Desa Wisata di Sukabumi Ini Punya Tanaman dengan Kandungan Super yang Terancam Punah

Desa Wisata di Sukabumi Ini Punya Tanaman dengan Kandungan Super yang Terancam Punah
info gambar utama

Desa Waluran merupakan salah satu desa wisata yang ada di Sukabumi. Hal yang menarik dari desa ini adalah adanya tanaman dengan kandungan super yang kini terancam punah.

Desa wisata mungkin adalah hal yang lazim ditemui di berbagai daerah. Namun perlu diingat juga, setiap desa wisata tentu saja punya keunikannya masing-masing.

Tak terkecuali dengan Desa Waluran. Salah satu desa wisata di Sukabumi ini dikenal dengan keunikannya, yakni keberadaan tanaman yang tergolong langka bernama hanjeli.

Ya, sebagai desa wisata, Waluran mengembangkan tanaman hanjeli. Di samping berusaha mengundang para wisatawan untuk datang berkunjung, Desa Waluran juga aktif dalam hal pertanian.

Antara wisata dan pertanian juga bukan hal yang terpisah satu sama lain, melainkan saling berkaitan. Pertanian Hanjeli menjadi daya tarik Desa Waluran yang membuatnya unik dan menarik di mata wisatawan. Maklum saja, pengembangan tanaman hanjeli di Waluran dijalankn dengan nuansa kearifan lokal yang melibatkan masyarakat setempat.

Waluran merupakan sebuah desa yang terletak kecamatan dengan nama yang sama di Sukabumi bagian barat daya. Lokasinya tidak jauh dari laut selatan Jawa.

Dari pusat kota Sukabumi, lokasi Desa Waluran terbilang lumayan jauh. Panjang jalan yang menghubunkan keduanya sekitar 90 kilometer. Untuk mencapai Desa Waluran, dibutuhkan waktu tempuh sekitar 3 jam.

Pertanian hanjeli bukanlah satu-satunya daya tarik yang dimiliki Desa Waluran. Di sana, ada pula tempat wisata lain yang juga menarik. Misalnya saja, ada beberapa curug yang bisa didatangi untuk berenang.

Jika Kawan GNFI tahu tempat wisata bernama Palabuhanratu, lokasinya juga tidak terlalu jauh dari Desa Waluran. Untuk mencapai Waluran dari sana, dibutuhkan waktu sekitar satu jam berkendara.

Untuk diketahui, Desa Waluran termasuk ke dalam kawasan Unesco Global Geopark Ciletuh Palabuhanratu.

Gerakan Satu Juta Pohon dan Cara Pandang Soeharto Melihat Lingkungan

Mengenal Hanjeli di Desa Waluran

Apa itu tanaman hanjeli yang dikembangkan di Desa Waluran? Pertanyaan ini mungkin muncul di benak Kawan GNFI saat membaca artikel ini.

Sebetulnya itu bukan hal aneh. Maklum saja, hanjeli memang bukan komoditas pertanian yang terkenal di Indonesia. Hanjeli yang juga kerap disebut jali atau jali-jali belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat.

Hal itu sebenarnya cukup bisa disayangkan. Sebab, hanjeli adalah tanaman dengan segudang manfaat. Kandungan gizinya pun tinggi sehingga sangat baik untuk dikonsumsi sebagai bahan pangan.

Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian Kementerian Pertanian RI dalam laman resminya menjelaskan jika hanjeli atau yang bernama latin Coix lacymajobi L. adalah sejenis tumbuhan biji-bijian dari suku padi-padian atau Poaceae. Ciri-cirinya adalah memiliki rumpun banyak, berbatang tegak dan besar, tingginya antara 1-3 meter, berakar kasar yang menancap kuat dan sulit dicabut, daunnya berseling dan berbentuk pita dengan ujung runcing, dan buahnya bulat lonjong.

Hanjeli aslinya berasal dari daerah dari Asia Timur dan Malaya dan kini penyebarannya sudah mencapai berbagai belahan dunia. Hanjeli bisa tumbuh dan dikembangkan di Indonesia karena tumbuhan tersebut bisa hidup di berbagai iklim mulai dari kering maupun basah.

Terdapat dua varietas hanjeli yang lazim ditanam. Keduanya punya karakteristik masing-masing. Varietas pertama adalah Coix lacryma-jobi var. lacryma-jobi yang berkarakteristik memiliki cangkang keras putih dan bentuk oval dan dipakai untuk manik-manik. Lalu ada pula varietas Coix lacryma-jobi var. mayuen yang buahnya berwarna putih atau biru hingga ungu serta berkulit keras saat sudah tua

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Tati Nurmala menjelaskan jika hanjeli adalah tanaman sumber karbohidrat. Saking tingginya kandungan nutrisinya, Tati Numala bahkan juga menyebut hanjeli sebagai tanaman bernilai gizi super.

“Hanjeli ini merupakan tanaman pangan sumber karbohidrat dengan kandungan gizinya yang setara dengan padi, sorgum, atau sumber pangan lainnya, bahkan nilai gizi yang ada dalam Hanjeli ini super,” ujar Tati Nurmala seperti dilansir Ketik Unpad.

Di sejumlah daerah di Jawa Barat termasuk Sukabumi, masyarakat mengenal berbagai hasil olahan hanjeli ini. Beberapa contohnya adalah bubur, tape, dan dodol. Selain itu, hanjeli juga bisa dimanfaatkan sebaai bahan baku obat herbal yang diyakini punya banyak khasiar mulai dari peluruh air seni hingga zat antitumor. Pemanfaatan hanjeli untuk obat dimungkinkan karena hanjeli memiliki zat aktif bernama coixenolide yang terkandung dalam biji maupun akarnya.

Tati Nurmala mengonfirmasi adanya kandungan zat aktif dalam hanjeli. Bukan hanya itu, ternyata ada pula nutrisi lain yang juga terkandung di dalam hanjeli. Dijelaskannya, hanjeli punya kandungan kalsium dan biosilica yang tinggi.

“Kandungan bioaktif dalam bijinya dapat mengendalikan tumor, kemudian kulit bijinya mengandung biosilica yang tinggi sehingga dapat dimanfaatkan untuk pengobatan herbal dan dijadikan pupuk,” tutur Tati Nurmala.

Di awal, sempat disinggung bahwa hanjeli tidak begitu populer hingga terancam punah meski nutrisinya tinggi. Terkait hal ini, Tati Nurmala tahu penyebabnya.

“Waktu saya telusuri kenapa tanaman ini tidak berkembang, ternyata karena tiga hal. Pertama, usia penanamaannya yang lebih panjang ketimbang padi. Padi hanya membutuhkan waktu tiga sampai empat bulan sampai waktu panen, sedangkan hanjeli membutuhkan waktu enam sampai tujuh bulan untuk panen,” lanjut Tati.

“Kedua, hasil panennya yang sedikit sehingga petani tidak tertarik untuk menanam tanaman hanjeli. Terakhir pengolahan pasca panennya yang sulit karena kulitnya yang keras,” pungkasnya.

Perjuangan Da'im Melestarikan Hutan di Lereng Gunung Lemongan yang Rawan Bencana

Diapresiasi Menparekraf

Upaya Desa Waluran untuk mengembangkan hanjeli sebagai bagian dari eksistensinya sebagai desa wisata mendapat apresiasi, salah satunya dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno.

Sandiaga Uno yang sempat mengunjungi Waluran pada akhir September lalu takjub dengan kompaknya masyarakat dalam mengembangkan hanjeli. Di sana, semua kalangan memang terlibat, mulai dari ibu-ibu hingga anak muda.

Kemenparekraf tahu betul bahwa Waluran dengan hanjelinya punya potensi untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat itu. Untuk itu, Sandiago Uno menyatakan pihaknya siap membantu Waluran agar semakin dikenal.

"Kita dukung Desa Wisata Hanjeli dengan cara mempromosikannya baik di dalam maupun luar negeri agar semakin dikenal secara luas. Kemudian dari Kemenparekraf RI akan memberikan pendampingan serta menjembatani kerja sama dengan pihak lainnya agar ekonomi terus meningkat," ujar Sandiaga Uno seperti diwartakan Antara.

Untuk itu, Sandiaga Uno juga berpesan agar masyarakat Waluran khususnya anak muda bisa terus memaksimalkan potensi desanya.

Bagi Kawan GNFI yang punya rencana liburan, siapa tahu tertarik datang ke Desa Waluran untuk melihat dan menikmati langsung hanjeli yang punya kandungan super namun terancam punah ini.

Alamnya Kaya Mineral, Masyarakat Indonesia Minum dari Mata Air



Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan A Reza lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel A Reza.

Terima kasih telah membaca sampai di sini