan. Itu terjadi karena padi mengalami dormansi (masa tidur) dan memerlukan penyimpanan kering.

Setiap benih padi memiliki masa dormansi dan penyimpanan kering berbeda. Pertumbuhan padi lebih seragam dan sehat jika menggunakan benih yang sudah disimpan. Kebiasaan menyimpan benih padi oleh komunitas petani Jio Tala’i Padusua sejalan dengan riset ilmiah.

Hasil penelitian mengungkapkan padi kayeli, salah satu jenis padi ladang yang memerlukan 6-8 pekan penyimpanan untuk menghilangkan dormansi. Jadi penanaman kayeli bisa 2-3 kali setahun.

“Hal ini sangat berguna untuk mengantisipasi berbagai kondisi yang tiba-tiba terjadi pandemi corona,” papar buku tersebut.

Budidaya makan adat

Biasanya komunitas praktik budidaya secara berkelompok atau sering disebut rion-rion dalam bahasa lokal. Rion-rion merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Sahu Jio Tala’i Padusa.

Budidaya padi ladang menjadi tradisi yang sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang.
Praktik sosial itu menjadi sebuah tradisi yang masih diwariskan turun-temurun dari orang tua hingga generasi milenial saat ini.

Budidaya padi ladang dengan kearifan lokal rion-rion berhubungan dengan makan adat (orom sasadu) yang merupakan puncak pelaksanaan rangkaian budidaya padi ladang. Perayaan meriah yang dilakukan sebagai representasi ungkapan syukur.

Suku Tionghoa dan Kemahiran Ilmu Dagang yang Terwariskan di Makassar

Makan adat rutin dilakukan setiap tahun sebagai bentuk syukuran dan wadah mempererat rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan solidaritas sebagai sebuah keluarga komunitas adat Sahu Jio Talai Padusua.

“Rangkaian makan adat sarat dengan ritual pesan adat (bobita), doa, diskusi para tetua adat (kokonfu), dan nyanyian berbalas pantun (ma’io),” ucapnya.

Semua bentuk ritual itu membawa peserta makan adat makin merasa menyatu sebagai sebuah keluarga. Bila dikaitkan dengan pandemi Covid 19, nilai tolong menolong dan kebersamaan dalam rion-rion dan orom sasadu ketika kegiatan di rumah.

“Artinya warga menolong para tim medis dan dirinya sendiri agar tetap tinggal di rumah dan menjaga jarak (social distancing) sehingga membantu pemerintah mengurangi penyebaran Covid 19,” pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini