5 Bendungan dengan Kapasitas Terbesar yang Jadi Penyokong PLTA di Indonesia

5 Bendungan dengan Kapasitas Terbesar yang Jadi Penyokong PLTA di Indonesia
info gambar utama

Terdapat banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengelola sumber daya air agar termanfaatkan secara maksimal, salah satunya adalah dengan keberadaan sebuah bendungan. Sebagai konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air menjadi waduk atau danau, bendungan memiliki banyak manfaat untuk berbagai aspek.

Ada ragam manfaat yang dimaksud di antaranya adalah sebagai sumber dari sistem pengairan, pencegah banjir, habitat bagi ekosistem air tawar, hingga manfaat menjadi tempat rekreasi. Istimewanya lagi, bendungan juga jadi komponen utama bagi praktik energi bersih lewat kehadiran PLTA, yang biasanya dibangun secara bersamaan.

Indonesia sendiri jadi salah satu negara yang memiliki bendungan dengan jumlah cukup banyak. Per tahun 2021, Kementerian PUPR mencatat ada sebanyak 205 unit bendungan beroperasi, yang tersebar di sebanyak 16 provinsi tanah air.

Dari sekian banyak bendungan tersebut, ada beberapa bendungan yang dinobatkan sebagai bendungan terbesar dan banyak dikenal sampai saat ini. Apa saja bendungan yang dimaksud?

Bendungan Perdana di Maluku Bisa Dukung Pembangkit Listrik untuk Ribuan Rumah

Bendungan Jatiluhur

Bendungan Jatiluhur (Akhmad Dody Firmansyah/Shutterstock)
info gambar

Banyak dikenal juga sebagai Bendungan Juanda, infrastruktur satu ini berlokasi di Purwakarta, Jawa Barat, dan sudah beroperasi sejak tahun 1965. Membendung aliran sungai Citarum, bendungan ini memiliki potensi air tersedia mencapai 12,9 miliar meter kubik/tahun

Pertama kali dibangun pada tahun 1957, kala itu tujuan utama pembuatan bendungan Jatiluhur adalah untuk mengairi irigasi sawah seluas 242.000 hektare milik penduduk sekitar. Menelan biaya pembangunan sebesar 230 juta dolar AS pada masanya, bendungan tersebut juga diandalkan untuk menopang PLTA yang ada.

Awalnya PLTA Jatiluhur memiliki kapasitas daya terpasang 150 MW, namun pada tahun 1998 ditingkatkan menjadi 187,5 MW.

Diketahui jika produksi listrik yang dihasilkan PLTA di bendungan tersebut rata-rata dalam setahun mencapai 830 juta kWh, yang sebagian digunakan untuk keperluan operasional bendungan dan sebagian lagi dipasok ke PT PLN, melalui jaringan tegangan 150 kV dan 70 kV.

Bendungan Karangkates

Memiliki nama lain bendungan Ir. Sutami, fasilitas yang berlokasi di Malang ini didedikasikam untuk sosok Menteri Pembangunan terdahulu yang banyak dihormati. Dibangun pada tahun 1975 hingga 1977 dengan biaya Rp10 miliar kala itu, volume normal bendungan ada di kisaran 343 juta meter kubik per tahun.

Manfaat sampingannya, bendungan Sutami sering menjadi tempat istirahat bagi para pengemudi. Selain itu, tempat ini juga telah menjadi objek wisata yang dilengkapi dengan beberapa fasilitas olahraga.

Bendungan Sutami juga mendukung operasional tiga unit PLTA yang masing-masing memiliki kapasitas 35 MW. Karena itu, PLTA yang ada mampu memasok listrik hingga kisaran 488 juta kWh dalam setahun.

Selain PLTA, terbaru diumumkan jika bendungan ini juga akan menjadi lokasi penggarapan PLTS terapung.

Selain PLTA, Bendungan Sutami Akan Punya Fasilitas PLTS Terapung

Batu Tegi

Bendungan Batu Tegi | unej.ac.id
info gambar

Berlokasi di Lampung Selatan, bendungan ini merupakan penyedia air minum untuk Kota Bandar Lampung, Metro, dan kawasan Beranti. Diresmikan pada tahun 2004, bendungan Batu Tegi memiliki volume normal hingga 687 juta meter kubik.

Biaya pembangunannya menelan biaya hingga Rp920 miliar. Bendungan ini juga memiliki fungsi sebagai pengendalian banjir, lokasi perikanan, dan objek pariwisata. Soal pembangkit listrik, bendungan ini memiliki dua PLTA yang masing-masing berkapasitas 14 MW.

Sigura-Gura

Bendungan Sigura-gura | bumn.goi.id
info gambar

Bendungan satu ini bisa dibilang paling menarik. Berada di sekitar 23,3 kilometer dari hulu Sungai Asahan, Sumatra Utara dan 1 kilometer ke hilir air terjun Sigura-Gura. Bendungan ini memang dibangun untuk memasok air bagi operasional PLTA Sigura-Gura.

Dibangun pada Mei 1978 dan selesai pada Desember 1981, PLTA Sigura-gura sendiri merupakan PLTA pertama di Indonesia yang terletak di bawah tanah. Memiliki 4 generator, kapasitas PLT dalam kondisi normal ada di kisaran 203 MW, dan bisa mencapai 286 MW jika dalam mode operasi maksimum.

Energi listrik yang dibangkitkan oleh PLTA Sigura-gura disalurkan ke Kuala Tanjung melalui jaringan tegangan sebesar 275 kiloVolt.

Gadjah Mungkur

Bendungan Gadjah Mungkur | unej.ac.id
info gambar

Pertama kali dibangun pada tahun 1976. Bendungan yang berada di Wonogiri, Jawa Tengah ini mulai beroperasi pada tahun 1982, dan membendung air dari sungai terpanjang di Pulau Jawa, yakni Bengawan Solo.

Menelan biaya produksi Rp55 miliar, bendungan ini digunakan untuk mengairi sawah seluas 23.600 hektare di Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Klaten, Kabupaten Karanganyar, dan Kabupaten Sragen.

Selain untuk mengairi lahan, bendungan Gadjah Mungkur juga menopang PLTA yang menghasilkan daya sebesar 12,4 MW per tahun.

Bendungan Walahar, Jejak Kepentingan Produksi Pertanian Belanda di Karawang

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini