Benarkah Ikan Sapu-Sapu Jadi Hewan yang Paling Tahan Perubahan Iklim?

Benarkah Ikan Sapu-Sapu Jadi Hewan yang Paling Tahan Perubahan Iklim?
info gambar utama

Dampak dari perubahan iklim tidak hanya dirasakan bagi manusia, tapi juga makhluk hidup lain seperti hewan. Salah satu contoh dampak buruk yang dimaksud adalah tingginya tingkat dan jumlah hewan yang terancam punah.

Di sisi lain, ada sejumlah penelitian yang menyebut jika perubahan iklim dan kondisi bumi yang terjadi dari masa ke masa telah ‘memaksa’ sejumlah hewan untuk mengalami evolusi. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk pertahanan berupa penyesuaian dengan perubahan alam yang terjadi.

Bersamaan dengan itu, ada juga penelitian yang mengungkap bahwa sejumlah hewan pada dasarnya sudah memiliki kemampuan untuk hidup di kondisi lingkungan yang ekstrem, bahkan jika terjadi perubahan iklim, salah satunya ikan sapu-sapu.

Memang terdengar masuk akal, karena di Indonesia ikan sapu-sapu dikenal sebagai jenis hewan air yang tahan banting. Hal tersebut lantaran habitatnya yang biasa ditemui pada sungai yang tercemar.

Benarkah ikan sapu-sapu bisa tahan dari kerusakan lingkungan dan ancaman besar perubahan iklim?

Benarkah Berang-Berang Jadi Salah Satu Hewan yang Berperan Menekan Perubahan Iklim?

Ikan invasif di Indonesia

Ikan Sapu-Sapu | Joan Carles Juarez/Shutterstock
info gambar

Meski banyak dan umum dijumpai di Indonesia, faktanya ikan sapu-sapu bukanlah hewan air asli Indonesia. Mereka secara alami berhabitat di kawasan Amerika Selatan, lebih tepatnya ditemui secara alami di kawasan perairan Amazon dan Suriname.

Memiliki nama latin Hypostomus Plecostomus, ikan sapu-sapu secara global juga dikenal dengan nama suckermouth fish. Hal tersebut lantaran mereka memiliki kebiasaan menghisap makanan lewat keberadaan mulut yang unik.

Fakta lainnya, di Indonesia hewan satu ini bersifat invasif. Karena memiliki karakter hidup di air tawar, keberadaannya banyak ditemukan di sungai, danau, atau rawa-rawa dan dipastikan jika ada jenis ikan sapu-sapu di sungai tertentu, makan akan jarang bahkan nyaris tidak ada ikan jenis lain di sungai yang sama.

Secara umum ikan sapu-sapu berukuran panjang sekitar 40-50 sentimeter. Ciri yang paling khas dari ikan satu ini adalah warna sisiknya yang hitam dan abu-abu, kadang disertai dengan pola bergaris berwarna cokelat.

Perlu diketahui, bahwa ikan ini adalah pemakan segala. Tak heran jika di Indonesia, ikan ini dikenal dengan nama sapu-sapu karena kerap ‘membersihkan’ dan memakan apapun yang ada di dasar sungai, meski sebenarnya di habitat aslinya mereka biasa memakan alga.

Ikan Tapah, Hewan Air Tawar Raksasa yang Sering Diburu untuk Konsumsi

Tahan lingkungan ekstrem tapi tetap bisa mati

Ikan sapu-sapu yang mati | Dennis Derby/Flickr
info gambar

Klaim yang menyebut bahwa ikan sapu-sapu tahan terhadap perubahan iklim adalah karena ketahanan mereka yang bisa hidup di sungai bahkan meski tercemar sekalipun. Bukan tanpa alasan, ternyata mereka termasuk ikan yang dapat bertahan hidup di lingkungan dengan kadar oksigen sangat rendah.

Ikan sapu-sapu juga dapat tinggal di air tawar dengan suhu ekstrem entah dalam kondisi suhu yang sangat dingin, atau pada sungai yang mengering sekalipun. Terlebih pada wilayah sungai Jakarta misalnya, ikan sapu-sapu juga dapat hidup dengan baik di perairan kotor dan berlumpur.

Fakta menarik lainnya, tak hanya melalui insang ikan sapu-sapu juga bernapas melalui kulit. Bukan cuma itu, mereka disebut mampu bertahan hidup sampai 30 jam tanpa air, karena memiliki kemampuan menyimpan oksigen di dalam perutnya.

Hal lain yang membuat ikan sapu-sapu bersifat invasif adalah karena kemampuan reproduksinya yang tinggi. Sebagai gambaran, dalam kondisi hidup di lingkungan ekstrem saja, ikan sapu-sapu tetap bisa bertelur hingga sebanyak 300 butir. Ragam kemampuan bertahan hidup di kondisi ekstrem ini yang membuat ikan sapu-sapu diklaim mampu bertahan hidup dalam situasi perubahan iklim.

Di sisi lain meski disebut sebagai ikan yang tahan banting, nyatanya ikan sapu-sapu juga bisa mati dengan cara tak terduga. Contohnya beberapa waktu lalu, saat fenomena tak terduga terjadi berupa kematian ribuan ekor ikan sapu-sapu yang mengambang di salah satu wilayah sungai Jakarta.

Fenomena kematian ribuan ekor ikan sapu-sapu ini terjadi di bulan Juli 2022. Setelah diselidiki, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengungkap jika penyebab kematian massal ikan sapu-sapu tersebut berasal dari aktivitas domestik yang tidak biasa.

Adapun aktivitas domestik yang dimaksud adalah pembuangan limbah dan meningkatnya intensitas pencemaran air yang terjadi.

Kejadian tersebut sedikit menyimpulkan bahwa sekuat apapun hewan memiliki daya bertahan hidup, jika pencemaran dan kerusakan lingkungan yang terjadi sangat parah pada akhirnya akan berakhir mati.

Perubahan Iklim di Depan Mata, Kita Bisa Apa?

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini