Pentingnya Edukasi Masyarakat Melawan Hoaks Jelang Pesta Demokrasi di Tahun 2024

Pentingnya Edukasi Masyarakat Melawan Hoaks Jelang Pesta Demokrasi di Tahun 2024
info gambar utama

Kira-kira kurang dari dua tahun lagi atau lebih tepatnya di pertengahan tahun 2024, Indonesia akan kembali melalui pesta demokrasi, yakni Pemilihan Umum (Pemilu) termasuk Pemilihan Presiden (Pilpres). Lewat kesempatan tersebut, masyarakat Indonesia akan memilih sosok pemimpin negara baru.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, akan ada banyak pemberitaan yang beredar selama masa pra-pemilu, untuk memengaruhi pemilik suara dalam memberikan suaranya. Adapun bentuk pemberitaan yang dimaksud dapat berupa fakta atau sebaliknya, dalam kata lain hoaks.

Karena itu penting bagi masyarakat Indonesia terutama yang sudah memiliki hak suara, untuk ikut memiliki kesadaran akan pentingnya menanggapi pemberitaan yang beredar, menjelang pesta demokrasi di tanah air.

Dalam arti kata, masyarakat Indonesia harus lebih bijak dalam menanggapi atau mendeteksi berita yang beum terkonfirmasi keabsahannya.

Hal tersebut penting, karena menurut riset yang dilakukan oleh Daily Social terhadap sebanyak 2032 sampel masyarakat pengguna ponsel pintar di seluruh Indonesia, 44,19 persen di antaranya mengaku tidak yakni memiliki kepiawaian dalam mendeteksi berita hoaks.

Di sisi lain, baru sedikit dari separuhnya yakni 51,03 persen dari responden yang memilih untuk berdiam diri ketika menemui berita hoaks. Dalam arti kata, mereka tidak memberikan edukasi atau pemahaman kepada masyarakat lain ketika terdapat berita hoaks.

Menangkis Hoaks dengan Jurus Literasi

Edukasi literasi digital untuk berantas hoaks

Peluncuran Tular Nalar yang berlangsung di Bali
info gambar

Melihat kondisi di atas, muncul inisiasi yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar lebih bijak dan memiliki modal dasar dalam menanggapi berita hoaks, minimal tidak mempercayainya dengan mudah, yakni program Tular Nalar yang diinisiasi oleh Masyarakat Anti Fitnah (Mafindo) dan didukung oleh Google.org.

Tular Nalar adalah sebuah portal pembelajaran online yang berisi serangkaian pelatihan literasi digital untuk memberdayakan pemilih pemula dan penduduk lanjut usia. Program ini memiliki target untuk memberdayakan 320.000 lansia dan 130.000 pemilih pemula.

Resmi diluncurkan di seluruh penjuru Indonesia, tepatnya di 37 provinsi secara serentak, program ini terdiri dari pelatihan meliputi pemahaman dasar seputar perlindungan data pribadi, navigasi YouTube untuk lansia, kiat-kiat aman bertransaksi digital, serta teknik-teknik dasar identifikasi hoaks dan pencegahan ujaran kebencian di ranah siber.

Pada Sabtu (8/10/202) kemarin, peluncuran dari inisiasi tersebut sekaligus peresmian serangkaian pelatihan literasi digital dilakukan di Lapangan Bajra Sandhi, Bali.

Program pelatihan yang dinamakan Akademi Digital Lansia dan Sekolah Kebangsaan ini diadakan untuk membantu penduduk lanjut usia dalam berselancar di internet dengan aman, dan membantu pemilih pertama dalam menyaring informasi selama periode pemilihan umum.

Septiaji Eko Nugroho selaku Ketua Umum Mafindo, menyatakan bahwa Tular Nalar bertujuan untuk menjangkau sebanyak mungkin penduduk lansia. Karena menurutnya, masih ada banyak penduduk lansia yang tinggal di area-area terpencil yang masih kurang memahami cara kerja internet.

“Pengetahuan mereka yang kurang memadai menjadikan mereka sebagai sasaran empuk untuk berbagai modus penipuan digital dan misinformasi. Oleh karena itu, kita berharap program ini dapat membantu mereka menyaring informasi di internet dan menjadi lebih kritis dalam menerima informasi,” imbuh Septiaji.

Hari Kelahiran Pancasila, Momentum untuk Memberantas Hoaks dan Ujaran Kebencian

Pembuatan kurikulum khusus

Santi Indra Astuti selaku Project Manager Tular Nalar 2022, menyebutkan bahwa progam ini telah memiliki kurikulum yang dirancang secara khusus untuk menjawab dilemma, di mana penduduk lanjut usia menjadi sasaran empuk kejahatan siber karena kurangnya kesadaran dalam perlindungan data pribadi.

Di saat yang bersamaan, generasi muda yang mendominasi ranah media digital kerap menjadi pelaku penyebaran misinformasi maupun kejahatan siber.

“Setelah melalui berbagai riset, diskusi kelompok terarah dan kelas pilot, dengan senang hati kita mengumumkan bahwa kita telah berhasil merancang kurikulum yang paling cocok untuk sesi pelatihan ini. Materi pembelajaran juga telah kami rancang sedemikian rupa agar mampumemenuhi kebutuhan para lansia yang awam dengan teknologi digital,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Bali I Wayan Koster yang juga hadir dalam kesempatan tersebut berharap program ini dapat memberikan manfaat pada penduduk lansia. Lantaran menurutnya, isu-isu seputar kesulitan lansia dalam beradaptasi dengan dunia digital kerap diabaikan.

“Saya percaya bahwa program Tular Nalar dapat menjembatani jurang antara penduduk lanjut usia dan lingkungan modern masa kini, serta membantu mereka beradaptasi dengan transisi digital,” jelasnya.

Keikutsertaan Indonesia dalam Upaya WHO Memerangi Hoaks di Tengah Pandemi

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini