Keberkahan Tembakau Deli yang Jadikan Kota Medan Beraroma Eropa

Keberkahan Tembakau Deli yang Jadikan Kota Medan Beraroma Eropa
info gambar utama

Industri tembakau deli berkembang cepat di Sumatra Timur -kini Sumatra Utara- karena digemari penikmat cerutu di Eropa. Karena perkebunan Tembakau ini membuat Medan tumbuh menjadi kota metropolitan kelas dunia.

Pada abad ke 19, Jacobus Nienhuys mendirikan perusahaan tembakau Deli Maatschappij, enam tahun setelah kedatangannya ke Sumatra Timur tahun 1863. Setelahnya industri tembakau Deli berkembang cepat dan menarik penikmat cerutu dari Eropa.

Permintaan yang tinggi membuat investasi berkembang pesat di Sumatra Timur. Jan Breman dalam buku berjudul Menjinakkan Sang Kuli menulis pada 1873 jumlah kebun tembakau baru 13 dan pada 1876 menjadi 40 kebun.

Parijs van Sumatra yang Terlupakan

Sementara Ann Laura Stoler dalam buku Kapitalisme dan Konfrontasi di Sabuk Perkebunan Sumatra 1870-1979 melaporkan sudah ada 179 kebun tembakau besar dan kecil tumbuh di Sumatra Timur pada tahun 1889.

Ribuan warga China, India, Jawa berbondong-bondong datang ke Medan untuk menjadi tenaga kerja penyokong industri tembakau ini. Berbagai bangsa kemudian bermukim dan berketurunan di kota tersebut.

Bahkan banyak catatan yang menuliskannya Medan saat itu sudah menjadi kota multikultural. Tidak aneh, jelas Breman, pada suatu perjamuan akan terisi dengan beragam bangsa yang saling berbincang.

“Sering satu meja di Medan dikelilingi tujuh orang tamu yang mewakili beragam bangsa, yaitu Belanda, Prusia, Jerman, Denmark, Inggris, Polandia, Swiss, dan Norwegia,” ucapnya.

Tembakau bawa kejayaan

Perkebunan tembakau membuat Medan tumbuh menjadi kota Metropolitan kelas dunia. Sejak tahun 1930, sudah ada 11.000 orang Eropa yang tinggal di Pantai Timur Sumatra yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam industri perkebunan.

“Dicatat orang dari Belanda, Inggris, Amerika Serikat, Prancis-Belgia, Swiss, Jepang, dan Jerman sudah menaruh investasi besar di Sumatra Timur pada era 1913-1932,” dimuat dalam buku Deli dan Bayang-Bayangnya terbitan Kompas.

Setelahnya bangunan megah hingga fasilitas publik berdiri di kota Medan, seperti perkantoran, bank, kantor pos, sekolah, rumah sakit, jalan, pasar, hingga stasiun kereta api yang beberapa masih tegak berdiri.

Sejarah Kelam Perbudakan di Perkebunan Medan pada Era Belanda

Ichwan Azhari, sejarawan asal Universitas Negeri Medan menyatakan tembakau membuat kota Medan tumbuh dengan kebudayaan Eropa di dalamnya. Pertumbuhan kota memberikan dampak bagi daerah sekitarnya.

Dirinya mencontohkan di Kabupaten Karo yang tumbuh menjadi sentra pertanian yang menghasilkan wortel, kacang arcis, tomat, kol, brokoli dan berbagai sayuran yang digemari oleh orang Eropa.

“Usahawan itu bahkan mengangkut masyarakat Bengali dari India ke Medan bersama sapinya untuk memenuhi kebutuhan mereka akan susu,” ucapnya.

Kemakmuran yang pudar

Tetapi tembakau ternyata hanya cocok ditanam di sekitar Medan dan Langkat. Sejumlah perkebunan bangkrut karena mendapatkan lahan yang tidak cocok. Pada tahun 1914, jumlah kebun menjadi 101 hingga pada 1930 jadi 72 kebun.

Ketika pada tahun 1957, pemerintah melakukan nasionalisasi perkebunan tembakau yang tersisa tinggal dua perusahaan yakni Deli Maatschappij dengan 16 kebun dan Senembah Maatschappij dengan 6 kebun.

Perawatan yang rumit, sementara investasi lain lebih menjanjikan diduga menjadi penyebab mundurnya industri tembakau. Selain itu produsen tidak bisa menentukan harga karena sistem lelang dalam penjualan.

“Merawat tembakau itu seperti merawat bayi,” tutur Pahala NL Tobing, Kepala Dinas Tanaman Tembakau Kebun Klumpang PTPN II Pahala.

Ribuan Satwa Langka ini Diawetkan di Medan

Walau terus merugi, perkebunanan tidak ditutup karena tembakau Deli adalah tanaman yang bernilai sejarah. Kerugian terjadi karena biaya produksi yang tinggi akibat beban tenaga kerja yang besar sedangkan perusahaan tidak bisa menentukan harga jual.

Lebih dari seratus tahun berjaya, tembakau deli kini tinggal sisa. Warisan yang tersisa kini bisa terlihat dari tata kota Medan yang mengikuti letak kebun tembakau di Padang Bulan, Tanjung Sari, Polonia, Sei Sikambing hingga Pancing.

Misalnya penamaan wilayah yang tetap mengacu pada investasi asing yang pernah ada di Medan seperti Polonia dari Polandia, Mareland dari Maryland, Helvetia dari Confoederatio Helvetica atau negara Swiss.

“Namun, banyak orang yang sudah tidak mengenalnya lagi,” tutur Tobing.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini